Self Care dan Safe Love: Kaitan Kesehatan Reproduksi dan Kesehatan Mental Remaja

Kesehatan reproduksi dan kesehatan mental remaja ternyata saling berkaitan erat, tapi topik ini masih dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka, termasuk di kalangan remaja sendiri.

Peluk Diri melihat pentingnya membahas kedua isu ini secara bersamaan, karena masalah pada satu sisi seringkali memengaruhi sisi lainnya, sementara banyak remaja belum tahu ke mana harus mencari bantuan yang tepat.

Berdasarkan penelitian Kelompok Peneliti Muda yang melibatkan Forum Anak Nasional dan Children & Youth Advisory Network, remaja berisiko mengalami masalah kesehatan reproduksi dan kesehatan mental, namun pengetahuan mereka mengenai kedua hal ini masih sangat minim (Yayasan Kesehatan Perempuan, 2023).

Di artikel ini, kamu akan mempelajari kenapa kesehatan reproduksi masih jadi topik tabu, kaitannya dengan kesehatan mental, ciri hubungan sehat dan toxic, serta kapan perlu mencari bantuan profesional.

Daftar Isi

Kenapa Kesehatan Reproduksi Masih Jadi Topik Tabu bagi Remaja?

Selama ini, remaja memahami kesehatan reproduksi sebatas yang berkaitan dengan fisik, seperti pubertas dan menstruasi. Sumber informasi yang mereka akses lewat media digital pun belum inklusif dan belum didukung pendampingan profesional, sementara program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) belum banyak diketahui dan diakses.

Penelitian tersebut menemukan remaja perempuan cenderung memiliki lebih banyak pengalaman terkait kesehatan reproduksi, tapi tetap menganggapnya tabu untuk dibicarakan. Sementara remaja laki-laki justru sungkan membahasnya, dengan pemahaman yang lebih terbatas dibandingkan perempuan.

Bagaimana Kaitan Kesehatan Reproduksi dengan Kesehatan Mental Remaja?

Data Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey mencatat 34,9 persen atau 15,5 juta remaja mengalami masalah kesehatan mental, tapi hanya 2,6 persen yang mengakses layanan konseling. Minimnya pengetahuan kesehatan reproduksi turut membuat remaja rentan terkena penyakit menular seksual, kekerasan seksual, serta kehamilan yang tidak diinginkan, yang pada akhirnya dapat memicu tekanan psikologis lebih lanjut.

Studi yang sama menemukan bahwa cara mencari bantuan untuk mendukung kesehatan mental menjadi topik yang paling rendah dipahami remaja. Hanya 54 persen responden yang mengetahui cara mengakses layanan dukungan kesehatan mental, artinya hampir separuh remaja tidak tahu harus ke mana jika mengalami gangguan mental.

Apa Ciri Hubungan yang Sehat dan yang Toxic pada Remaja?

“Toxic relationship itu ada tanda-tandanya. Dimulai dari perasaan bersalah, konflik tanpa solusi, dan kehilangan independensi,” kata psikolog klinis Fakultas Psikologi UGM, Restu Tri Handoyo, Ph.D. (Lintang, 2024). Berikut ciri yang membedakan keduanya.

  • Hubungan sehat: saling menghormati, mendukung, dan menjaga keseimbangan antara kedua pihak.
  • Hubungan sehat: memberi ruang untuk tumbuh, percaya, dan tetap mandiri di luar hubungan.
  • Hubungan toxic: diwarnai perasaan bersalah yang muncul terus-menerus tanpa alasan jelas.
  • Hubungan toxic: konflik berulang tanpa penyelesaian yang jelas.
  • Hubungan toxic: kehilangan independensi karena selalu dikontrol atau dibatasi pasangan.

Relasi yang sehat sangat mendukung kesejahteraan mental karena memberikan dukungan emosional dan mendorong pertumbuhan, sementara terjebak dalam hubungan toxic bisa berdampak buruk, seperti rendahnya rasa percaya diri, depresi, hingga isolasi sosial.

Kapan Remaja Perlu Berani Bilang ‘Tidak’ dan Mencari Bantuan Profesional?

Media sosial kerap menggambarkan hubungan toksik secara romantis, terutama lewat manipulasi yang dibungkus seolah bentuk perhatian, sehingga remaja perlu meningkatkan literasi digital agar tidak terjebak dalam pola relasi yang tidak sehat. Berani bilang tidak terhadap tekanan, baik dalam hubungan romantis maupun terkait tubuh sendiri, adalah bagian penting dari menjaga kesehatan reproduksi dan mental sekaligus.

Remaja perlu segera mencari bantuan profesional, baik konselor, psikolog, maupun layanan kesehatan reproduksi, jika mengalami tanda-tanda berikut.

  • Merasa bersalah tanpa alasan yang jelas setelah berinteraksi dengan pasangan.
  • Kehilangan kemandirian karena selalu diatur atau dikontrol oleh pasangan.
  • Mendapat tekanan untuk melakukan sesuatu di luar keinginan sendiri, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan tubuh.
  • Merasa cemas berkepanjangan terkait kesehatan reproduksi atau hubungan yang sedang dijalani.

FAQ Kesehatan Reproduksi dan Kesehatan Mental Remaja

  • Berapa banyak remaja yang mengalami masalah kesehatan mental tapi tidak mengakses layanan konseling?
    Data Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey mencatat 34,9 persen atau 15,5 juta remaja mengalami masalah kesehatan mental, tapi hanya 2,6 persen yang mengakses layanan konseling.
  • Apa saja tanda hubungan toxic pada remaja?
    Hubungan toxic ditandai dengan perasaan bersalah yang muncul terus-menerus tanpa alasan jelas, konflik berulang tanpa penyelesaian yang jelas, dan kehilangan independensi karena selalu dikontrol atau dibatasi pasangan.

Kesimpulan

Kesehatan reproduksi dan kesehatan mental remaja adalah dua sisi yang saling terkait, tapi keduanya masih sering dibicarakan secara terpisah, bahkan dianggap tabu. Memahami ciri hubungan yang sehat, berani menolak tekanan, serta tahu kemana mencari bantuan adalah langkah penting supaya remaja bisa menjalani self care dan safe love secara utuh, baik dari sisi tubuh maupun pikiran.

Yuk, Cerita Bersama Peluk Diri
Kalau kamu bingung soal kesehatan reproduksi, sedang berada dalam hubungan yang terasa tidak sehat, atau butuh teman bicara soal apa pun yang kamu rasakan, kamu nggak perlu menghadapinya sendirian. Kunjungi layanan konseling online remaja dari Peluk Diri untuk bercerita dengan aman. Kunjungi juga Peluk Diri untuk kenalan lebih jauh dengan layanan kami, atau unduh aplikasi layanan konseling remaja Peluk Diri supaya lebih mudah bercerita kapan pun kamu butuh.

Referensi


Tentang Peninjau


Tentang Peluk Diri