Trauma Healing Anak Korban Gempa NTT: Kenapa Butuh Lebih dari Sekadar Bermain dan Bernyanyi

Ratusan anak penyintas gempa di Nusa Tenggara Timur masih menjalani proses pemulihan psikologis lewat kegiatan trauma healing, hampir sebulan setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026.

Peluk Diri melihat momen ini sebagai pengingat bahwa anak-anak korban bencana bukan cuma kehilangan rumah, tapi juga kehilangan rasa aman yang butuh waktu dan pendampingan tepat untuk dipulihkan, bukan sekadar dihibur sesaat lewat permainan.

Pusat Psikologi TNI (Puspsi TNI) memberikan pendampingan psikologis melalui kegiatan trauma healing kepada anak-anak penyintas gempa bumi di SDK Wancang, Desa Ladur, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, NTT, pada Jumat, 11 September 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemulihan pascabencana, khususnya untuk membantu anak-anak mengatasi rasa takut, kecemasan, dan dampak psikologis akibat gempa (Trismar, 2026).

Daftar Isi

Bagaimana Bentuk Pendampingan yang Diberikan kepada Anak-Anak?

Pendampingan psikologis di lokasi bencana biasanya dikemas dalam bentuk yang disesuaikan dengan kondisi dan usia anak.

  • Interaksi, permainan, dan berbagai aktivitas kelompok untuk memberi ruang bagi anak mengekspresikan perasaannya.
  • Sesi bercerita, bernyanyi, dan menggambar untuk membantu anak menyalurkan emosi yang belum tentu bisa mereka ungkapkan lewat kata-kata.
  • Layanan konseling oleh psikolog profesional, baik langsung di lapangan maupun secara daring.
  • Kolaborasi lintas pihak, mulai dari TNI, pemerintah desa, sekolah, yayasan pendidikan setempat, hingga Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) wilayah NTT.

Pendekatan semacam ini bertujuan membangun kembali rasa aman dan kepercayaan diri anak setelah mengalami bencana, sekaligus menjadi jembatan sebelum mereka mendapat penanganan lebih lanjut bila diperlukan.

Kenapa Trauma Healing Sesaat Saja Belum Cukup?

Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang diperoleh dari Dinas PPPA Manggarai Timur menunjukkan kompleksitas persoalan yang dihadapi anak-anak di lokasi pengungsian. Anak-anak di sejumlah posko disebut relatif lebih tenang pada pagi hari, tapi rasa takut kembali muncul ketika malam tiba. Mereka tidak hanya kehilangan rumah, tapi juga terputus dari sekolah, menghadapi keterbatasan layanan dasar, ancaman gempa susulan, serta perubahan mendadak dalam pola pengasuhan dan lingkungan sosial (Sinombor, 2026).

Menurut analisis tersebut, anak-anak di daerah bencana membutuhkan lebih dari sekadar makanan dan tempat berlindung. Mereka juga perlu lingkungan yang bisa memulihkan rasa aman, menjaga kedekatan dengan pengasuh, melindungi dari risiko kekerasan dan eksploitasi, serta memberi ruang untuk kembali bermain, belajar, dan menjalani keseharian secara bertahap.

Apa Itu ‘Ruang Aman’ dan Kenapa Berbeda dari Trauma Healing Biasa?

Ruang aman bukan sekadar tempat anak mengisi waktu, melainkan sarana untuk membantu mereka membangun kembali rasa aman setelah kehilangan akses terhadap sekolah, komunitas, dan ruang bermain. Ruang seperti ini idealnya dikelola oleh petugas yang memahami dukungan psikososial, risiko kekerasan, mekanisme penanganan, serta alur rujukan bila anak membutuhkan bantuan lebih lanjut.

Perbedaan mendasarnya terletak pada keberlanjutan. Trauma healing biasanya berlangsung dalam satu sesi kegiatan, sementara ruang aman dirancang sebagai lingkungan yang konsisten hadir selama masa pengungsian, sehingga anak punya tempat yang bisa diandalkan setiap hari, bukan hanya sesekali saat ada kunjungan relawan.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, yang turut mengunjungi anak-anak korban gempa di Manggarai, juga menekankan pentingnya keberlanjutan ini. Menurutnya, prosesnya tidak cukup hanya sekali, karena penguatan, konseling, dan trauma healing membutuhkan waktu, sehingga pendampingan harus terus dilakukan agar anak-anak, orang tua, dan lansia bisa kembali kuat setelah menghadapi bencana (Ariyadi, 2026).

Bagaimana Remaja atau Keluarga Bisa Membantu Proses Pemulihan Ini?

Meski tidak semua orang bisa terjun langsung sebagai relawan psikososial, ada beberapa cara sederhana untuk ikut membantu.

  1. Memberi ruang bagi anak korban bencana untuk bercerita tanpa memaksa mereka membahas pengalaman traumatis secara detail.
  2. Menjaga rutinitas semirip mungkin dengan kehidupan sebelum bencana, seperti waktu belajar dan bermain yang konsisten.
  3. Melibatkan anak dalam aktivitas kelompok yang aman, seperti perpustakaan keliling atau kegiatan bersama komunitas setempat.
  4. Mengarahkan ke bantuan profesional bila anak menunjukkan tanda ketakutan atau kecemasan berkepanjangan yang tidak membaik dari waktu ke waktu.

Kesimpulan

Anak-anak korban gempa NTT membutuhkan lebih dari sekadar hiburan sesaat untuk benar-benar pulih dari trauma yang mereka alami. Kombinasi antara kegiatan trauma healing yang menyenangkan dan ruang aman yang berkelanjutan menjadi kunci penting, supaya anak-anak tidak hanya merasa terhibur sementara, tapi juga benar-benar merasa aman untuk kembali menjalani keseharian mereka.

Kalau kamu merasa butuh teman bicara soal apa pun yang kamu alami, kamu nggak perlu menghadapinya sendirian. Coba layanan konseling online remaja dari Peluk Diri untuk bercerita dengan aman. Kunjungi juga Peluk Diri untuk kenalan lebih jauh dengan layanan kami, atau unduh aplikasi layanan konseling remaja Peluk Diri supaya lebih mudah bercerita kapan pun kamu butuh.

Referensi


Tentang Peninjau


Tentang Peluk Diri