Mengapa Toxic Positivity di Media Sosial Bisa Berbahaya?
Toxic positivity di media sosial adalah kebiasaan memaksakan pikiran positif secara berlebihan, sampai emosi negatif yang wajar justru dianggap tidak boleh dirasakan, padahal menekan perasaan seperti itu bisa berdampak buruk pada kesehatan mental.
Menurut Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa, remaja mungkin pernah melihat unggahan yang selalu terlihat bahagia, lalu merasa bersalah karena hidupmu tidak seceria itu. Ini menimbulkan tekanan untuk selalu terlihat positif di media sosial dan bisa membuat remaja kesulitan menerima perasaan sedih atau kecewa yang sebenarnya wajar dialami. Ia menekankan bahwa emosi negatif bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan bagian dari proses memahami diri sendiri.
Di artikel ini, kamu akan mempelajari apa itu toxic positivity, dampaknya, serta cara menyikapinya dengan sehat.
Daftar Isi
- Apa Itu Toxic Positivity dan Bagaimana Bentuknya di Media Sosial? >
- Kenapa Toxic Positivity Bisa Merugikan Kesehatan Mental Remaja? >
- Apa Saja Tanda Toxic Positivity yang Perlu Kamu Kenali? >
- Bagaimana Cara Menyikapi Toxic Positivity dengan Sehat? >
- Bagaimana Cara Mendukung Teman Tanpa Terjebak Toxic Positivity? >
- Kapan Toxic Positivity Perlu Dianggap Serius? >
- FAQ Toxic Positivity di Media Sosial >
- Kesimpulan >
Apa Itu Toxic Positivity dan Bagaimana Bentuknya di Media Sosial?
Toxic positivity adalah sikap yang mendorong seseorang untuk selalu berpikir positif, bahkan dalam situasi yang sebenarnya menyakitkan atau sulit.
Menurut EBSCO Research Starters, toxic positivity terjadi ketika seseorang mengabaikan atau meremehkan emosi negatif yang wajar, seperti rasa takut, kecewa, atau marah, karena terlalu menekankan pentingnya bersikap positif.
Di media sosial, bentuknya bisa berupa kalimat seperti hidup harus selalu bahagia, atau anggapan bahwa mengeluh berarti kurang bersyukur.
Kenapa Toxic Positivity Bisa Merugikan Kesehatan Mental Remaja?
Toxic positivity bisa merugikan kesehatan mental karena membuat seseorang merasa bersalah setiap kali mengalami emosi yang tidak menyenangkan.
Menurut Therapy Group of DC (2025), paparan terus-menerus terhadap konten media sosial yang serba positif dapat meningkatkan stres dan kecemasan, terutama karena kesenjangan antara kehidupan yang ditampilkan online dan kenyataan sehari-hari.
Remaja yang terus dibombardir pesan agar selalu bahagia bisa kehilangan kesempatan untuk memahami dan memproses perasaannya sendiri secara sehat.
Apa Saja Tanda Toxic Positivity yang Perlu Kamu Kenali?
Beberapa tanda ini bisa membantumu mengenali apakah kamu atau orang di sekitarmu sedang menerapkan toxic positivity.
Bagaimana Cara Menyikapi Toxic Positivity dengan Sehat?
Menyikapi toxic positivity dengan sehat bisa dimulai dari memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasakan emosi apa pun tanpa menghakimi.
Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa pernah menyampaikan, “Merasa sedih bukan tanda kegagalan. Itu tanda kamu manusia yang sedang menjalani prosesnya sendiri.“
Bagaimana Cara Mendukung Teman Tanpa Terjebak Toxic Positivity?
Mendukung teman tanpa terjebak toxic positivity berarti mendengarkan lebih dulu sebelum mencoba menghibur atau memberi solusi.
- Dengarkan ceritanya secara penuh sebelum memberi tanggapan apa pun.
- Validasi perasaannya dengan kalimat seperti wajar kalau kamu merasa begitu, bukan langsung menyuruhnya berpikir positif.
Catatan dari Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa: “Dukungan terbaik bukan menghilangkan kesedihan seseorang, tapi menemaninya melewati kesedihan itu.“
Kapan Toxic Positivity Perlu Dianggap Serius?
Toxic positivity perlu dianggap serius ketika kebiasaan menekan emosi ini sudah membuatmu sulit mengenali perasaanmu sendiri.
- Kamu selalu merasa harus menyembunyikan kesedihan, bahkan dari orang terdekat.
- Kamu mulai kesulitan mengenali apa yang sebenarnya kamu rasakan.
Bicarakan kondisi ini dengan orang tua, guru, atau konselor jika kamu merasa kesulitan memahami emosimu sendiri.
FAQ Toxic Positivity di Media Sosial
Kesimpulan
Toxic positivity di media sosial dapat membuat remaja merasa bersalah karena mengalami emosi negatif yang sebenarnya wajar dan manusiawi. Dengan mengenali tandanya dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasakan semua emosi, kamu bisa menjaga kesehatan mentalmu tanpa perlu memaksakan diri terlihat selalu bahagia.
Yuk, Cerita Bersama Peluk Diri
Kalau kamu sering merasa harus selalu terlihat positif padahal sedang tidak baik-baik saja, kamu tidak perlu menghadapinya sendirian. Kamu bisa unduh aplikasi konseling online Peluk Diri untuk bercerita dengan teman sebaya yang siap mendengarkan tanpa menghakimi.
Jika kamu butuh pendampingan lebih terarah memahami emosimu sendiri, kamu juga bisa mengakses layanan konseling online Peluk Diri untuk mendapat dukungan yang lebih sesuai kebutuhanmu. Kunjungi juga Peluk Diri untuk informasi kesehatan mental remaja lainnya.
Yuk, bercerita sekarang!
Tentang Peninjau

Artikel ini disusun berdasarkan riset dan referensi terpercaya Peluk Diri. Seluruh artikel telah ditinjau oleh Kodariyah Nurhayat, S.Psi., M.Si., salah satu tim pakar Peluk Diri dengan latar belakang bidang psikologi dan kesehatan mental remaja.
Tentang Peluk Diri

Peluk Diri adalah platform kesehatan mental remaja di bawah PT Kita Orang Biasa yang memiliki konselor sebaya dan para psikolog profesional. Peluk Diri berfokus menyediakan dukungan emosional, edukasi psikologis, dan ruang bercerita bagi remaja usia 13โ18 tahun.
