Pelecehan Seksual terhadap Korban Laki-Laki Kerap Diremehkan, Ini Dampaknya
Kasus pelecehan seksual dengan korban laki-laki masih sering dianggap remeh atau bahkan dijadikan bahan candaan di masyarakat, padahal dampaknya bagi kesehatan mental korban sama seriusnya dengan korban perempuan, dan sama-sama membutuhkan penanganan yang serius pula.
Peluk Diri melihat isu ini sebagai pengingat penting bahwa empati terhadap korban kekerasan seksual seharusnya tidak pernah bergantung pada gender. Stigma yang membuat korban laki-laki enggan bercerita justru bisa memperberat trauma yang mereka pendam sendirian, tanpa dukungan yang sebenarnya mereka butuhkan untuk pulih.
“Empati untuk korban kekerasan seksual seharusnya tidak pernah bergantung pada siapa yang mengalaminya, laki-laki atau perempuan. Semua korban berhak didengar, dipercaya, dan dibela,” tulis Muhammad Rifky Muzayyin dalam opininya di TIMES Indonesia (2026).
Daftar Isi
- Seberapa Besar Kasus Pelecehan Seksual pada Laki-Laki di Indonesia? >
- Kenapa Korban Laki-Laki Lebih Sulit Bicara Saat Mengalami Pelecehan? >
- Apa Dampak Psikologis dari Stigma ‘Harus Kuat’ pada Laki-Laki? >
- Bagaimana Keluarga dan Lingkungan Bisa Mendukung Korban Tanpa Menghakimi? >
- Kesimpulan >
Seberapa Besar Kasus Pelecehan Seksual pada Laki-Laki di Indonesia?
Kasus pelecehan seksual pada laki-laki di Indonesia ternyata jauh lebih besar dari yang selama ini dibayangkan masyarakat, berdasarkan sejumlah data berikut.
- Sebanyak 33 dari 100 korban kekerasan seksual adalah laki-laki, menurut studi IJRS dan INFID tahun 2020.
- Satu dari sepuluh laki-laki pernah mengalami kekerasan seksual dalam hidupnya, berdasarkan survei Koalisi Ruang Publik Aman tahun 2018 terhadap lebih dari 62 ribu orang.
- Sebanyak 60 persen korban kekerasan seksual pada anak adalah anak laki-laki, menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia tahun 2018.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa gambaran umum di masyarakat, yang cenderung membayangkan korban kekerasan seksual selalu perempuan, ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan.
Meski datanya cukup besar, kasus pelecehan seksual pada laki-laki jauh lebih jarang terdengar dibanding kasus pada perempuan, karena banyak korban laki-laki memilih diam dan memendam pengalamannya sendirian, bukan karena kasusnya memang jarang terjadi di sekitar kita.
Kenapa Korban Laki-Laki Lebih Sulit Bicara Saat Mengalami Pelecehan?
Korban laki-laki lebih sulit bicara saat mengalami pelecehan karena rasa malu, ketakutan tidak dipercaya, dan sistem hukum yang dulu belum sepenuhnya berpihak pada korban laki-laki, sehingga banyak yang akhirnya memilih diam.
- Rasa malu mengakui dirinya dilecehkan, apalagi jika pelakunya perempuan, karena takut dianggap lemah.
- Ketakutan tidak dipercaya, karena cerita mereka sering dianggap tidak serius atau bahkan ditertawakan.
- Aturan hukum yang dulu lebih membayangkan korban pelecehan seksual sebagai perempuan, sehingga kasus laki-laki lebih sulit diproses.
- Kekhawatiran dianggap gagal menjadi “laki-laki sejati” hanya karena mengaku pernah menjadi korban.
Keempat alasan ini saling berkaitan dengan budaya yang menuntut laki-laki harus selalu terlihat kuat dan tidak boleh menunjukkan kerentanan, yang sering disebut toxic masculinity.
Apa Dampak Psikologis dari Stigma ‘Harus Kuat’ pada Laki-Laki?
Stigma yang menuntut laki-laki harus selalu kuat bisa membuat korban merasa gagal memenuhi harapan sosial, sehingga mereka memilih menjauh dari orang-orang di sekitarnya alih-alih mencari dukungan yang sebenarnya mereka butuhkan.
Akibatnya, korban cenderung menutup diri, enggan bercerita, dan memendam trauma sendirian, padahal dukungan dari keluarga dan teman seharusnya membantu proses pemulihan. Tanpa ruang aman untuk bercerita, kondisi mental korban justru berisiko semakin memburuk seiring waktu, karena rasa terisolasi terus bertambah tanpa ada tempat yang benar-benar bisa dipercaya.
Bagaimana Keluarga dan Lingkungan Bisa Mendukung Korban Tanpa Menghakimi?
Keluarga dan lingkungan sekitar bisa mendukung korban tanpa menghakimi dengan memberi rasa percaya, bukan komentar sinis atau candaan, saat korban berani bercerita.
Dukungan yang tulus dari orang terdekat bisa menjadi langkah awal yang sangat berarti bagi proses pemulihan korban, apa pun gendernya.
Kesimpulan
Pelecehan seksual pada laki-laki bukan isu yang bisa diremehkan atau dijadikan bahan candaan, karena dampaknya terhadap kesehatan mental sama seriusnya dengan yang dialami korban perempuan. Stigma dan tuntutan untuk selalu terlihat kuat justru membuat banyak korban laki-laki memilih diam, sehingga dukungan tanpa menghakimi dari keluarga dan lingkungan sekitar menjadi kunci penting bagi proses pemulihan mereka. Perubahan cara pandang masyarakat, bukan hanya perbaikan aturan hukum, juga dibutuhkan agar korban laki-laki lebih berani bersuara.
Kalau kamu atau temanmu pernah mengalami pelecehan seksual dan butuh teman bicara, kamu tidak perlu menghadapinya sendirian, apa pun gendermu. Coba layanan konseling online dari Peluk Diri untuk bercerita dengan aman. Kunjungi juga Peluk Diri untuk kenalan lebih jauh dengan layanan kami, atau unduh aplikasi layanan konseling remaja Peluk Diri supaya lebih mudah bercerita kapan pun kamu butuh.
Referensi
- Muzayyin, M. R. (2026, 28 Juli). Pelecehan seksual terhadap pria yang diremehkan. TIMES Indonesia. https://timesindonesia.co.id/kopi-times-forum-mahasiswa/601047/pelecehan-seksual-terhadap-pria-yang-diremehkan
Tentang Peninjau

Artikel ini disusun berdasarkan riset dan referensi terpercaya Peluk Diri. Seluruh artikel telah ditinjau oleh Kodariyah Nurhayat, S.Psi., M.Si., salah satu tim pakar Peluk Diri dengan latar belakang bidang psikologi dan kesehatan mental remaja.
Tentang Peluk Diri

Peluk Diri adalah platform kesehatan mental remaja di bawah PT Kita Orang Biasa yang memiliki konselor sebaya dan para psikolog profesional. Peluk Diri berfokus menyediakan dukungan emosional, edukasi psikologis, dan ruang bercerita bagi remaja usia 13โ18 tahun.
