Studi Stanford: Label Peringatan Kesehatan Mental Terbukti Bisa Kurangi Screen Time Remaja
Sebuah studi baru dari Stanford Medicine menunjukkan bahwa label peringatan kesehatan pada media sosial, seperti peringatan soal dampak pada kesehatan mental, berpotensi mengurangi penggunaan media sosial pada remaja dan dewasa muda. Studi eksperimen daring yang melibatkan sekitar 1.000 remaja dan dewasa muda ini juga menemukan bahwa label peringatan mampu meningkatkan pengetahuan mereka soal risiko penggunaan media sosial.
Menurut Peluk Diri, temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa cara sederhana seperti pesan peringatan yang muncul di layar ternyata bisa membuat remaja lebih sadar akan dampak media sosial pada kondisi mentalnya, sesuatu yang selama ini sering luput dari perhatian di tengah kebiasaan scrolling yang serba cepat.
Daftar Isi
- Apa Itu Studi Stanford soal Label Peringatan Media Sosial Ini? >
- Bagaimana Metode Penelitian Ini Dilakukan? >
- Apa Temuan Utama dari Studi Ini? >
- Kenapa Temuan Ini Relevan untuk Wacana Kebijakan Label Peringatan di Indonesia? >
- Kesimpulan >
Apa Itu Studi Stanford soal Label Peringatan Media Sosial Ini?
Studi yang dipublikasikan secara daring pada 4 September 2026 di jurnal JAMA Health Forum ini terinspirasi dari seruan mantan Surgeon General Amerika Serikat, Vivek Murthy, pada 2024 yang mendorong penambahan label peringatan kesehatan pada media sosial, sama seperti yang sudah diterapkan pada produk tembakau, alkohol, dan produk berisiko lainnya.
Sejak seruan tersebut, empat negara bagian di Amerika Serikat, yaitu California, Colorado, Minnesota, dan New York, telah mengesahkan aturan yang mewajibkan label peringatan pada media sosial, dengan aturan di California dijadwalkan mulai berlaku efektif 1 Januari 2027. Studi ini dipimpin oleh Anna Grummon, PhD, asisten profesor pediatri di Stanford, bersama Thomas Robinson, MD, profesor kesehatan anak, sebagai penulis senior.
Bagaimana Metode Penelitian Ini Dilakukan?
Metode penelitian ini melibatkan:
- 1.012 partisipan muda
- Terdiri dari sekitar separuh remaja usia 13-17 tahun dan separuh dewasa muda usia 18-29 tahun
- Pengisian kuesioner daring berisi 15 variasi pesan, yaitu 14 pesan peringatan dan 1 pesan kontrol soal keselamatan sabuk pengaman yang tidak berkaitan dengan media sosial.
Pesan peringatan yang diuji mencakup enam topik kesehatan, yaitu:
- Kecanduan media sosial
- Citra tubuh negatif
- Gangguan tidur
- Depresi, kecemasan
- Dampak kesehatan mental secara umum
- Ditambah satu pesan soal media sosial yang belum terbukti aman bagi remaja, peringatan resmi yang berlaku di California, serta satu pesan yang menyarankan jeda screen time mirip fitur yang ada di TikTok.
Setiap pesan ditampilkan secara acak dalam format yang menyerupai tampilan di halaman Instagram, kemudian partisipan diminta menilai dua hal: seberapa besar pesan tersebut membuat mereka enggan menggunakan media sosial, dan seberapa besar pesan tersebut meningkatkan kesadaran mereka akan risiko penggunaan media sosial.
Apa Temuan Utama dari Studi Ini?
Seluruh pesan peringatan dinilai partisipan lebih efektif dibanding pesan kontrol soal sabuk pengaman, dan hampir semua pesan yang menyebutkan dampak kesehatan tertentu, kecuali peringatan soal kecanduan, juga dinilai lebih efektif dibanding pesan yang hanya menyarankan jeda screen time.
Pesan yang dinilai paling efektif adalah pesan soal dampak kesehatan mental secara umum, depresi, dan kecemasan. Menariknya, remaja dan dewasa muda memberikan respons yang cenderung serupa terhadap pesan-pesan ini, meski para peneliti sebelumnya menduga akan ada perbedaan cukup besar antara kedua kelompok usia tersebut.
Peringatan resmi yang berlaku di California juga dinilai cukup efektif, setara dengan peringatan kesehatan lain, meskipun redaksinya lebih panjang dan kompleks dibanding pesan-pesan lain yang diuji.
Anna Grummon, penulis utama studi ini, menyebut โdata kami menunjukkan bahwa peringatan-peringatan ini bisa berhasilโ, sehingga penting untuk memastikan pemilihan kata dalam pesan peringatan benar-benar tepat sasaran (Digitale, 2026).
Kenapa Temuan Ini Relevan untuk Wacana Kebijakan Label Peringatan di Indonesia?
Temuan ini relevan untuk wacana kebijakan label peringatan digital di Indonesia karena menunjukkan bahwa pendekatan sederhana seperti pesan peringatan berpotensi menjadi salah satu langkah awal yang terjangkau untuk membantu remaja lebih sadar akan risiko penggunaan media sosial berlebihan terhadap kesehatan mentalnya.
Setelah seruan Surgeon General pada 2024, koalisi lintas partai yang terdiri dari 42 jaksa agung negara bagian di Amerika Serikat turut mendorong Kongres untuk menerapkan aturan serupa di tingkat federal, sementara beberapa negara bagian lain seperti Texas, Ohio, dan Pennsylvania juga tengah mengajukan rancangan aturan yang sejenis.
Meski begitu, para peneliti menekankan bahwa temuan ini baru mengukur persepsi dan niat partisipan, sehingga langkah berikutnya adalah menguji secara lebih luas apakah label peringatan ini benar-benar mengubah perilaku penggunaan media sosial remaja secara nyata, bukan sekadar niat yang mereka laporkan sendiri (Digitale, 2026).
Kesimpulan
Studi Stanford Medicine ini menunjukkan bahwa label peringatan kesehatan, khususnya yang menyoroti dampak kesehatan mental, depresi, dan kecemasan, berpotensi membantu remaja dan dewasa muda mengurangi penggunaan media sosialnya. Meski masih perlu pengujian lebih lanjut untuk memastikan dampaknya pada perilaku nyata, temuan ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi wacana kebijakan serupa di berbagai negara, termasuk Indonesia, dalam upaya melindungi kesehatan mental remaja di ruang digital.
Kalau kamu butuh teman bicara soal apa yang kamu rasakan, kamu tidak perlu menghadapinya sendirian. Coba aplikasi konseling online Peluk Diri untuk bercerita dengan aman, atau akses layanan konseling online Peluk Diri untuk pendampingan yang lebih terarah. Kunjungi juga Peluk Diri untuk informasi kesehatan mental remaja lainnya.
Referensi
- Digitale, E. (2026, 4 September). Health warnings could reduce young peopleโs social media use, Stanford Medicine-led study finds. Stanford Medicine News Center. https://med.stanford.edu/news/all-news/2026/09/social-media-warnings.html
Tentang Peninjau

Artikel ini disusun berdasarkan riset dan referensi terpercaya Peluk Diri. Seluruh artikel telah ditinjau oleh Kodariyah Nurhayat, S.Psi., M.Si., salah satu tim pakar Peluk Diri dengan latar belakang bidang psikologi dan kesehatan mental remaja.
Tentang Peluk Diri

Peluk Diri adalah platform kesehatan mental remaja di bawah PT Kita Orang Biasa yang memiliki konselor sebaya dan para psikolog profesional. Peluk Diri berfokus menyediakan dukungan emosional, edukasi psikologis, dan ruang bercerita bagi remaja usia 13โ18 tahun.