Apa Itu Bystander Effect dalam Kasus Bullying di Sekolah?
Bystander effect dalam kasus bullying di sekolah adalah kecenderungan seseorang untuk tidak bertindak saat menyaksikan bullying karena merasa orang lain akan turun tangan lebih dulu, sehingga tanggung jawab untuk membantu terasa tersebar dan berkurang.
Menurut Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa, kamu mungkin pernah menyaksikan temanmu dibully di depan banyak orang, tapi tidak ada satu pun yang membantu, termasuk mungkin dirimu sendiri saat itu. Fenomena ini bukan soal tidak peduli, melainkan pola pikir yang terbentuk secara tidak sadar saat berada di tengah keramaian. Ia menekankan bahwa memahami bystander effect adalah langkah awal untuk berani bertindak berbeda.
Di artikel ini, kamu akan mempelajari penyebab, dampak, serta cara mengatasi bystander effect di sekolah.
Daftar Isi
- Kenapa Semakin Banyak Saksi, Semakin Sedikit yang Bertindak? >
- Apa Dampak Bystander Effect bagi Korban dan Lingkungan Sekolah? >
- Mengapa Iklim Sekolah Berperan dalam Mendorong Siswa Bertindak? >
- Bagaimana Cara Mengubah Diri dari Bystander Menjadi Upstander? >
- Bagaimana Jika Kamu Merasa Takut untuk Ikut Bertindak? >
- FAQ Bystander Effect dalam Bullying >
- Kesimpulan >
Kenapa Semakin Banyak Saksi, Semakin Sedikit yang Bertindak?
Semakin banyak saksi yang menyaksikan bullying, semakin sedikit kemungkinan salah satu dari mereka benar-benar turun tangan membantu korban.
Menurut Psychology Today, fenomena ini terjadi karena dua faktor utama, yaitu difusi tanggung jawab dan pengaruh sosial, di mana seseorang mengamati perilaku orang lain untuk menentukan cara bersikap. Semakin banyak orang yang hanya diam, semakin kuat pula kesan bahwa diam adalah reaksi yang wajar dalam situasi tersebut.
Fenomena ini pertama kali dipopulerkan lewat kasus pembunuhan Kitty Genovese pada 1964, yang kemudian mendorong penelitian mendalam tentang perilaku saksi dalam berbagai situasi darurat.
Apa Dampak Bystander Effect bagi Korban dan Lingkungan Sekolah?
Bystander effect dapat memperparah dampak bullying bagi korban sekaligus membentuk iklim sekolah yang kurang suportif secara keseluruhan.
Mengapa Iklim Sekolah Berperan dalam Mendorong Siswa Bertindak?
Iklim sekolah yang mendukung dapat mendorong siswa lebih berani bertindak saat menyaksikan bullying di sekitar mereka.
Penelitian dalam International Journal of Bullying Prevention (2023) menemukan hubungan signifikan antara pemahaman siswa terhadap model intervensi bystander dengan perilaku membela korban bullying di sekolah.
Sekolah yang secara aktif mengajarkan cara bersikap sebagai upstander cenderung memiliki lebih banyak siswa yang berani turun tangan membantu korban dibanding sekolah yang tidak membahasnya sama sekali.
Bagaimana Cara Mengubah Diri dari Bystander Menjadi Upstander?
Mengubah diri dari bystander menjadi upstander bisa dimulai dari langkah-langkah kecil yang tetap memperhatikan keselamatan diri sendiri.
Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa pernah menyampaikan, “Kamu tidak harus jadi pahlawan. Satu langkah kecil untuk berhenti diam sudah membuat perbedaan besar.“
Bagaimana Jika Kamu Merasa Takut untuk Ikut Bertindak?
Wajar merasa takut untuk bertindak, terutama jika kamu khawatir menjadi sasaran berikutnya dari pelaku bullying tersebut.
- Mulai dari tindakan yang terasa paling aman, seperti melapor secara diam-diam kepada guru.
- Cari dukungan dari teman lain agar tidak merasa harus bertindak sendirian.
Catatan dari Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa: “Rasa takutmu valid. Mulailah dari langkah yang paling mungkin kamu lakukan saat ini.“
FAQ Bystander Effect dalam Bullying
Kesimpulan
Bystander effect dalam kasus bullying di sekolah terjadi karena tanggung jawab yang terasa tersebar di antara banyak saksi yang menyaksikan kejadian tersebut. Dengan memahami fenomena ini dan berani mengambil langkah kecil, kamu bisa membantu mengubah budaya diam menjadi budaya saling membela di lingkungan sekolahmu.
Yuk, Cerita Bersama Peluk Diri
Kalau kamu pernah merasa bersalah karena diam saat menyaksikan bullying dan butuh teman untuk bercerita, kamu tidak perlu memendam perasaan itu sendirian. Kamu bisa unduh aplikasi konsultasi psikologi Peluk Diri untuk bercerita dengan teman sebaya yang siap mendengarkan tanpa menghakimi.
Jika kamu butuh pendampingan lebih terarah menghadapi situasi ini, kamu juga bisa mengakses layanan konseling online Peluk Diri untuk mendapat dukungan yang lebih sesuai kebutuhanmu.
Kunjungi juga Peluk Diri untuk informasi kesehatan mental remaja lainnya. Yuk, bercerita sekarang!
Tentang Peninjau

Artikel ini disusun berdasarkan riset dan referensi terpercaya Peluk Diri. Seluruh artikel telah ditinjau oleh Kodariyah Nurhayat, S.Psi., M.Si., salah satu tim pakar Peluk Diri dengan latar belakang bidang psikologi dan kesehatan mental remaja.
Tentang Peluk Diri

Peluk Diri adalah platform kesehatan mental remaja di bawah PT Kita Orang Biasa yang memiliki konselor sebaya dan para psikolog profesional. Peluk Diri berfokus menyediakan dukungan emosional, edukasi psikologis, dan ruang bercerita bagi remaja usia 13โ18 tahun.