Kenapa Remaja Laki-laki Lebih Sulit Mengakui Depresi? Ini Penjelasannya
Remaja laki-laki lebih sulit mengakui depresi karena norma maskulinitas yang menganggap menunjukkan emosi sebagai tanda kelemahan, sehingga banyak yang memilih memendam perasaannya sendiri daripada terbuka.
Menurut Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa, kamu mungkin pernah mendengar ungkapan ‘anak laki-laki tidak boleh menangis’ sejak kecil, tanpa pernah benar-benar mempertanyakan apakah itu benar. Pesan seperti ini membentuk pola pikir bahwa mengakui perasaan sedih sama dengan mengakui kelemahan. Ia menekankan bahwa emosi bukan soal gender, dan setiap orang berhak merasakan serta mengungkapkan perasaannya.
Di artikel ini, kamu akan mempelajari penyebab, dampak, serta cara mengatasi stigma ini.
Daftar Isi
- Apa Peran Norma Maskulinitas dalam Membentuk Pola Ini? >
- Kenapa Gejala Depresi pada Laki-laki Sering Terlihat Berbeda? >
- Mengapa Banyak Remaja Laki-laki Menunda Mencari Bantuan? >
- Bagaimana Cara Remaja Laki-laki Mulai Terbuka soal Perasaannya? >
- Bagaimana Cara Mendukung Teman Laki-laki yang Mungkin Depresi? >
- FAQ Remaja Laki-laki dan Depresi >
- Kesimpulan >
Apa Peran Norma Maskulinitas dalam Membentuk Pola Ini?
Norma maskulinitas berperan besar dalam membentuk pola pikir bahwa laki-laki harus selalu terlihat kuat dan mandiri di mata orang lain.
Menurut studi dalam BMC Psychology (2021), kepatuhan terhadap norma maskulinitas berkaitan dengan sikap yang kurang positif terhadap upaya mencari bantuan, termasuk untuk masalah kesehatan mental seperti depresi. Norma ini sering diwariskan sejak kecil lewat kalimat sederhana yang tampak biasa, namun secara perlahan membentuk keyakinan bahwa emosi harus disembunyikan.
Studi yang sama juga menemukan bahwa gejala depresi pada laki-laki terkadang tidak dikenali dengan baik karena tidak muncul dalam bentuk yang biasa diasosiasikan dengan kesedihan.
Kenapa Gejala Depresi pada Laki-laki Sering Terlihat Berbeda?
Gejala depresi pada laki-laki sering terlihat berbeda karena cenderung muncul dalam bentuk perilaku, bukan ungkapan perasaan secara langsung kepada orang lain.
Mengapa Banyak Remaja Laki-laki Menunda Mencari Bantuan?
Banyak remaja laki-laki menunda mencari bantuan karena khawatir dianggap lemah atau tidak sesuai dengan gambaran maskulinitas yang mereka pelajari sejak kecil dari lingkungan sekitarnya.
Studi kualitatif yang dipublikasikan di PMC menemukan bahwa norma maskulinitas yang terinternalisasi memengaruhi keputusan laki-laki untuk mencari bantuan sebelum akhirnya menjalani pengobatan untuk depresi.
Akibatnya, banyak remaja laki-laki baru mencari bantuan setelah kondisinya sudah cukup berat, bukan sejak gejala awal muncul.
Studi ini juga menemukan bahwa laki-laki cenderung khawatir dianggap konyol atau mengalami isolasi sosial jika tidak sesuai dengan norma maskulinitas yang mereka pahami sejak kecil.
Bagaimana Cara Remaja Laki-laki Mulai Terbuka soal Perasaannya?
Remaja laki-laki bisa mulai terbuka soal perasaannya lewat langkah kecil yang tidak harus langsung besar atau dramatis dilakukan.
Catatan dari Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa: “Keberanian sejati justru terlihat saat kamu mau mengakui bahwa kamu sedang butuh bantuan.“
Bagaimana Cara Mendukung Teman Laki-laki yang Mungkin Depresi?
Mendukung teman laki-laki yang mungkin depresi perlu dilakukan dengan cara yang tidak membuatnya merasa dihakimi atau dipojokkan.
- Perhatikan perubahan perilaku, bukan hanya menunggu dia bercerita sedih.
- Ajak bicara secara santai tanpa menekannya untuk langsung terbuka.
- Tunjukkan bahwa kamu tetap menghargainya meski dia belum siap bercerita banyak.
Catatan dari Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa: “Kadang, laki-laki butuh diajak bicara lewat aktivitas santai dulu, baru perlahan bisa membuka perasaannya.“
FAQ Remaja Laki-laki dan Depresi
Kesimpulan
Remaja laki-laki lebih sulit mengakui depresi karena norma maskulinitas yang menganggap emosi sebagai tanda kelemahan sejak usia dini dan diwariskan turun-temurun. Dengan memahami akar masalah ini dan berani mengambil langkah kecil untuk terbuka, kamu bisa membantu mengubah pola pikir ini menjadi lebih sehat bagi dirimu maupun generasi berikutnya.
Yuk, Cerita Bersama Peluk Diri
Kalau kamu sebagai remaja laki-laki merasa sulit mengakui perasaanmu sendiri dan butuh teman untuk bercerita, kamu tidak perlu menghadapinya sendirian.
Kamu bisa unduh aplikasi konseling online Peluk Diri untuk bercerita dengan teman sebaya yang siap mendengarkan tanpa menghakimi.
Jika kamu butuh pendampingan lebih terarah memahami perasaanmu, kamu juga bisa mengakses layanan konseling online Peluk Diri untuk mendapat dukungan yang lebih sesuai kebutuhanmu. Kunjungi juga Peluk Diri untuk informasi kesehatan mental remaja lainnya.
Yuk, bercerita sekarang!
Tentang Peninjau

Artikel ini disusun berdasarkan riset dan referensi terpercaya Peluk Diri. Seluruh artikel telah ditinjau oleh Kodariyah Nurhayat, S.Psi., M.Si., salah satu tim pakar Peluk Diri dengan latar belakang bidang psikologi dan kesehatan mental remaja.
Tentang Peluk Diri

Peluk Diri adalah platform kesehatan mental remaja di bawah PT Kita Orang Biasa yang memiliki konselor sebaya dan para psikolog profesional. Peluk Diri berfokus menyediakan dukungan emosional, edukasi psikologis, dan ruang bercerita bagi remaja usia 13โ18 tahun.
