Bagaimana FOMO Memengaruhi Kesehatan Mental Remaja?

FOMO (Fear of Missing Out) adalah rasa takut tertinggal pengalaman, informasi, atau aktivitas yang dilakukan orang lain. Tanpa disadari, FOMO dapat memicu kecemasan, kebiasaan membandingkan diri, hingga membuat kamu sulit menikmati kehidupanmu sendiri.

Menurut Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa, media sosial dapat menjadi ruang yang positif jika digunakan secara sadar dan seimbang. Tantangan terbesar remaja saat ini bukan sekadar banyaknya informasi, melainkan kemampuan mengelola emosi ketika melihat kehidupan orang lain di layar. Mengenali FOMO sejak dini membantu remaja membangun hubungan yang lebih sehat dengan media sosial dan dirinya sendiri.

Di artikel ini, kamu akan mempelajari apa itu FOMO, dampaknya terhadap kesehatan mental, serta cara mengatasinya.

Daftar Isi

Mengapa Remaja Lebih Mudah Mengalami FOMO?

Beberapa penyebab FOMO pada remaja antara lain:

  • Penggunaan media sosial dalam waktu lama.
  • Kebiasaan membandingkan kehidupan diri dengan orang lain.
  • Keinginan untuk selalu mengikuti tren terbaru.
  • Takut kehilangan momen bersama teman.
  • Algoritma media sosial yang terus menampilkan aktivitas orang lain.

Semakin sering kamu melihat unggahan orang lain, semakin besar kemungkinan muncul pikiran seperti, “Kenapa hidup mereka terlihat lebih menyenangkan daripada hidupku?”

Catatan dari Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa: “Perasaan tertinggal sering kali muncul karena kita membandingkan kehidupan nyata dengan potongan cerita yang dibagikan di media sosial. Padahal, setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda.”

Apa Dampak FOMO terhadap Kesehatan Mental Remaja?

Perasaan FOMO yang terus berulang dapat memengaruhi kondisi emosional maupun kebiasaan sehari-hari.

Dampak PsikologisPenjelasan Singkat
KecemasanTakut melewatkan informasi atau aktivitas teman
OverthinkingTerlalu banyak memikirkan kehidupan orang lain
Self-esteem menurunMerasa diri kurang menarik atau kurang berhasil
Sulit fokusTerus mengecek notifikasi dan media sosial
Kelelahan mentalPikiran sulit beristirahat karena selalu ingin mengikuti perkembangan terbaru

Selain dampak di atas, FOMO juga dapat membuat kamu:

  • Lebih sering membuka media sosial tanpa tujuan.
  • Sulit menikmati aktivitas yang sedang dilakukan.
  • Tidur lebih larut karena terus scrolling.
  • Merasa kecewa terhadap pencapaian diri sendiri.

Menurut American Psychological Association (APA), penggunaan media sosial yang tidak dikelola dengan baik berkaitan dengan meningkatnya stres, kecemasan, dan kesejahteraan psikologis yang lebih rendah pada sebagian remaja.

Bagaimana Cara Mengatasi FOMO?

Beberapa langkah yang bisa dicoba:

  1. Sadari bahwa media sosial hanya menampilkan sebagian kecil kehidupan seseorang.
  2. Kurangi kebiasaan membandingkan dirimu dengan orang lain.
  3. Batasi screen time sesuai kebutuhan.
  4. Fokus pada kegiatan yang membuatmu berkembang, seperti belajar, berolahraga, membaca, atau menjalani hobi.
  5. Luangkan waktu berkumpul langsung bersama keluarga dan teman.
  6. Latih rasa syukur dengan menuliskan hal-hal baik yang kamu alami setiap hari.

Semakin kamu fokus pada pengalamanmu sendiri, semakin kecil pengaruh FOMO terhadap suasana hati.

Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa pernah menyampaikan, “Kebahagiaan tidak ditentukan oleh seberapa banyak pengalaman yang kamu lihat di media sosial, melainkan oleh kemampuanmu menikmati perjalanan hidupmu sendiri.“

Kapan FOMO Perlu Diwaspadai?

Sesekali merasa takut tertinggal adalah hal yang wajar. Namun, kamu perlu lebih memperhatikan kondisimu jika:

  1. Sulit berhenti membuka media sosial.
  2. Merasa cemas saat jauh dari ponsel.
  3. Sulit tidur karena terus mengikuti update terbaru.
  4. Prestasi belajar mulai menurun.
  5. Perasaan sedih, minder, atau cemas berlangsung dalam waktu lama.

Menurut penelitian dari Belgia dalam NIH, dari 1000 subjek, ditemukan 6,5% yang menggunakan SNS secara berlebihan memiliki stabilitas emosional dan keramahan yang lebih rendah, kesadaran, kontrol yang dirasakan, dan harga diri yang dapat menjadi faktor risiko gangguan afektif.

Jika kondisi tersebut mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, berbicara dengan orang tua, guru, konselor, atau psikolog dapat menjadi langkah yang baik.

FAQ

  • Apakah FOMO normal dialami remaja?
    Ya. Banyak remaja pernah mengalami Fear of Missing Out, terutama karena penggunaan media sosial yang tinggi. Yang terpenting adalah mengetahui cara mengelolanya.
  • Apa bedanya FOMO dengan rasa penasaran biasa?
    Rasa penasaran biasanya bersifat sementara. FOMO disertai kecemasan, keinginan terus mengikuti aktivitas orang lain, dan sulit merasa puas dengan kehidupan sendiri.
  • Apakah mengurangi media sosial bisa membantu mengatasi FOMO?
    Bisa. Mengurangi waktu menggunakan media sosial dan memilih konten yang lebih positif dapat membantu menurunkan rasa cemas serta mengurangi kebiasaan membandingkan diri.

Kesimpulan

FOMO merupakan pengalaman yang cukup umum pada remaja di era digital. Jika tidak dikelola, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental remaja, mulai dari kecemasan, overthinking, hingga menurunnya self-esteem. Dengan memahami penyebabnya, membatasi screen time, dan lebih fokus pada kehidupanmu sendiri, kamu dapat membangun hubungan yang lebih sehat dengan media sosial.

Yuk, Cerita Bareng Peluk Diri
Kalau kamu sering merasa takut tertinggal, terus membandingkan diri dengan orang lain, atau media sosial membuatmu mudah cemas, kami di Peluk Diri siap menemanimu. Melalui aplikasi konsultasi psikologi Peluk Diri, kamu bisa bercerita dengan teman sebaya yang siap mendengarkan tanpa menghakimi, sehingga kamu tidak perlu menghadapi semuanya sendirian.

Kunjungi juga laman layanan konseling online dari Peluk Diri dan kuatkan tekadmu untuk bercerita dengan Peluk Diri.


Tentang Peninjau


Tentang Peluk Diri