Talkshow “Mengelola Emosi, Menyelamatkan Jiwa”: Perspektif Psikolog, Survivor, dan Loss Survivor
Talkshow Peluk Diri “Mengelola Emosi, Menyelamatkan Jiwa” menghadirkan cerita dari psikolog, guru, orang tua, hingga siswa tentang bagaimana emosi yang tidak dikelola dengan baik bisa membawa seseorang ke titik paling gelap, dan bagaimana kehadiran orang lain bisa menyelamatkan.
Acara ini digelar Jumat, 11 September 2026, pukul 16.00 sampai 18.00 WIB, di Perpustakaan Nasional RI Lantai 24, sebagai bagian dari peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia. Peluk Diri berkolaborasi dengan Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa untuk menghadirkan Arida Wahyuni, coach mindfulness dan kecerdasan emosi dari Kaukus Keswa, bersama Tannia dari Peluk Diri, dipandu moderator Reno Fenady.
Selama dua jam, ruangan itu diisi tanya jawab dari guru, orang tua, dan pelajar dari SMK serta SMPN yang hadir langsung. Ada cerita yang membuat haru, ada juga pelajaran konkret yang bisa langsung kamu praktikkan. Berikut rangkumannya untuk kamu yang belum sempat hadir.
Daftar Isi
- Kenapa Remaja Perlu Belajar Mengelola Emosi? >
- Bagaimana Cara Mulai Mengenali Emosi Sendiri? >
- Apa Cerita yang Paling Menyentuh dari Talkshow Ini? >
- Apa yang Dirasakan Siswa yang Hadir di Talkshow Ini? >
- Apa Pesan Penutup dari Para Narasumber? >
- Kesimpulan >
Kenapa Remaja Perlu Belajar Mengelola Emosi?
Mengelola emosi penting karena keterampilan ini melindungi kesehatan mental dan mencegah rasa putus asa berlarut-larut.
โMengelola emosi itu adalah keterampilan yang bisa melindungi kita, yang bisa menjaga kesehatan mental kita dan melindungi kita dari rasa stres,โ ujar Tannia.
Ia menjelaskan alasan biologis kenapa remaja sering terlihat lebih meledak-ledak dibanding orang dewasa:
- Amigdala, bagian otak yang mengatur emosi, berkembang pesat pada masa remaja.
- Prefrontal cortex yang mengatur regulasi diri dan pengambilan keputusan baru matang di usia 25 tahun.
- Penelitian terbaru bahkan menyebut otak baru berkembang penuh sampai usia 32 tahun.
Bagaimana Cara Mulai Mengenali Emosi Sendiri?
Langkah pertama adalah mengenali emosi yang sedang dirasakan, sebelum mencoba mengelolanya.
Arida Wahyuni menekankan bahwa mengenali emosi sendiri, sesederhana menyadari โaku sedang sedihโ atau โaku sedang marahโ, sudah menjadi bagian dari proses melepaskan beban emosi itu. โJadi memang nomor satu, kenali dulu emosi kita,โ ujarnya.
Ia juga menjelaskan konsep mindfulness sebagai bagian dari self compassion, yaitu kesadaran penuh terhadap apa yang sedang terjadi pada diri sendiri, termasuk mengenali emosi berdasarkan konteks yang sedang dihadapi.
Apa Cerita yang Paling Menyentuh dari Talkshow Ini?
Salah satu momen paling menyentuh datang dari cerita Ibu Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa tentang keponakannya yang nyaris mengakhiri hidupnya di usia 9 tahun.
Nenden bercerita bahwa keponakannya sempat naik ke atap rumah membawa pisau setelah keluarganya broken home. โTerus saya dengan santainya aja tapi ya deg-degan di dalam hati,โ kenangnya. Ia berhasil membuat keponakannya tetap tenang sambil berkoordinasi dengan orang di rumah untuk mengambil pisau tersebut secara perlahan.
Momen lain datang dari moderator Reno Fenady, yang membagikan bahwa sahabatnya semasa SMP meninggal karena bunuh diri. Cerita ini menjadi pengingat bahwa siapa pun bisa kehilangan orang terdekat karena masalah kesehatan mental yang tidak tertangani.
Apa yang Dirasakan Siswa yang Hadir di Talkshow Ini?
Siswa yang hadir mengaku mendapatkan pemahaman baru tentang cara mendukung teman yang sedang berjuang dengan kesehatan mentalnya, di antaranya:
Apa Pesan Penutup dari Para Narasumber?
Pesan penutup dari kedua narasumber menekankan pentingnya menjadi teman yang baik dan tidak ragu mencari bantuan:
โJadilah teman atau pendamping yang baik. Be kind to your friends,โ pesan Tannia, sekaligus mengingatkan bahwa cerita seseorang yang dipercayakan kepada kita harus dijaga privasinya. Menanyakan kabar teman sesederhana apa pun bisa menjadi harapan baru bagi mereka, menurut Tannia.
โJangan sampai emosinya sudah menumpuk lalu meledak,โ kata Arida, mengingatkan bahwa semua emosi itu valid dan layak diterima.
Bantuan profesional selalu tersedia lewat Hotline 119 ekstensi 8 dari Kementerian Kesehatan maupun program JakCare dari Dinkes Jakarta.
Kesimpulan
Talkshow “Mengelola Emosi, Menyelamatkan Jiwa” menunjukkan bahwa mengenali dan mengelola emosi bukan hal sepele, melainkan keterampilan yang bisa menyelamatkan nyawa. Cerita dari psikolog, guru, dan siswa yang hadir membuktikan bahwa kepedulian sederhana bisa membawa dampak besar bagi orang di sekitar kita.
Yuk, Bercerita dengan Peluk Diri
Kalau kamu ingin belajar lebih jauh soal mengelola emosi atau sedang mendampingi teman yang berjuang, Peluk Diri hadir sebagai ruang aman untuk kamu bercerita bersama konselor sebaya kapan pun kamu butuh. Kunjungi layanan konseling online Peluk Diri atau lihat laman utama pelukdiri.com untuk info kesehatan mental lainnya.
Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal sedang berada dalam kondisi darurat, segera hubungi Hotline 119 ekstensi 8 dari Kementerian Kesehatan, atau hubungi Indonesia Sehat Jiwa melalui form https://s.id/formkonselinghotline atau nomor emergency response di WA 08113788898 untuk mendampingi situasi krisis kapan pun dibutuhkan. Kamu juga bisa akses JakCare melalui aplikasi Jaki atau hubungi hotline 24 jam 0800-1500-119 untuk bantuan lainnya.
Yuk, bercerita sekarang!
Tentang Peninjau

Artikel ini disusun berdasarkan riset dan referensi terpercaya Peluk Diri. Seluruh artikel telah ditinjau oleh Kodariyah Nurhayat, S.Psi., M.Si., salah satu tim pakar Peluk Diri dengan latar belakang bidang psikologi dan kesehatan mental remaja.
Tentang Peluk Diri

Peluk Diri adalah platform kesehatan mental remaja di bawah PT Kita Orang Biasa yang memiliki konselor sebaya dan para psikolog profesional. Peluk Diri berfokus menyediakan dukungan emosional, edukasi psikologis, dan ruang bercerita bagi remaja usia 13โ18 tahun.