Apa Itu Pubertas dan Kenapa Perubahan Emosi Remaja Bisa Terjadi?
Pubertas adalah proses perubahan dari masa anak-anak menuju masa remaja dan dewasa, sedangkan perubahan emosi saat pubertas terjadi karena hormon, otak, tubuh, dan kehidupan sosial remaja sedang berkembang secara bersamaan. Ketika kamu merasa hari ini sangat bersemangat, lalu beberapa jam kemudian jadi mudah kesal atau sedih tanpa alasan yang jelas, atau kamu mulai lebih sering overthinking, lebih sensitif terhadap komentar teman, dan merasa suasana hati berubah lebih cepat dibanding dulu, ini adalah salah satu bagian dari pubertas.
Masa pubertas merupakan salah satu fase paling penting dalam kehidupan remaja. Di periode ini, tubuh mulai mengalami berbagai perubahan fisik yang terlihat maupun tidak terlihat. Pada saat yang sama, otak juga sedang berkembang, cara berpikir menjadi lebih kompleks, dan hubungan sosial mulai terasa semakin penting. Semua perubahan tersebut dapat memengaruhi bagaimana kamu memahami diri sendiri, mengelola emosi, dan berinteraksi dengan orang lain.
Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa, menjelaskan bahwa perubahan emosi remaja yang terjadi selama pubertas merupakan bagian alami dari proses tumbuh kembang remaja. Ia menjelaskan bahwa banyak remaja mengira ada sesuatu yang salah dengan diri mereka ketika mulai lebih mudah marah, sedih, atau sensitif dibanding sebelumnya. Padahal, tubuh dan otak mereka sedang beradaptasi dengan berbagai perubahan baru yang terjadi secara bersamaan. Ia juga menekankan bahwa memahami emosi adalah keterampilan yang perlu dipelajari dan dilatih dari waktu ke waktu. Ketika remaja memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya, mereka cenderung lebih mampu menerima perubahan yang dialami. Karena itu, masa pubertas perlu dilihat sebagai proses pertumbuhan yang normal dan sehat, bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Di sini, akan dibahas apa itu pubertas dan kenapa perubahan emosi saat pubertas bisa muncul seiring kita merasakan perubahan pada tubuh kita, agar kamu bisa mengetahui bagaimana cara menghadapinya dengan sehat.
Daftar Isi
- Apa Itu Pubertas dan Kapan Remaja Mulai Mengalaminya? >
- Kenapa Pubertas Bisa Memengaruhi Emosi Remaja? >
- Apa Saja Perubahan Emosi yang Umum Dialami Remaja Saat Pubertas? >
- Apakah Mood Swing Saat Pubertas Itu Normal? >
- Kenapa Remaja Jadi Lebih Sensitif dan Mudah Tersinggung Saat Pubertas? >
- Bagaimana Pubertas Memengaruhi Kepercayaan Diri Remaja? >
- Bagaimana Cara Mengelola Perubahan Emosi Saat Pubertas? >
- Apa Peran Orang Tua dan Guru dalam Mendampingi Remaja Saat Pubertas? >
- FAQ Seputar Pubertas dan Perubahan Emosi Remaja >
- Kesimpulan >
Apa Itu Pubertas dan Kapan Remaja Mulai Mengalaminya?
Pubertas pada remaja adalah proses perkembangan biologis yang menandai perubahan dari masa anak-anak menuju masa remaja dan dewasa. Saat memasuki masa pubertas, tubuh mulai memproduksi hormon dalam jumlah yang lebih besar. Hormon-hormon inilah yang memicu berbagai perubahan fisik, emosional, dan sosial yang menjadi bagian dari pertumbuhan remaja.
Secara umum, pubertas biasanya dimulai pada:
| Kelompok | Rentang Usia Umum |
|---|---|
| Perempuan | 8โ13 tahun |
| Laki-laki | 9โ14 tahun |
Beberapa perubahan yang umum terjadi selama pubertas pada remaja antara lain:
- Pertumbuhan tinggi badan yang lebih cepat
- Perubahan bentuk tubuh
- Munculnya jerawat
- Perubahan suara pada laki-laki
- Mulainya menstruasi pada perempuan
- Tumbuhnya rambut di area tertentu
- Meningkatnya ketertarikan terhadap hubungan sosial dan pertemanan
Setiap remaja memiliki waktu perkembangan yang berbeda. Ada yang mengalami pubertas lebih awal, ada juga yang lebih lambat. Keduanya sama-sama normal dan tidak menentukan kualitas seseorang.
Kenapa Pubertas Bisa Memengaruhi Emosi Remaja?
Kenapa pubertas memengaruhi emosi remaja? Karena terjadi perubahan hormon dan perkembangan otak yang berpengaruh pada cara berpikir, merasakan, dan bereaksi terhadap berbagai situasi.
Saat tubuhmu berubah, otakmu juga sedang berkembang. Bagian otak yang berhubungan dengan emosi berkembang cukup pesat selama masa remaja. Sementara itu, bagian yang membantu mengendalikan impuls dan mengambil keputusan masih terus berkembang hingga usia dewasa.
Beberapa faktor yang memengaruhi perubahan emosi saat pubertas:
Seperti dijelaskan dalam artikel Understanding Puberty dari KidsHealth (Nemours), perubahan emosional saat pubertas dipengaruhi oleh hormon yang diproduksi otak, termasuk testosteron dan estrogen, yang secara langsung memengaruhi suasana hati, cara berpikir, dan cara remaja merespons situasi sosial di sekitarnya.
Apa Saja Perubahan Emosi yang Umum Dialami Remaja Saat Pubertas?
Remaja sering mengalami berbagai perubahan emosi remaja selama pubertas, mulai dari perubahan suasana hati hingga meningkatnya kebutuhan untuk dipahami dan diterima.
Kalau akhir-akhir ini kamu merasa lebih mudah tersinggung atau lebih sering memikirkan pendapat orang lain, itu adalah pengalaman yang cukup umum selama masa pubertas. Beberapa perubahan emosi saat pubertas yang sering terjadi antara lain:
- Mood lebih mudah berubah, karena tubuh sedang beradaptasi dengan perubahan hormon.
- Lebih sensitif terhadap komentar orang lain, terutama saat kamu sedang membangun kepercayaan diri.
- Lebih sering merasa malu atau canggung, khususnya ketika perubahan fisik mulai terlihat.
- Lebih banyak memikirkan pendapat teman sebaya, karena kebutuhan untuk diterima dalam lingkungan sosial meningkat.
- Muncul keinginan untuk lebih mandiri, sehingga terkadang terjadi perbedaan pendapat dengan orang tua.
- Mulai mencari identitas diri, termasuk memahami nilai, minat, dan tujuan hidup yang dirasa penting.
Perubahan-perubahan tersebut merupakan bagian yang sangat umum dalam perkembangan emosi remaja. Saat kamu memahami bahwa perubahan suasana hati, sensitivitas, atau keinginan untuk lebih mandiri adalah bagian dari proses bertumbuh, kamu akan lebih mudah menerima diri sendiri. Yang terpenting, kamu mulai belajar mengenali apa yang sedang kamu rasakan dan mencari cara yang sehat untuk mengelolanya.
Baca juga: Perkembangan Emosi Remaja: Memahami Perubahan di Masa Pubertas
Apakah Mood Swing Saat Pubertas Itu Normal?
Mood swing pada remaja merupakan salah satu pengalaman yang cukup umum terjadi selama masa pubertas dan biasanya berkaitan dengan perubahan biologis serta psikologis yang sedang berlangsung.
Pernah nggak kamu merasa sangat bersemangat saat berangkat sekolah, lalu tiba-tiba jadi kesal hanya karena hal kecil? Atau merasa baik-baik saja di pagi hari, lalu menjelang malam menjadi lebih sensitif? Situasi seperti itu sering disebut sebagai mood swing pada remaja. Mood swing dapat terlihat seperti:
- Tiba-tiba merasa sedih tanpa alasan yang jelas
- Mudah marah karena hal kecil
- Cepat berubah dari senang menjadi kesal
- Merasa sangat bersemangat pada satu waktu lalu kehilangan motivasi di waktu lain
Meski umum terjadi, kamu tetap perlu memperhatikan jika perubahan suasana hati berlangsung sangat lama, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau membuatmu kesulitan menjalani rutinitas. Seperti diulas dalam artikel blog Navigating the Middle School Emotional Maze dari Psychology Today (2024), remaja mengalami emosi yang jauh lebih intens dibanding anak-anak dan orang dewasa karena perubahan biologis di otak yang sedang berlangsung. Ekspresi emosi yang lebih kuat ini merupakan bagian normal dari perkembangan emosi remaja, namun penting untuk mengenali kapan perubahan emosi tersebut perlu mendapat perhatian lebih.
Jika kamu mulai mengenali pola perubahan emosimu, kamu juga akan lebih siap menghadapi situasi yang memicu stres atau rasa tidak nyaman. Jika perubahan mood terasa sangat mengganggu, berbicara dengan seseorang di Peluk Diri bisa menjadi langkah awal yang aman.
Kenapa Remaja Jadi Lebih Sensitif dan Mudah Tersinggung Saat Pubertas?
Remaja lebih sensitif saat pubertas karena mereka sedang belajar memahami diri sendiri sekaligus menghadapi banyak perubahan dalam waktu yang bersamaan.
Saat ini, kamu mungkin mulai lebih memperhatikan bagaimana orang lain melihat dirimu. Komentar yang dulu terasa biasa saja bisa terasa lebih mengganggu. Ada beberapa penyebabnya, mungkin kamu:
Catatan dari Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa: “Perasaan sensitif bukan berarti kamu lemah. Sering kali itu adalah tanda bahwa kamu sedang belajar memahami dirimu sendiri dengan lebih dalam.“
Bagaimana Pubertas Memengaruhi Kepercayaan Diri Remaja?
Pubertas dapat memengaruhi kepercayaan diri remaja karena perubahan fisik dan sosial sering membuat remaja mulai lebih memperhatikan bagaimana mereka dilihat oleh orang lain.
Ketika tubuh mulai berubah, banyak remaja mulai membandingkan dirinya dengan teman sebaya. Mungkin kamu pernah berpikir:
- Kenapa aku lebih pendek?
- Kenapa wajahku lebih berjerawat?
- Kenapa tubuhku berbeda dari teman-temanku?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sangat umum terjadi selama masa pubertas. Dan juga, beberapa faktor yang memengaruhi kepercayaan diri remaja:
- Perubahan bentuk tubuh
- Body image remaja
- Pengaruh media sosial
- Perbandingan sosial dengan teman sebaya
- Pengalaman diterima atau ditolak dalam lingkungan sosial
Penting untuk diingat bahwa setiap orang memiliki proses pertumbuhan yang berbeda. Kepercayaan diri remaja tidak dibangun dari penampilan fisik semata, melainkan juga dari bagaimana kamu menghargai kemampuan, usaha, dan karakter yang kamu miliki. Semakin kamu fokus pada perkembangan diri sendiri, semakin kecil pengaruh perbandingan sosial terhadap cara kamu memandang dirimu.
Baca juga: Gender Identity pada Remaja dan Pentingnya Memahami Perkembangan Diri Sendiri
Bagaimana Cara Mengelola Perubahan Emosi Saat Pubertas?
Perubahan emosi saat pubertas dapat dikelola dengan mengenali perasaan sendiri, membangun kebiasaan sehat, dan mencari dukungan ketika diperlukan.
Kalau kamu sedang merasa emosimu naik turun, ada beberapa hal yang bisa membantu. Tujuannya bukan untuk menghilangkan semua emosi, melainkan membantu kamu memahami dan mengelolanya dengan lebih sehat.
- Mengenali dan memberi nama pada emosi yang dirasakan
Cobalah berhenti sejenak dan tanyakan pada diri sendiri apa yang sebenarnya sedang kamu rasakan. Semakin kamu memahami emosimu, semakin mudah mengelolanya. - Menulis jurnal harian
Menuliskan pikiran dan perasaan dapat membantu mengurangi beban yang tersimpan di dalam kepala serta membuatmu lebih memahami diri sendiri. - Berolahraga secara rutin
Aktivitas fisik membantu tubuh melepaskan hormon yang dapat memperbaiki suasana hati dan mengurangi stres. - Menjaga pola tidur yang cukup
Kurang tidur sering membuat emosi menjadi lebih sensitif dan sulit dikendalikan. - Mengurangi waktu layar berlebihan
Terlalu lama menggunakan media sosial dapat meningkatkan perbandingan sosial dan membuat pikiran lebih mudah lelah. - Mengembangkan hobi yang disukai
Aktivitas yang menyenangkan dapat menjadi cara sehat untuk menyalurkan energi dan emosi. - Berbicara dengan orang yang dipercaya
Menceritakan apa yang kamu rasakan kepada teman, orang tua, guru, atau konselor sering kali membuat masalah terasa lebih ringan. Kamu juga bisa memanfaatkan layanan konseling online sebagai ruang aman untuk bercerita dan mendapatkan dukungan profesional.
Ketika kamu mulai mencoba langkah-langkah sederhana secara konsisten, kemampuan regulasi emosi akan berkembang secara bertahap. Semakin sering kamu melatihnya, semakin mudah juga menghadapi tantangan emosional yang muncul selama masa pubertas. Seperti dijelaskan dalam artikel The Link Between Hormones and Mental Health dari Verywell Mind, hormon memiliki peran besar dalam mengatur suasana hati dan emosi, dan kebiasaan sehat seperti olahraga, tidur cukup, serta dukungan sosial dapat membantu menjaga keseimbangan hormonal yang berdampak positif pada kondisi emosional.
Catatan dari Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa: “Kamu tidak harus langsung memiliki semua jawaban tentang dirimu sendiri. Bertumbuh adalah proses, dan setiap proses membutuhkan waktu.“
Apa Peran Orang Tua dan Guru dalam Mendampingi Remaja Saat Pubertas?
Orang tua dan guru berperan penting dalam membantu menjaga kesehatan mental remaja dan membuat remaja memahami perubahan yang mereka alami untuk memberikan dukungan emosional yang sehat.
Banyak remaja sebenarnya ingin didengarkan. Mereka hanya sering kesulitan menemukan cara untuk memulai percakapan. Beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua dan guru antara lain:
Dukungan dari orang tua, guru, maupun orang dewasa terpercaya dapat memberikan rasa aman ketika kamu sedang menghadapi berbagai perubahan. Kehadiran mereka tidak selalu harus berupa solusi untuk setiap masalah. Terkadang, memiliki seseorang yang mau mendengarkan dan memahami apa yang sedang kamu rasakan sudah menjadi bantuan yang sangat berarti selama masa pubertas.
FAQ Seputar Pubertas dan Perubahan Emosi Remaja
Kesimpulan: Perubahan Emosi Saat Pubertas Adalah Hal yang Normal dan Bisa Dikelola
Perubahan emosi saat pubertas merupakan bagian alami dari proses tumbuh kembang remaja yang dapat dipahami dan dikelola dengan dukungan serta kebiasaan yang sehat.
Yang perlu kamu ingat, kamu tidak sedang mengalami semua ini sendirian. Jutaan remaja di seluruh dunia juga sedang melalui proses yang sama. Dengan memahami apa itu pubertas, belajar mengenali emosi, serta mencari dukungan saat dibutuhkan, kamu dapat menjalani masa pubertas dengan lebih tenang dan percaya diri.
Kalau akhir-akhir ini kamu merasa bingung dengan perubahan emosi remaja yang sedang terjadi, lebih sensitif dari biasanya, atau kesulitan memahami apa yang sedang kamu rasakan, Peluk Diri menyediakan ruang aman untuk bercerita. Terkadang, satu percakapan yang hangat bisa membantu kamu merasa lebih dipahami dan lebih tenang dalam menjalani proses bertumbuh. Ceritakan kisahmu pada aplikasi konsultasi psikologi Peluk Diri dan temukan solusi yang selama ini kamu cari.
Kunjungi juga laman resmi Layanan Konseling Online dan homepage resmi pelukdiri.com. Yuk, bercerita sekarang!
Tentang Peninjau

Artikel ini disusun berdasarkan riset dan referensi terpercaya Peluk Diri. Seluruh artikel telah ditinjau oleh Kodariyah Nurhayat, S.Psi., M.Si., salah satu tim pakar Peluk Diri dengan latar belakang bidang psikologi dan kesehatan mental remaja.
Tentang Peluk Diri

Peluk Diri adalah platform kesehatan mental remaja di bawah PT Kita Orang Biasa yang memiliki konselor sebaya dan para psikolog profesional. Peluk Diri berfokus menyediakan dukungan emosional, edukasi psikologis, dan ruang bercerita bagi remaja usia 13โ18 tahun.