Mengapa Multitasking Bisa Mengganggu Fokus dan Kesehatan Mental Remaja?
Multitasking sering dianggap sebagai kemampuan yang membuat pekerjaan selesai lebih cepat. Faktanya, otak remaja lebih sering berpindah dari satu tugas ke tugas lain daripada benar-benar mengerjakan semuanya secara bersamaan. Akibatnya, fokus belajar menjadi mudah terganggu, energi mental lebih cepat habis, dan rasa stres bisa meningkat.
Menurut Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa, kebiasaan seperti ini membuat otak sulit menikmati proses belajar secara utuh karena perhatian terus terpecah ke banyak arah. Melatih fokus adalah salah satu bentuk merawat kesehatan mental yang sering tidak disadari.
Di artikel ini, kamu akan mempelajari bagaimana multitasking memengaruhi otak, dampaknya terhadap kesehatan mental remaja, dan cara melatih fokus kamu.
Daftar Isi
- Apa yang Terjadi pada Otak Saat Kamu Melakukan Multitasking? >
- Apa Dampak Multitasking terhadap Kesehatan Mental Remaja? >
- Bagaimana Cara Melatih Fokus di Tengah Banyak Gangguan? >
- Kapan Sulit Fokus Perlu Mendapatkan Perhatian Lebih? >
- FAQ Multitasking pada Remaja >
- Kesimpulan >
Apa yang Terjadi pada Otak Saat Kamu Melakukan Multitasking?
Saat kamu mencoba mengerjakan beberapa hal sekaligus, otak sebenarnya tidak melakukan semuanya dalam waktu bersamaan. Otak akan melakukan task switching, yaitu berpindah sangat cepat dari satu tugas ke tugas lain.
Beberapa hal yang terjadi ketika kamu terbiasa multitasking adalah:
Catatan dari Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa: “Kemampuan fokus adalah keterampilan yang perlu dilatih. Semakin sering perhatian berpindah, semakin sulit otak mempertahankan konsentrasi dalam waktu yang lama.”
Apa Dampak Multitasking terhadap Kesehatan Mental Remaja?
Jika menjadi kebiasaan setiap hari, bahaya multitasking bisa mulai memengaruhi kesehatan mental dan kemampuan belajar.
| Dampak | Penjelasan |
|---|---|
| Sulit fokus | Perhatian terus berpindah sehingga konsentrasi mudah buyar. |
| Overthinking | Pikiran penuh karena banyak informasi diproses bersamaan. |
| Stres meningkat | Otak bekerja lebih keras untuk berganti fokus secara terus-menerus. |
| Produktivitas menurun | Tugas membutuhkan waktu lebih lama untuk diselesaikan. |
| Kualitas belajar menurun | Informasi menjadi lebih sulit dipahami dan diingat. |
Kalau kamu sering merasa belajar selama dua jam tetapi hasilnya tidak maksimal, bisa jadi penyebabnya karena terlalu banyak distraksi. Kebiasaan membuka media sosial, mengecek notifikasi, atau berpindah aplikasi membuat konsentrasi remaja semakin sulit dipertahankan.
Bagaimana Cara Melatih Fokus di Tengah Banyak Gangguan?
Coba beberapa langkah berikut.
- Kerjakan satu tugas dalam satu waktu (single-tasking). Selesaikan satu pekerjaan sebelum berpindah ke tugas berikutnya.
- Matikan notifikasi yang tidak penting. Semakin sedikit gangguan, semakin mudah otak mempertahankan fokus.
- Gunakan teknik Pomodoro. Belajar selama 25 menit, lalu istirahat selama 5 menit agar energi mental tetap terjaga.
- Pisahkan waktu belajar dan waktu bermain media sosial. Beri batas yang jelas supaya perhatianmu tidak terus berpindah.
- Istirahat yang cukup. Tidur yang berkualitas membantu otak memulihkan kemampuan berkonsentrasi.
Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa pernah menyampaikan: “Fokus bukan berarti memaksakan diri belajar tanpa henti. Memberikan waktu istirahat yang cukup juga merupakan bagian dari menjaga performa otak.“
Menurut UNICEF Parenting, membangun rutinitas yang sehat, mengurangi distraksi, dan menjaga keseimbangan antara belajar serta waktu istirahat dapat membantu remaja menghadapi tekanan sehari-hari dengan lebih baik.
Kapan Sulit Fokus Perlu Mendapatkan Perhatian Lebih?
Pertimbangkan untuk berbicara dengan orang tua, guru, konselor, atau tenaga profesional apabila:
Informasi dari Healthline juga menjelaskan bahwa kesulitan berkonsentrasi yang berlangsung lama dapat menjadi salah satu tanda bahwa seseorang membutuhkan evaluasi dan dukungan lebih lanjut.
FAQ Multitasking pada Remaja
Kesimpulan
Multitasking membuat otak lebih sering melakukan task switching, sehingga fokus belajar, produktivitas, dan kesehatan mental remaja dapat ikut terpengaruh. Melatih kebiasaan single-tasking, mengurangi distraksi, dan memberi waktu istirahat yang cukup dapat membantu otak bekerja lebih optimal sekaligus mengurangi stres dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Yuk, Bangun Kebiasaan yang Lebih Sehat Bersama Peluk Diri
Kalau kamu sering merasa kewalahan karena tugas menumpuk, sulit fokus, atau pikiran terasa penuh setiap hari, kami di Peluk Diri siap menemanimu. Melalui aplikasi Peluk Diri, kamu bisa bercerita dengan teman sebaya yang siap mendengarkan tanpa menghakimi, sehingga kamu dapat menemukan cara yang lebih sehat untuk menjaga fokus dan kesehatan mentalmu.
Lihat juga laman resmi layanan konseling online dari Peluk Diri dan mulai bercerita sekarang juga!
Tentang Peninjau

Artikel ini disusun berdasarkan riset dan referensi terpercaya Peluk Diri. Seluruh artikel telah ditinjau oleh Kodariyah Nurhayat, S.Psi., M.Si., salah satu tim pakar Peluk Diri dengan latar belakang bidang psikologi dan kesehatan mental remaja.
Tentang Peluk Diri

Peluk Diri adalah platform kesehatan mental remaja di bawah PT Kita Orang Biasa yang memiliki konselor sebaya dan para psikolog profesional. Peluk Diri berfokus menyediakan dukungan emosional, edukasi psikologis, dan ruang bercerita bagi remaja usia 13โ18 tahun.