Apa Itu “Social Jet Lag” dan Kenapa Bisa Buat Remaja Makin Cemas?

Sebuah tinjauan studi baru dari University of Southampton, Inggris, menemukan bahwa remaja dengan jadwal tidur yang tidak konsisten antara hari sekolah dan akhir pekan, kondisi yang disebut peneliti sebagai “social jet lag”, cenderung lebih rentan mengalami gejala kecemasan.

Menurut Peluk Diri, temuan ini relevan untuk disadari orang tua maupun remaja sendiri, karena kebiasaan begadang di akhir pekan untuk ‘membalas’ jam tidur yang hilang selama hari sekolah ternyata bukan solusi yang benar-benar menyehatkan, dan justru bisa memperberat tekanan emosional yang sudah dirasakan remaja.

Daftar Isi

Apa Itu “Social Jet Lag” pada Remaja?

“Social jet lag” adalah istilah yang digunakan peneliti untuk menggambarkan selisih antara jadwal tidur-bangun remaja pada hari sekolah dan hari libur akhir pekan, mirip dengan efek jet lag yang biasa dialami seseorang setelah berpindah zona waktu, meski penyebabnya bukan perjalanan jarak jauh, melainkan tuntutan jadwal sosial sehari-hari.

Pola ini muncul karena banyak remaja berusaha membayar utang tidur yang menumpuk selama hari sekolah dengan tidur lebih larut dan bangun lebih siang saat akhir pekan, sehingga jadwal tidurnya justru semakin jauh berbeda dari hari-hari biasa.

Apa Temuan Utama dari Tinjauan Studi Ini?

Tinjauan yang dilakukan tim peneliti dari University of Southampton ini merangkum sejumlah studi sebelumnya untuk melihat kaitan antara social jet lag dan kecemasan pada remaja. Beberapa temuan utamanya adalah:

  • Tinjauan ini mencakup 12 studi dengan total lebih dari 230.000 partisipan remaja.
  • Remaja dengan tingkat social jet lag yang lebih tinggi cenderung lebih sering melaporkan gejala kecemasan yang lebih tinggi pula.
  • Hubungan ini tampak seperti lingkaran yang saling memperkuat, karena tingkat kecemasan yang lebih tinggi juga diketahui memprediksi social jet lag yang makin besar.
  • Para peneliti menegaskan bahwa temuan ini baru menunjukkan keterkaitan (asosiasi), bukan hubungan sebab-akibat yang sudah terbukti secara pasti.

Sebagai konteks, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan secara global sekitar 4,4% remaja usia 10-14 tahun dan 5,5% remaja usia 15-19 tahun mengalami gangguan kecemasan, menjadikan kecemasan sebagai salah satu masalah kesehatan mental paling umum pada kelompok usia ini (Iraola Iribarren, 2026).

Kenapa Remaja Rentan Mengalami Social Jet Lag?

Ada beberapa faktor yang membuat remaja secara khusus lebih rentan mengalami social jet lag dibanding kelompok usia lain, di antaranya:

  • Pergeseran jam biologis saat pubertas: jam internal tubuh remaja secara alami bergeser mundur beberapa jam, sehingga mereka baru merasa mengantuk lebih larut dan idealnya juga bangun lebih siang.
  • Jam masuk sekolah yang tetap pagi: meski jam biologis remaja bergeser mundur, jadwal sekolah tetap menuntut mereka bangun pagi, sehingga jam tidur pada hari sekolah menjadi lebih pendek.
  • Kebiasaan bersosialisasi secara daring di malam hari: aktivitas seperti mengobrol atau scrolling media sosial hingga larut malam turut mengambil jatah waktu tidur remaja, terutama di hari-hari sekolah.
  • Kebiasaan ‘balas dendam tidur’ di akhir pekan: upaya membayar kekurangan tidur dengan bangun jauh lebih siang saat akhir pekan justru memperlebar selisih jadwal tidur, sehingga social jet lag makin parah.

Sarah Chellappa, salah satu peneliti dari University of Southampton, menjelaskan bahwa jam internal tubuh remaja umumnya bergeser mundur beberapa jam saat memasuki masa pubertas, sementara di sisi lain remaja tetap dihadapkan pada tuntutan jam sekolah yang pagi dan kebiasaan bersosialisasi secara daring, sehingga keduanya berbenturan dan menciptakan kondisi yang rentan memicu social jet lag (Iraola Iribarren, 2026).

Apa Rekomendasi Konkret untuk Mengatasi Social Jet Lag Remaja?

Berdasarkan temuan ini, para peneliti merekomendasikan beberapa langkah konkret yang bisa membantu mengurangi dampak social jet lag pada kesehatan mental remaja, yaitu:

  1. Menjaga jadwal tidur dan bangun tetap konsisten sepanjang minggu, termasuk saat akhir pekan, alih-alih membiarkan jadwalnya melebar jauh berbeda dari hari sekolah.
  2. Mengurangi screen time di malam hari, terutama kebiasaan bersosialisasi secara daring hingga larut yang bisa menggeser jam tidur semakin mundur.
  3. Mempertimbangkan penyesuaian jam masuk sekolah tingkat menengah agar lebih selaras dengan kebutuhan biologis remaja yang cenderung baru mengantuk lebih larut.

Hannah Ravenhall, penulis utama studi ini, menekankan pentingnya melihat lebih jauh dari sekadar apa yang bisa dilakukan individu sendiri, karena sistem sosial yang lebih luas, seperti kebijakan jam sekolah, turut memengaruhi pola tidur remaja secara keseluruhan. Perubahan struktural kecil semacam ini dinilai bisa memberi dampak lebih besar bagi kesehatan mental remaja dibanding sekadar menyuruh mereka tidur lebih awal (Iraola Iribarren, 2026).

Kesimpulan

Tinjauan studi dari University of Southampton ini menunjukkan bahwa social jet lag, yaitu selisih jadwal tidur antara hari sekolah dan akhir pekan, berkaitan dengan gejala kecemasan yang lebih tinggi pada remaja. Menjaga jadwal tidur tetap konsisten, mengurangi screen time malam hari, hingga mempertimbangkan penyesuaian jam sekolah bisa menjadi langkah awal yang membantu remaja menjaga kesehatan mentalnya, tanpa harus menunggu masalah tidur ini berkembang menjadi tekanan psikologis yang lebih berat.

Kalau kamu butuh teman bicara soal apa yang kamu rasakan, kamu tidak perlu menghadapinya sendirian. Coba aplikasi konseling online Peluk Diri untuk bercerita dengan aman, atau akses layanan konseling online Peluk Diri untuk pendampingan yang lebih terarah. Kunjungi juga Peluk Diri untuk informasi kesehatan mental remaja lainnya.

Referensi


Tentang Peninjau


Tentang Peluk Diri