MPLS 2026: Kenapa Kesehatan Mental Kini Jadi Materi Wajib untuk Siswa Baru
Materi kesehatan mental kini masuk sebagai bagian penting dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di berbagai daerah, dengan tujuan membangun lingkungan belajar yang aman sekaligus mencegah bullying sejak siswa baru menginjakkan kaki di sekolah.
Peluk Diri menyambut baik perubahan ini, karena selama ini banyak siswa baru yang justru rentan jadi sasaran perundungan tanpa tahu ke mana harus mencari bantuan. Memasukkan edukasi kesehatan mental sejak MPLS berarti sekolah mulai serius menjadikan kenyamanan emosional siswa sebagai bagian dari fondasi belajar, bukan sekadar pelengkap.
Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (Sudin PPAPP) Kota Jakarta Utara menilai menjaga kesehatan mental remaja menjadi langkah penting dalam membangun lingkungan belajar yang aman dan nyaman, sehingga materi ini diberikan kepada peserta didik baru selama MPLS (Nasution, 2026).
Di artikel ini, kamu akan mempelajari sejak kapan sosialisasi ini berlangsung, kenapa pemerintah daerah menjadikan kesehatan mental fokus utama MPLS, bagaimana praktiknya di lapangan, serta materi kesehatan mental apa saja yang idealnya masuk MPLS.
Daftar Isi
- Sejak Kapan dan di Mana Sosialisasi Ini Berlangsung? >
- Kenapa Pemerintah Daerah Menjadikan Kesehatan Mental Fokus Utama MPLS? >
- Bagaimana Praktiknya di Lapangan? >
- Materi Kesehatan Mental Apa Saja yang Idealnya Masuk MPLS? >
- FAQ Kesehatan Mental dalam MPLS >
- Kesimpulan >
Sejak Kapan dan di Mana Sosialisasi Ini Berlangsung?
Kepala Seksi Perlindungan Anak Sudin PPAPP Jakarta Utara, Nurjanah, menjelaskan sosialisasi dilaksanakan secara serentak pada 13-17 Juli 2026 dengan sasaran peserta didik baru jenjang SD, SMP, hingga SMA, baik negeri maupun swasta, mencakup enam kecamatan di Jakarta Utara. Salah satu sesi digelar langsung di SMAN 72 Jakarta.
Kenapa Pemerintah Daerah Menjadikan Kesehatan Mental Fokus Utama MPLS?
“Tahun ini fokus utama kami adalah kesehatan mental remaja yang memiliki keterkaitan erat dengan upaya pencegahan perundungan atau bullying di lingkungan sekolah,” kata Nurjanah. Edukasi ini bertujuan membekali siswa dengan pemahaman mengenai empati, komunikasi yang sehat, serta keberanian untuk saling mendukung dan melaporkan apabila terjadi kekerasan maupun perundungan.
Nurjanah berharap para siswa mampu menjaga kesehatan mental, menjadi pendengar yang baik bagi teman sebaya, serta membangun persahabatan yang positif, sehingga kekerasan di lingkungan sekolah dapat dicegah sejak dini. “Kami ingin gerakan pencegahan ini dilakukan secara lebih masif,” ujarnya.
Bagaimana Praktiknya di Lapangan?
Salah satu siswi kelas X-C SMAN 72 Jakarta, Putri Adinda (14), mengaku memperoleh pengalaman baru lewat sesi praktik butterfly hug atau pelukan kupu-kupu, teknik sederhana untuk membantu menenangkan diri dan mengenali emosi.
“Kami belajar cara mengelola emosi, pentingnya empati, serta mengetahui ke mana harus mencari bantuan jika membutuhkan pendampingan psikolog. Saya berharap kegiatan seperti ini bisa lebih sering diadakan,” kata Putri.
Materi Kesehatan Mental Apa Saja yang Idealnya Masuk MPLS?
Merujuk pada psikoedukasi yang pernah dijalankan Program Studi Psikologi Universitas Pendidikan Nasional bersama Ikatan Psikolog Klinis Indonesia dalam MPLS, ada beberapa materi kesehatan mental yang idealnya disampaikan kepada siswa baru (Universitas Pendidikan Nasional, 2024).
FAQ Kesehatan Mental dalam MPLS
Kesimpulan
Menjadikan kesehatan mental sebagai materi wajib MPLS adalah langkah awal yang penting untuk mencegah bullying sekaligus membangun lingkungan belajar yang lebih aman bagi siswa baru. Dengan bekal pemahaman tentang emosi, empati, dan kemana harus mencari bantuan sejak hari pertama sekolah, siswa diharapkan lebih siap menghadapi tantangan sosial di lingkungan barunya.
Yuk, Cerita Bersama Peluk Diri
Kalau kamu siswa baru yang merasa cemas menghadapi lingkungan sekolah baru, atau mengalami perundungan dan butuh teman bicara, kamu nggak perlu menghadapinya sendirian. Coba layanan konseling online remaja dari Peluk Diri untuk bercerita dengan aman. Kunjungi juga Peluk Diri untuk kenalan lebih jauh dengan layanan kami, atau unduh aplikasi layanan konseling remaja Peluk Diri supaya lebih mudah bercerita kapan pun kamu butuh.
Referensi
- Nasution, M. S. (2026, Juli). Kesehatan mental remaja kunci bangun lingkungan belajar yang nyaman. ANTARA News. https://www.antaranews.com/berita/5650893/kesehatan-mental-remaja-kunci-bangun-lingkungan-belajar-yang-nyaman
- Universitas Pendidikan Nasional. (2024, 18 Juli). Sosialisasi kesehatan mental di MPLS SMA Dwijendra: Psikologi Undiknas beri edukasi pentingnya pencegahan depresi. https://undiknas.ac.id/2024/07/sosialisasi-kesehatan-mental-di-mpls-sma-dwijendra-psikologi-undiknas-beri-edukasi-pentingnya-pencegahan-depresi
Tentang Peninjau

Artikel ini disusun berdasarkan riset dan referensi terpercaya Peluk Diri. Seluruh artikel telah ditinjau oleh Kodariyah Nurhayat, S.Psi., M.Si., salah satu tim pakar Peluk Diri dengan latar belakang bidang psikologi dan kesehatan mental remaja.
Tentang Peluk Diri

Peluk Diri adalah platform kesehatan mental remaja di bawah PT Kita Orang Biasa yang memiliki konselor sebaya dan para psikolog profesional. Peluk Diri berfokus menyediakan dukungan emosional, edukasi psikologis, dan ruang bercerita bagi remaja usia 13โ18 tahun.
