Apa Itu P3LP, Program Kemenkes yang Melatih Pelajar Jadi “First Aider” Psikologis?
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggelar Bedah Buku “Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) bagi First Aiders di Sekolah” dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional ke-42 Tahun 2026, sebagai upaya memperkuat literasi kesehatan jiwa di jenjang SMP dan SMA se-Jakarta.
Peluk Diri melihat program seperti ini penting karena remaja sering kali lebih dulu bercerita kepada teman sebaya dibanding orang dewasa di sekitarnya, sehingga membekali pelajar dengan keterampilan dasar mendampingi temannya bisa menjadi jembatan sebelum bantuan profesional benar-benar dibutuhkan secara mendalam.
Sekretaris Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), Etik Retno Wiyati, menjelaskan bahwa remaja yang mengalami krisis biasanya lebih dulu mencari sahabatnya sendiri, bukan orang dewasa di sekitarnya. “Melalui buku saku ini, Kemenkes membekali kalian menjadi first aider, pemberi pertolongan pertama pada luka psikologis,” jelasnya (Fitriyani, 2026).
Daftar Isi
- Apa Itu Program P3LP yang Diperkenalkan Kemenkes Ini? >
- Kenapa First Aider Ini Dilatih Khusus untuk Jenjang SMP dan SMA? >
- Apa Bedanya First Aider dengan Konselor atau Psikolog Sekolah? >
- Bagaimana Cara Sekolah Bisa Mengikuti Program P3LP Ini? >
- Kesimpulan >
Apa Itu Program P3LP yang Diperkenalkan Kemenkes Ini?
Program P3LP adalah panduan bantuan psikologis paling dasar yang bertujuan mengurangi tekanan berlebih pada orang yang baru mengalami kejadian berat, disampaikan lewat buku saku yang bisa dipelajari siswa, guru, maupun masyarakat umum secara luas.
Kegiatan bedah buku ini merupakan hasil kolaborasi antara Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Direktorat Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), serta Dharma Wanita Persatuan Kemenkes, sebagai bagian dari upaya memperluas edukasi kesehatan jiwa di lingkungan sekolah secara berkelanjutan.
Psikolog klinis Sulastry Pardede menjelaskan tiga prinsip utama dalam tindakan P3LP yang bisa dipelajari siapa saja, yaitu Look (memperhatikan), Listen (mendengarkan), dan Link (menghubungkan ke bantuan profesional jika diperlukan) (Fitriyani, 2026).
Kenapa First Aider Ini Dilatih Khusus untuk Jenjang SMP dan SMA?
First aider ini dilatih khusus untuk jenjang SMP dan SMA karena masa remaja adalah periode transisi penuh perubahan fisik, emosional, dan sosial yang membuat mereka sangat rentan terhadap masalah kesehatan jiwa dibanding kelompok usia lain di sekitarnya.
- Sebanyak 1 dari 8 anak di dunia diperkirakan mengalami gangguan jiwa.
- Sebanyak 1 dari 3 remaja di Indonesia menghadapi masalah kesehatan mental yang signifikan.
- Masa transisi remaja membuat mereka lebih rentan menghadapi tekanan dari berbagai arah sekaligus dalam waktu bersamaan.
Data ini dipaparkan langsung oleh Sulastry dalam kegiatan yang turut dihadiri 150 peserta dari perwakilan OSIS, UKS, guru, dan kepala sekolah jenjang SMP-SMA se-Jakarta. Kegiatan ini juga menjadi rangkaian peringatan Hari Anak Nasional dengan tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”, yang menekankan pentingnya investasi pada generasi muda yang sehat mental (Fitriyani, 2026).
Apa Bedanya First Aider dengan Konselor atau Psikolog Sekolah?
First aider berbeda dengan konselor atau psikolog sekolah karena perannya terbatas pada dukungan awal yang sederhana dan cepat, bukan penanganan psikologis yang mendalam dan berkelanjutan terhadap kondisi kesehatan mental seseorang.
Menurut ReachLink (2026), pertolongan pertama psikologis bukanlah terapi, konseling, atau psychological debriefing, sehingga tidak memerlukan lisensi klinis dan tidak bertujuan mendiagnosis maupun mengobati kondisi kesehatan mental seseorang. Perannya adalah mengisi celah penting antara tidak melakukan apa-apa dan penanganan klinis formal, lewat bantuan praktis, kenyamanan emosional, dan penghubung ke sumber bantuan yang tepat sesuai kebutuhan.
Bagaimana Cara Sekolah Bisa Mengikuti Program P3LP Ini?
Sekolah bisa mengikuti program P3LP dengan berkoordinasi bersama Puskesmas setempat atau dinas kesehatan daerah, yang selama ini menjadi mitra pelaksana fasilitasi first aider di berbagai sekolah, sesuai kesiapan dan kebutuhan masing-masing wilayah tempat sekolah berada.
- Menghubungi Puskesmas wilayah untuk menjajaki fasilitasi pelatihan first aider P3LP di sekolah.
- Melibatkan pengurus OSIS dan UKS sebagai perwakilan siswa yang akan dilatih lebih dulu.
- Mengikutsertakan guru dan kepala sekolah agar pemahaman P3LP tidak hanya berhenti pada siswa saja.
Selain pelatihan, Kemenkes turut menggelar Lomba Poster P3LP tingkat SMP dan SMA se-Jabodetabek dengan 129 karya peserta, sebagai cara lain memperkenalkan topik ini secara kreatif kepada pelajar (Fitriyani, 2026).
Kesimpulan
Program P3LP dari Kemenkes menunjukkan bahwa pelajar bisa dibekali keterampilan dasar untuk saling mendampingi saat menghadapi tekanan psikologis, tanpa harus menggantikan peran konselor atau psikolog profesional di sekolah maupun di luar sekolah. Dengan prinsip Look, Listen, dan Link, first aider diharapkan menjadi jembatan awal yang membuat teman-temannya merasa didengar sebelum benar-benar membutuhkan bantuan yang lebih mendalam dari tenaga profesional.
Kalau kamu butuh teman bicara soal apa yang kamu rasakan, kamu tidak perlu menghadapinya sendirian. Coba aplikasi konseling online Peluk Diri untuk bercerita dengan aman, atau akses layanan konseling online Peluk Diri untuk pendampingan yang lebih terarah. Kunjungi juga Peluk Diri untuk informasi kesehatan mental remaja lainnya.
Referensi
- Fitriyani, N. (2026, 24 Juli). Kemenkes bekali pelajar jadi first aider kesehatan jiwa lewat bedah buku P3LP. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/kemenkes-bekali-pelajar-jadi-first-aider-kesehatan-jiwa-lewat-bedah-buku-p3lp
- ReachLink. (2026, 8 Mei). Psychological first aid: 7 protocols for crisis response. https://www.reachlink.com/advice/general/psychological-first-aid
Tentang Peninjau

Artikel ini disusun berdasarkan riset dan referensi terpercaya Peluk Diri. Seluruh artikel telah ditinjau oleh Kodariyah Nurhayat, S.Psi., M.Si., salah satu tim pakar Peluk Diri dengan latar belakang bidang psikologi dan kesehatan mental remaja.
Tentang Peluk Diri

Peluk Diri adalah platform kesehatan mental remaja di bawah PT Kita Orang Biasa yang memiliki konselor sebaya dan para psikolog profesional. Peluk Diri berfokus menyediakan dukungan emosional, edukasi psikologis, dan ruang bercerita bagi remaja usia 13–18 tahun.
