Skrining Kesehatan Mental Remaja Tanpa Pendampingan, Psikolog UGM: ‘Itu Seperti PHP Saja’

Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat, menegaskan bahwa skrining kesehatan mental di sekolah maupun perguruan tinggi penting, tapi sama sekali tidak cukup apabila tidak disertai pendampingan setelahnya.

Peluk Diri sepakat dengan pandangan ini, karena selama ini banyak program deteksi dini kesehatan mental yang berhenti di tahap ‘menemukan masalah’, tanpa ada langkah lanjutan yang jelas bagi remaja yang ternyata membutuhkan bantuan.

“Screening efektif, tetapi tidak cukup. Hanya mengenali sakitnya tanpa menyediakan cara mengobatinya itu seperti PHP saja,” kata Rahmat (Grehenson, 2026).

Di artikel ini, kamu akan mempelajari seberapa besar masalah kesehatan mental remaja Indonesia saat ini, kenapa kritik terhadap program skrining pemerintah muncul, hingga contoh sistem pendampingan pasca-skrining yang sudah diterapkan UGM.

Daftar Isi

Seberapa Besar Masalah Kesehatan Mental Remaja Indonesia Saat Ini?

Berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, sebanyak 15,5 juta atau 34,9 persen remaja Indonesia pernah mengalami masalah kesehatan mental. Angka ini sejalan dengan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebut satu dari tujuh remaja usia 10-19 tahun di dunia hidup dengan gangguan kesehatan mental (Bella & Weadcaksana, 2026).

Rahmat menjelaskan bahwa angka 34,9 persen ini merupakan lifetime prevalence, yang berarti seseorang pernah mengalami masalah kesehatan mental setidaknya sekali selama masa remajanya, bukan berarti seluruh remaja mengalaminya secara bersamaan pada saat ini.

Kenapa Kritik Ini Muncul terhadap Program Skrining Pemerintah?

Rahmat mendukung langkah pemerintah menganjurkan skrining kesehatan mental di sekolah maupun perguruan tinggi. Namun, ia menegaskan skrining hanya berfungsi sebagai langkah awal untuk mengenali individu yang membutuhkan bantuan.

“Screening memang penting, tetapi tidak cukup. Setelah seseorang teridentifikasi membutuhkan bantuan, harus ada tindak lanjut agar penanganannya benar-benar efektif,” ujarnya (Tulung & Sidarto, 2026).

Tanpa sistem tindak lanjut yang jelas, hasil skrining berisiko hanya menjadi data yang tidak memberikan manfaat nyata bagi remaja yang sudah teridentifikasi membutuhkan bantuan, karena mereka tidak tahu harus melangkah ke mana setelahnya.

Bagaimana Contoh Sistem Pendampingan Pasca-Skrining di UGM?

UGM sendiri telah menerapkan sistem pendampingan berlapis bagi mahasiswanya, di antaranya sebagai berikut.

  • Unit Layanan Kesehatan Mental (ULKM) yang menindaklanjuti hasil skrining lewat pemantauan dan pendampingan oleh tenaga profesional.
  • Mental Health Emergency Response Lines untuk situasi darurat psikologis.
  • Program konseling berkelanjutan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing mahasiswa.
  • Teman sebaya kesehatan mental di tingkat fakultas yang berperan sebagai teman curhat awal sebelum dirujuk ke tenaga profesional.

Menurut Rahmat, sistem seperti ini memungkinkan mahasiswa memperoleh bantuan secara berkelanjutan, bukan sekadar mengetahui bahwa dirinya sedang mengalami masalah kesehatan mental tanpa tahu langkah selanjutnya.

Kenapa Sistem Serupa Perlu Diterapkan Lebih Luas di Sekolah?

Rahmat berharap agar sistem pendampingan pasca-skrining seperti yang diterapkan di UGM bisa direplikasi lebih luas, termasuk di tingkat sekolah menengah, supaya program deteksi dini kesehatan mental yang sudah digalakkan pemerintah benar-benar memberi dampak nyata bagi remaja, bukan hanya berhenti sebagai data statistik.

Ia juga mengingatkan remaja agar tidak merasa malu ketika mengalami masalah kesehatan mental. Mengakui kondisi yang sedang dihadapi dan berani mencari pertolongan merupakan langkah penting dalam proses pemulihan, bukan tanda kelemahan.

FAQ Skrining Kesehatan Mental Remaja

  • Apakah skrining kesehatan mental di sekolah sudah cukup untuk membantu remaja?
    Belum cukup. Menurut Rahmat Hidayat, skrining hanya berfungsi sebagai langkah awal untuk mengenali individu yang membutuhkan bantuan, dan harus disertai tindak lanjut agar penanganannya benar-benar efektif.
  • Apa contoh sistem pendampingan setelah skrining yang sudah diterapkan?
    UGM menerapkan sistem pendampingan berlapis, mencakup Unit Layanan Kesehatan Mental (ULKM), Mental Health Emergency Response Lines, program konseling berkelanjutan, serta teman sebaya kesehatan mental di tingkat fakultas.

Kesimpulan

Skrining kesehatan mental adalah langkah awal yang penting, tapi tidak akan berarti banyak tanpa sistem pendampingan yang jelas setelahnya. Contoh dari UGM menunjukkan bahwa pendampingan berkelanjutan bisa membuat hasil skrining benar-benar bermanfaat bagi remaja yang membutuhkan bantuan, dan sistem semacam ini penting untuk diperluas ke lebih banyak sekolah di Indonesia.

Kalau kamu pernah mengikuti skrining kesehatan mental tapi bingung harus melangkah ke mana selanjutnya, kamu nggak perlu menghadapinya sendirian. Coba layanan konseling online remaja dari Peluk Diri untuk bercerita dan mendapat pendampingan yang tepat. Kunjungi juga Peluk Diri untuk kenalan lebih jauh dengan layanan kami, atau unduh aplikasi layanan konseling remaja Peluk Diri supaya lebih mudah bercerita kapan pun kamu butuh.

Referensi


Tentang Peninjau


Tentang Peluk Diri