Hampir 10 Persen Anak dan Remaja Indonesia Terindikasi Gangguan Mental

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digagas Kementerian Kesehatan menemukan indikasi gangguan kesehatan jiwa pada hampir 10 persen anak dan remaja Indonesia yang telah menjalani skrining sepanjang 2026.

Sebagai platform yang setiap hari mendengarkan cerita remaja, Peluk Diri melihat temuan ini sebagai pengingat penting bahwa masalah kesehatan mental remaja bukan lagi isu yang bisa dianggap kecil. Data resmi seperti ini membuktikan bahwa banyak remaja sebenarnya sedang berjuang diam-diam, dan mereka butuh ruang aman untuk bercerita sebelum masalahnya membesar.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa dari sekitar 7 juta anak yang telah mengikuti skrining, Kemenkes mendeteksi gejala kecemasan dan depresi dalam jumlah yang signifikan. Temuan ini menjadi salah satu sorotan utama dari hasil skrining kesehatan nasional tahun ini, khususnya pada kelompok usia sekolah menengah.

Daftar Isi

Apa Temuan Utama dari Program Cek Kesehatan Gratis?

Program CKG mencatat sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan (anxiety disorder), sementara 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi (depression disorder). “Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali,” ujar Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes, Jakarta (Kemkes.go.id, 2026).

Hingga 5 Juli 2026, sebanyak 59,6 juta masyarakat Indonesia telah mengikuti pemeriksaan melalui Program CKG. Kemenkes menargetkan 130 juta peserta hingga akhir tahun. Data ini menjadi dasar penting bagi pemerintah untuk menyusun kebijakan kesehatan, termasuk kesehatan mental remaja, yang lebih tepat sasaran (Suara.com, 2026).

Kenapa Remaja Usia SMP dan SMA Lebih Rentan?

Skrining CKG menunjukkan pola kesehatan yang berbeda di setiap fase usia. Pada kelompok anak sekolah dasar, karies gigi masih menjadi temuan terbanyak. Namun, memasuki usia SMP, gangguan kesehatan jiwa seperti kecemasan dan depresi mulai meningkat, dan pola ini semakin menguat pada kelompok remaja SMA.

Menurut Kemenkes, peningkatan tekanan akademik, tuntutan sosial, dan perubahan emosi di masa pubertas menjadi beberapa faktor yang membuat remaja usia sekolah menengah lebih rentan mengalami gangguan kesehatan mental dibandingkan kelompok usia lain. Kondisi ini diperkuat oleh temuan lain, yaitu peningkatan tekanan darah dan risiko gizi lebih pada kelompok remaja, yang menunjukkan bahwa tekanan hidup remaja masa kini memengaruhi kesehatan secara menyeluruh, bukan hanya secara psikologis.

Apa Kata Data Nasional Lain soal Kesehatan Mental Remaja?

Temuan CKG ini sejalan dengan hasil Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), survei kesehatan mental nasional pertama yang mengukur remaja usia 10 hingga 17 tahun di Indonesia. Survei ini mencatat bahwa satu dari tiga remaja Indonesia, atau sekitar 15,5 juta remaja, memiliki setidaknya satu masalah kesehatan mental. Kecemasan menjadi masalah yang paling banyak dialami, dengan angka lebih tinggi pada remaja perempuan (28,2 persen) dibandingkan remaja laki-laki (25,4 persen) (Universitas Gadjah Mada, 2026).

Sayangnya, I-NAMHS juga menemukan bahwa hanya 2,6 persen remaja dengan masalah kesehatan mental yang benar-benar menggunakan layanan konseling atau fasilitas kesehatan mental dalam setahun terakhir. Artinya, banyak remaja yang sebenarnya butuh bantuan, tapi belum menemukan atau berani mengambil langkah untuk mencarinya.

Apa Langkah yang Bisa Diambil Sekarang?

Kemenkes menegaskan bahwa tujuan program CKG bukan hanya menemukan masalah kesehatan lebih dini, tapi juga memastikan masyarakat mendapatkan penanganan yang tepat. “Semakin banyak masyarakat yang melakukan cek kesehatan, semakin dini penyakit dapat ditemukan dan diobati. Tujuan kita bukan sekadar mengetahui siapa yang sakit, tetapi memastikan masyarakat tetap sehat dan produktif,” kata Budi.

Bagi remaja, langkah ini bisa dimulai dari hal sederhana, yaitu mau terbuka bercerita tentang apa yang dirasakan. Bagi orang tua dan guru, data ini menjadi pengingat untuk lebih peka terhadap perubahan emosi anak dan remaja di sekitar, serta tidak ragu mengarahkan mereka ke layanan konseling bila diperlukan.

Kesimpulan

Data terbaru dari Program Cek Kesehatan Gratis Kemenkes dan survei I-NAMHS sama-sama menunjukkan bahwa gangguan kesehatan mental pada remaja Indonesia bukan masalah kecil. Kecemasan dan depresi ditemukan dalam jumlah yang signifikan, terutama pada usia SMP dan SMA, sementara akses ke layanan konseling masih sangat rendah. Semakin cepat masalah ini dikenali dan direspons, semakin besar peluang remaja untuk pulih dan tumbuh sehat secara mental.

Kalau kamu atau orang terdekatmu sedang merasa cemas, tertekan, atau butuh teman bicara, kamu nggak harus menghadapinya sendirian. oba layanan konseling online remaja dari Peluk Diri, tempat kamu bisa bercerita dengan aman dan tanpa dihakimi.

Kunjungi juga Peluk Diri untuk kenalan lebih jauh dengan layanan kami, atau langsung unduh aplikasi layanan konseling remaja Peluk Diri supaya lebih mudah bercerita kapan pun kamu butuh.


Tentang Peninjau


Tentang Peluk Diri

Referensi