Hanya 10,4 Persen Remaja Depresi yang Berobat, Stigma Jadi Penghalang Terbesar
Data terbaru menunjukkan bahwa hanya 10,4 persen anak muda dengan depresi di Indonesia yang benar-benar mengakses pengobatan profesional, meski angka depresi remaja terus meningkat setiap tahunnya.
Peluk Diri melihat angka ini sebagai bukti nyata bahwa masalah utama remaja bukan cuma soal punya masalah kesehatan mental, tapi juga soal keberanian untuk mencari bantuan. Banyak remaja yang sebenarnya sudah lelah menahan beban sendirian, tapi memilih diam karena takut dicap “bermasalah” oleh lingkungan sekitarnya.
Berdasarkan data Global School-based Student Health Survey (GSHS) oleh WHO, angka percobaan bunuh diri pada pelajar usia 13-17 tahun naik hingga 167 persen, dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,4 persen pada 2023. Meski angkanya terus meningkat, stigma di masyarakat masih menjadi penghalang terbesar bagi remaja untuk mencari pertolongan.
Daftar Isi
- Kenapa Remaja Rentan Mengalami Depresi? >
- Kenapa Remaja Perempuan Lebih Rentan Depresi? >
- Kenapa Stigma Jadi Penghalang Terbesar untuk Berobat? >
- Apa Tanda Awal Depresi yang Perlu Diwaspadai? >
- Kesimpulan >
Kenapa Remaja Rentan Mengalami Depresi?
Psikiater dari Eka Hospital PIK, Marcella Oscar, menjelaskan bahwa kehidupan remaja dan mahasiswa yang terlalu berpusat pada kegiatan akademik menjadi salah satu pemicu utama burnout, gangguan kecemasan, gangguan tidur, hingga depresi. “Depresi merupakan masalah mental yang cukup sering terjadi pada remaja dan mahasiswa karena kehidupan mereka ada di sekitaran kehidupan akademik,” ujar Marcella (Suara.com, 2026).
Secara biologis, bagian otak remaja yang berfungsi untuk berpikir logis dan memecahkan masalah (prefrontal cortex) belum berkembang sempurna hingga usia 20-25 tahun, sementara pusat emosi (amygdala) bekerja lebih aktif. Kondisi ini membuat remaja cenderung mengambil keputusan yang reaktif dan impulsif saat menghadapi tekanan. Psikolog dari Universitas Pelita Harapan, Wiwit Puspitasari Dewi, menambahkan bahwa media sosial turut memperbesar risiko ini karena mendorong remaja membanding-bandingkan hidupnya dengan orang lain, ditambah ancaman cyberbullying yang terus meningkat di ruang digital.
Kenapa Remaja Perempuan Lebih Rentan Depresi?
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, kelompok perempuan lebih banyak mengalami depresi, yakni sebesar 2,8 persen, dibandingkan laki-laki yang hanya 1,1 persen. Perempuan berisiko mengalami depresi dua kali lebih besar dibandingkan laki-laki, terutama setelah memasuki masa pubertas.
Perubahan hormonal yang disertai tekanan lingkungan sosial dan hubungan dengan teman sebaya membuat perempuan lebih rentan terhadap dampak peristiwa negatif dalam hidup. Wiwit menjelaskan bahwa perempuan juga lebih rentan mengalami tekanan akibat ketimpangan gender, termasuk pelecehan dan kekerasan seksual seperti catcalling, yang turut memengaruhi kondisi kesehatan mentalnya.
Kenapa Stigma Jadi Penghalang Terbesar untuk Berobat?
Meski angka kasus tinggi, SKI 2023 mencatat hanya 10,4 persen anak muda dengan depresi yang mengakses pengobatan profesional. “Ada stigma di masyarakat, kalau ke psikolog atau ke psikiater langsung dicap ‘anak ini bermasalah’ jadi mudah di-judge atau dihakimi oleh orang-orang di sekitar,” ujar Marcella. Minimnya literasi kesehatan mental, kendala biaya, serta keterbatasan akses layanan publik juga menjadi hambatan tambahan bagi remaja untuk mendapatkan penanganan yang seharusnya.
Direktur Kesehatan Jiwa Kemenkes, dr. Imran Pambudi, menyampaikan bahwa WHO merekomendasikan tiga langkah untuk memutus rantai stigma, yaitu strategi edukasi untuk meluruskan kesalahpahaman, strategi kontak lewat interaksi langsung dengan orang yang memiliki kondisi kesehatan jiwa, dan strategi aksi berupa penolakan stigma secara formal. Penelitian menunjukkan bahwa kontak sosial langsung menjadi intervensi paling efektif untuk mengubah sikap masyarakat terhadap kesehatan jiwa (Kemkes.go.id, 2024).
Apa Tanda Awal Depresi yang Perlu Diwaspadai?
Depresi pada remaja bisa dikenali dari beberapa perubahan berikut.
Pada kondisi yang lebih serius, remaja mulai membicarakan topik seputar kematian atau menunjukkan perilaku menyakiti diri sendiri. Jika tanda-tanda ini muncul pada dirimu atau temanmu, penting untuk segera bercerita ke orang dewasa yang dipercaya atau konselor profesional, bukan memendamnya sendirian.
Kesimpulan
Angka depresi remaja Indonesia terus meningkat, tapi hanya sebagian kecil yang benar-benar mengakses bantuan profesional karena stigma masyarakat. Padahal, semakin cepat tanda-tanda depresi dikenali dan direspons dengan tepat, semakin besar peluang remaja untuk pulih. Mematahkan stigma dimulai dari keberanian untuk bercerita dan lingkungan yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.
Kalau kamu atau temanmu sedang merasa tertekan, sedih berkepanjangan, atau butuh teman bicara yang tidak menghakimi, kamu nggak perlu menghadapinya sendirian. Coba layanan konseling online remaja dari Peluk Diri untuk bercerita dengan aman. Kunjungi juga Peluk Diri untuk kenalan lebih jauh dengan layanan kami, atau unduh aplikasi layanan konseling remaja Peluk Diri supaya lebih mudah bercerita kapan pun kamu butuh.
Referensi
- Christina, A. (2026, 16 Juli). Tenggelam dalam tuntutan, terbungkam oleh stigma: Potret buram kesehatan mental remaja. Suara.com. https://yoursay.suara.com/health/2026/07/16/190509/tenggelam-dalam-tuntutan-terbungkam-oleh-stigma-potret-buram-kesehatan-mental-remaja
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024, 29 Oktober). Memutus rantai stigma kesehatan jiwa. https://kemkes.go.id/id/memutus-rantai-stigma-kesehatan-jiwa