Cara Konten Negatif dan Algoritma Media Sosial Memengaruhi Kesehatan Mental Remaja

Konten negatif di media sosial tidak muncul secara kebetulan. Algoritma media sosial mempelajari apa yang kamu tonton, sukai, bagikan, atau komentari, lalu menampilkan lebih banyak konten yang dianggap menarik perhatianmu.

Menurut Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa, media sosial adalah alat yang sangat bermanfaat jika digunakan dengan bijak. Tantangan terbesarnya adalah menjaga agar algoritma tidak mengambil alih cara kita berpikir dan merasakan. Dengan memahami cara kerja algoritma, remaja dapat menggunakan media sosial secara lebih sadar dan sehat.

Di artikel ini, kamu akan mempelajari dampak algoritma terhadap kesehatan mental remaja, serta langkah-langkah menciptakan pengalaman digital yang lebih positif.

Baca juga: Awas Self-Diagnose: Banyak Remaja Salah Kira ADHD karena Konten Tik-Tok

Daftar Isi

Mengapa Algoritma Media Sosial Sering Menampilkan Konten Negatif?

Hal ini disebabkan algoritma media sosial terus mempelajari kebiasaan dan aktivitasmu, seperti:

  • Video yang ditonton sampai selesai (watch time).
  • Konten yang diberi like atau komentar.
  • Postingan yang dibagikan kepada teman.
  • Topik yang sering dicari.
  • Akun yang paling sering dikunjungi.

Konten yang memunculkan rasa penasaran, marah, takut, atau sedih sering membuat seseorang bertahan lebih lama di aplikasi karena algoritma menganggap konten tersebut menarik dan terus merekomendasikannya.

Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa pernah menyampaikan, “Algoritma hanya mengikuti kebiasaan kita. Saat kita mulai memilih konten yang lebih sehat, algoritma pun akan belajar memberikan pengalaman digital yang lebih baik.”

Apa Dampak Konten Negatif terhadap Kesehatan Mental Remaja?

Jika konten negatif terus muncul setiap hari, kondisi tersebut dapat memengaruhi cara berpikir dan perasaanmu.

Jenis KontenDampak bagi Remaja
Berita negatif terus-menerusMeningkatkan rasa cemas dan khawatir
CyberbullyingMenurunkan kepercayaan diri
Gaya hidup yang tidak realistisMemicu kebiasaan membandingkan diri
Konten penuh kebencianEmosi lebih mudah terpancing
Hoaks atau misinformasiSulit membedakan fakta dan opini

Selain itu, kamu juga perlu mengenali beberapa istilah berikut.

  • Doomscrolling, yaitu kebiasaan terus-menerus membaca berita atau konten negatif tanpa berhenti.
  • FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa takut tertinggal informasi atau tren.
  • Overthinking, ketika pikiran terus dipenuhi hal-hal yang membuatmu cemas.
  • Emotional exhaustion, yaitu kelelahan emosional akibat menerima terlalu banyak informasi dalam waktu lama.

Menurut American Psychological Association (APA), paparan media digital yang tidak dikelola dengan baik dapat berkaitan dengan meningkatnya stres, kecemasan, dan kelelahan mental, terutama pada remaja yang masih berada dalam tahap perkembangan emosi.

Bagaimana Cara Mengelola Algoritma agar Feed Media Sosial Lebih Sehat?

Kamu bisa membantu algoritma mengenali minat yang lebih sehat melalui kebiasaan sederhana. Beberapa langkah yang bisa kamu lakukan:

  1. Follow akun yang membagikan informasi edukatif atau inspiratif.
  2. Gunakan fitur Not Interested, Hide, atau Mute pada konten yang membuatmu tidak nyaman.
  3. Unfollow akun yang sering memicu stres.
  4. Batasi screen time setiap hari.
  5. Luangkan waktu mencari konten tentang hobi, pengembangan diri, atau kesehatan mental.
  6. Biasakan mengecek sumber informasi sebelum mempercayai atau membagikannya.

Catatn dari Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa: “Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk belajar, terhubung, dan berkembang. Saat sebuah konten membuatmu merasa lelah secara emosional, kamu berhak memilih untuk berhenti melihatnya.“

Menurut UNICEF Parenting, membangun kebiasaan digital yang sehat membantu remaja mengembangkan keseimbangan antara kehidupan online dan aktivitas di dunia nyata.

Bagaimana Menggunakan Media Sosial dengan Lebih Bijak?

Kamu bisa mulai dengan:

  1. Memperhatikan bagaimana perasaanmu setelah selesai scrolling.
  2. Mengambil jeda jika mulai merasa lelah atau cemas.
  3. Menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga dan teman.
  4. Menggunakan media sosial untuk belajar, mencari inspirasi, atau mengembangkan kemampuan baru.
  5. Mengingat bahwa algoritma mengikuti pilihanmu. Semakin sering kamu berinteraksi dengan konten positif, semakin sehat pula isi feed yang akan muncul.

Konten negatif sering sekali menjadi salah satu penyebab aktivitas negatif remaja, seperti bullying, harrasment online maupun offline, sehingga remaja harus benar-benar diawasi penggunaan gadget dan aktivitasnya di dunia maya atau memberikan edukasi moral dan etik media sosial sehingga tidak mudah terbawa dampak negatif dari konten buruk di media sosial.

FAQ

  • Apakah algoritma media sosial selalu menampilkan konten negatif?
    Tidak. Algoritma menampilkan konten berdasarkan aktivitasmu. Jika kamu lebih sering berinteraksi dengan konten positif, rekomendasi yang muncul juga akan berubah.
  • Apa itu doomscrolling?
    Doomscrolling adalah kebiasaan terus membaca atau menonton konten negatif dalam waktu lama hingga membuat pikiran semakin cemas atau lelah.
  • Bagaimana cara menghentikan rekomendasi konten yang membuat stres?
    Kamu bisa menggunakan fitur Not Interested, mengurangi interaksi dengan konten tersebut, mengikuti akun yang lebih positif, dan membatasi waktu menggunakan media sosial.

Kesimpulan

Konten negatif dan algoritma media sosial saling berkaitan dalam membentuk pengalamanmu saat menggunakan media digital. Dengan memahami cara kerja algoritma dan lebih selektif memilih konten, kamu dapat menciptakan feed yang lebih sehat, mengurangi doomscrolling, menjaga suasana hati, serta mendukung kesehatan mental remaja dalam jangka panjang.

Yuk, Bangun Pengalaman Digital yang Lebih Sehat
Kalau kamu merasa media sosial mulai membuatmu cemas, overthinking, atau lelah secara emosional, kamu tidak harus menghadapinya sendirian. Kami di Peluk Diri siap menemanimu melalui aplikasi Peluk Diri. Di sana, kamu bisa bercerita dengan teman sebaya yang siap mendengarkan tanpa menghakimi, sekaligus belajar membangun kebiasaan digital yang lebih sehat untuk menjaga kesehatan mentalmu.

Jangan lupa intip layanan konseling online dari Peluk Diri dan mulai bercerita sekarang!


Tentang Peninjau


Tentang Peluk Diri