Kemenkes: Saka Bakti Husada Jadi Mitra Strategis Cegah Cyberbullying pada Remaja

Kementerian Kesehatan menyebut Saka Bakti Husada (SBH) sebagai mitra strategis dalam mencegah perundungan siber pada remaja lewat pendampingan jaringan kader muda dan edukasi internet sehat di seluruh Indonesia.

Peluk Diri melihat langkah ini sebagai kabar baik, karena pencegahan cyberbullying akan jauh lebih efektif kalau digerakkan oleh teman sebaya yang paham langsung apa yang dialami remaja di ruang digital, bukan hanya lewat imbauan dari orang dewasa.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengatakan hari ulang tahun SBH tahun ini menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali peran generasi muda dalam membangun masyarakat sehat, aman, dan bebas dari kekerasan (Prisie, 2026).

Di artikel ini, kamu akan mempelajari momentum di balik peran baru SBH, siapa SBH sebenarnya, kenapa remaja butuh kader sebaya untuk isu cyberbullying, serta bagaimana remaja dan sekolah bisa terlibat dalam program serupa.

Daftar Isi

Apa Momentum di Balik Peran Baru SBH Ini?

Momentum ulang tahun SBH pada 17 Juli 2026 dikaitkan dengan kolaborasi lintas sektor yang sedang digalakkan pemerintah, seperti aplikasi Digital Addiction Response Assistant (DARA) dari Kominfo dan layanan SatuSehat Mobile dari Kemenkes. Menurut Imran, SBH dapat menjadi mitra strategis dalam menghubungkan remaja dengan layanan-layanan tersebut, sekaligus memperkuat literasi digital dan kesehatan jiwa di tingkat komunitas.

Siapa Sebenarnya Saka Bakti Husada dan Sejak Kapan Berdiri?

Saka Bakti Husada adalah satuan karya pramuka di bidang kesehatan yang dibentuk oleh Kemenkes bersama Gerakan Pramuka sejak 17 Juli 1985. SBH terbuka bagi Pramuka Penegak usia 16-20 tahun dan Pandega usia 21-25 tahun, baik dari sekolah menengah, perguruan tinggi, maupun masyarakat umum, tanpa harus memiliki latar belakang di bidang kesehatan.

Saat ini jumlah anggota SBH secara nasional mencapai sekitar 57.514 orang, tersebar di 2.147 pangkalan di puskesmas dan UPT Kemenkes di 30 provinsi. Tujuannya sederhana namun visioner, yaitu menyiapkan kader muda yang mampu menjadi pelopor hidup sehat sekaligus agen perubahan di tengah masyarakat.

Kenapa Remaja Butuh Kader Sebaya untuk Isu Cyberbullying?

Pada era digital, anak dan remaja menghadapi risiko baru, mulai dari adiksi gawai, tekanan media sosial, hingga meningkatnya kasus kekerasan berbasis gender dan perundungan daring. Data terbaru menunjukkan hampir 35 persen remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir, sementara 28 persen pengguna internet aktif bermain game online setiap hari.

“Dengan semangat pramuka dan jiwa bakti kesehatan, SBH menegaskan bahwa perlindungan perempuan dan anak, serta kesehatan jiwa remaja di era digital adalah tanggung jawab bersama,” kata Imran. Anggota SBH bukan hanya aktif dalam kegiatan kepramukaan, tapi juga terlibat dalam penyuluhan kesehatan, kampanye imunisasi, hingga promosi perilaku hidup bersih dan sehat, yang kini diperluas mencakup literasi digital dan kesehatan jiwa (Kemenkes RI, 2026).

Baca juga: Bagaimana Cara Melaporkan Cyberbullying Secara Aman?

Bagaimana Remaja dan Sekolah Bisa Terlibat dalam Program Serupa?

Ada beberapa cara yang bisa ditempuh remaja maupun sekolah untuk ikut ambil bagian dalam gerakan pencegahan cyberbullying seperti ini.

  • Bergabung dengan Saka Bakti Husada di puskesmas atau UPT Kemenkes terdekat, khususnya bagi Pramuka Penegak dan Pandega.
  • Mengikuti program literasi digital dan kesehatan jiwa yang diselenggarakan lintas sektor, seperti aplikasi DARA dari Kominfo.
  • Sekolah dapat menggandeng kader SBH setempat untuk mengisi sesi edukasi internet sehat bagi siswa.
  • Remaja yang belum tergabung tetap bisa menerapkan prinsip yang sama, yaitu saling mendampingi dan mengedukasi teman sebaya soal penggunaan internet yang aman.

FAQ Saka Bakti Husada dan Pencegahan Cyberbullying

  • Siapa saja yang bisa bergabung dengan Saka Bakti Husada?
    SBH terbuka bagi Pramuka Penegak usia 16-20 tahun dan Pandega usia 21-25 tahun, baik dari sekolah menengah, perguruan tinggi, maupun masyarakat umum, tanpa harus memiliki latar belakang di bidang kesehatan.
  • Berapa jumlah anggota SBH saat ini?
    Jumlah anggota SBH secara nasional mencapai sekitar 57.514 orang, tersebar di 2.147 pangkalan di puskesmas dan UPT Kemenkes di 30 provinsi.

Kesimpulan

Kolaborasi Kemenkes dengan Saka Bakti Husada menunjukkan bahwa pencegahan cyberbullying pada remaja bisa digerakkan dari dalam komunitas remaja sendiri, bukan hanya lewat kebijakan dari atas. Dengan jaringan kader muda yang tersebar luas, edukasi tentang penggunaan internet yang sehat diharapkan bisa menjangkau lebih banyak remaja dan menciptakan lingkungan digital yang lebih aman.

Yuk, Cerita Bersama Peluk Diri
Kalau kamu sedang mengalami atau menyaksikan cyberbullying dan butuh teman bicara, kamu nggak perlu menghadapinya sendirian. Coba layanan konseling online remaja dari Peluk Diri untuk bercerita dengan aman. Kunjungi juga Peluk Diri untuk kenalan lebih jauh dengan layanan kami, atau unduh aplikasi layanan konseling remaja Peluk Diri supaya lebih mudah bercerita kapan pun kamu butuh.

Referensi


Tentang Peninjau


Tentang Peluk Diri