Bagaimana Cancel Culture Menimbulkan Tekanan Psikologis pada Remaja? Ini Alasan Dibaliknya

Cancel culture menimbulkan tekanan psikologis pada remaja dengan menciptakan rasa takut terus-menerus akan dihakimi dan dikucilkan secara massal, sehingga banyak remaja hidup dalam kekhawatiran akan kesalahan kecil yang bisa berdampak besar.

Menurut Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa, kamu mungkin pernah melihat seseorang tiba-tiba dijauhi banyak orang di media sosial hanya karena satu komentar atau tindakan yang dianggap salah. Fenomena ini membuat banyak remaja merasa harus selalu berhati-hati, sampai kehilangan keberanian menjadi diri sendiri. Ia menekankan bahwa memahami dampak psikologis cancel culture penting agar remaja bisa menyikapinya dengan lebih bijak.

Di artikel ini, kamu akan mempelajari apa itu cancel culture, dampaknya, serta cara menghadapinya.

Daftar Isi

Apa Itu Cancel Culture dan Bagaimana Biasanya Terjadi?

Cancel culture adalah fenomena ketika seseorang secara ramai-ramai dikritik, dijauhi, atau diboikot di media sosial karena perkataan atau tindakan yang dianggap tidak pantas.

Menurut High Focus Centers, cancel culture pada remaja sering terjadi di platform seperti Instagram, TikTok, dan Snapchat, mulai dari komentar ceroboh hingga pendapat yang dianggap tidak populer oleh teman sebaya.

Biasanya prosesnya diawali dengan tangkapan layar yang disebarluaskan, lalu diikuti seruan untuk memboikot atau menjauhi orang yang bersangkutan.

Kenapa Cancel Culture Bisa Berdampak Berat pada Remaja?

Cancel culture bisa berdampak berat pada remaja karena masa remaja adalah periode ketika penerimaan dari teman sebaya terasa sangat penting.

Menurut Newport Academy, remaja sangat rentan terhadap pengaruh sosial karena bagian otak yang mengatur aspek sosial kehidupan masih dalam tahap perkembangan, sehingga penolakan dari kelompok sebaya terasa sangat menyakitkan bagi mereka.

Bagi banyak remaja, dijauhi oleh kelompok pertemanan adalah ketakutan terbesar, sehingga ancaman cancel culture terasa lebih berat dibanding yang terlihat dari luar.

Apa Saja Dampak Psikologis dari Cancel Culture?

Cancel culture dapat menimbulkan berbagai dampak psikologis, baik bagi orang yang menjadi sasaran maupun yang hanya menyaksikan.

Menurut Premier Science (2025), tiga dampak psikologis utama dari cancel culture adalah meningkatnya kecemasan, isolasi sosial, dan kecenderungan menahan diri untuk berpendapat karena takut menjadi sasaran berikutnya.

Dampak ini bisa dialami bukan hanya oleh sasaran langsung, tapi juga oleh siapa pun yang menyaksikan dan mulai merasa waswas mengungkapkan pendapatnya sendiri.

Bagaimana Cara Menghadapi Cancel Culture jika Kamu Jadi Sasarannya?

Menghadapi cancel culture jika kamu menjadi sasarannya bisa dimulai dari tetap tenang dan tidak langsung membalas dengan emosi.

  • Beri dirimu waktu untuk menenangkan diri sebelum merespons apa pun.
  • Akui kesalahan dengan tulus jika memang ada yang perlu diperbaiki.
  • Cari dukungan dari orang terdekat yang benar-benar mengenal dirimu.
  • Batasi paparan media sosial sementara waktu untuk menjaga kesehatan mentalmu.

Catatan dari Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa: “Satu kesalahan tidak pernah mendefinisikan seluruh dirimu. Beri dirimu kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri.“

Bagaimana Cara Bersikap Bijak agar Tidak Ikut Memperparah Cancel Culture?

Bersikap bijak agar tidak ikut memperparah cancel culture bisa dimulai dari mempertimbangkan dampak sebelum ikut menyebarkan atau mengomentari sesuatu.

  • Cek kebenaran informasi sebelum ikut berkomentar atau membagikannya.
  • Beri ruang bagi orang lain memperbaiki kesalahan, bukan hanya menghakimi.

Catatan dari Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa: “Menghakimi itu mudah, tapi memberi ruang untuk belajar dari kesalahan jauh lebih bermakna.“

Kapan Sebaiknya Kamu Mencari Bantuan Profesional?

Kamu sebaiknya mencari bantuan profesional ketika tekanan akibat cancel culture sudah memengaruhi kesehatan mental dan keseharianmu.

  • Kamu mengalami kecemasan berat, sulit tidur, atau menarik diri dari lingkungan sosial.
  • Muncul pikiran yang menyakiti diri sendiri akibat tekanan yang dialami.

Segera bicarakan kondisi ini dengan orang tua, guru, konselor, atau psikolog agar mendapat pendampingan yang tepat.

FAQ Cancel Culture dan Tekanan Psikologis

  • Apakah cancel culture selalu buruk?
    Tidak selalu. Dalam beberapa kasus, hal ini bisa mendorong akuntabilitas, namun sering kali dampaknya justru berlebihan dibanding kesalahan yang dilakukan.
  • Apakah wajar merasa takut melakukan kesalahan di media sosial?
    Wajar, tapi penting untuk tidak membiarkan rasa takut ini menghalangi dirimu menjadi diri sendiri.

Kesimpulan

Cancel culture dapat menimbulkan tekanan psikologis yang berat bagi remaja, baik sebagai sasaran maupun sebagai penyaksi. Dengan memahami dampaknya dan bersikap lebih bijak di media sosial, kamu bisa menjaga kesehatan mentalmu sekaligus menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat bagi semua orang.

Yuk, Cerita Bersama Peluk Diri
Kalau kamu sedang menghadapi tekanan akibat cancel culture atau merasa cemas soal penilaian orang lain, kamu tidak perlu menghadapinya sendirian. Kamu bisa unduh aplikasi konseling Peluk Diri untuk bercerita dengan teman sebaya yang siap mendengarkan tanpa menghakimi.

Jika kamu butuh pendampingan lebih terarah menghadapi situasi ini, kamu juga bisa mengakses layanan konseling online Peluk Diri untuk mendapat dukungan yang lebih sesuai kebutuhanmu. Kunjungi juga Peluk Diri untuk informasi kesehatan mental remaja lainnya.

Yuk, bercerita sekarang!


Tentang Peninjau


Tentang Peluk Diri