Mengapa Stigma Kesehatan Mental Masih Kuat di Masyarakat Indonesia?

Stigma kesehatan mental masih kuat di Indonesia karena gangguan mental sering dianggap aib, tanda lemah iman, atau kegilaan, bukan sebagai kondisi kesehatan yang wajar dialami siapa saja.

Menurut Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa, ketika remaja pernah mendengar komentar seperti ‘jangan cerita ke psikolog, nanti dibilang gila’ atau ‘yang sabar aja, jangan lebay’, komentar seperti ini adalah bentuk stigma yang membuat banyak orang, termasuk remaja, memilih diam daripada mencari bantuan. Stigma ini sering diwariskan tanpa disadari lewat cara keluarga membicarakan kondisi emosional dan merupakan hal yang perlu diperbaiki lewat edukasi mental kepada remaja dan orang tua.

Di artikel ini, kamu akan mempelajari akar stigma ini, dampaknya bagi remaja, dan cara mulai melawannya dari lingkungan terdekat.

Daftar Isi

Dari Mana Sebenarnya Stigma Kesehatan Mental Ini Berasal?

Stigma kesehatan mental di Indonesia berasal dari kombinasi kurangnya literasi, budaya, dan minimnya keterbukaan dalam keluarga.

  • Anggapan bahwa masalah emosional cukup diselesaikan dengan ‘diperbanyak ibadah’ saja.
  • Kekhawatiran keluarga dianggap gagal mendidik jika anaknya butuh bantuan psikologis.
  • Minimnya edukasi kesehatan mental sejak di bangku sekolah.
  • Pengaruh tontonan atau cerita yang menggambarkan gangguan jiwa secara berlebihan dan menakutkan.

Data yang dihimpun Suara USU dari RISKESDAS dan I-NAMHS menunjukkan bahwa individu dengan gejala depresi atau kecemasan sering dianggap ‘lemah’ atau ‘kurang iman’, sehingga banyak yang memilih menyembunyikan kondisinya daripada mencari bantuan.

Bagaimana Stigma Ini Muncul dalam Percakapan Sehari-Hari?

Stigma kesehatan mental sering muncul lewat candaan atau nasihat yang terdengar biasa saja, padahal menyakitkan bagi yang mengalaminya.

  • Menyebut orang yang sedang sedih atau cemas sebagai ‘baperan’ atau ‘kurang piknik’.
  • Menganggap konsultasi ke psikolog hanya untuk orang yang ‘benar-benar gila’.
  • Membandingkan masalah emosional seseorang dengan masalah orang lain yang dianggap lebih berat.
  • Menyarankan seseorang untuk ‘kuat-kuat aja’ tanpa mau mendengarkan cerita lebih jauh.

Pola bicara seperti ini membuat remaja ragu bercerita, meski sedang benar-benar kesulitan, karena takut dianggap berlebihan atau justru diejek oleh orang terdekatnya sendiri.

Apa Konsekuensi Stigma Ini bagi Remaja yang Membutuhkan Bantuan?

Konsekuensi stigma kesehatan mental bagi remaja terlihat dari keengganan mencari bantuan meski kondisinya sudah cukup berat. Faktanya, ada hanya ada 10,4% remaja depresi yang berobat karena stigma masih menahan mereka.

Penelitian di Gadjah Mada Journal of Psychology menemukan bahwa persepsi stigma publik berkontribusi menurunkan sikap remaja untuk mencari bantuan profesional psikologi, meski gangguan mental terus meningkat di Indonesia.

Akibatnya, banyak remaja memilih memendam masalah sendirian, yang justru bisa memperparah kondisi emosionalnya dalam jangka panjang. Semakin lama masalah dipendam tanpa penanganan yang tepat, semakin besar pula risiko dampaknya terhadap keseharian, prestasi, dan hubungan sosial remaja tersebut.

Bagaimana Kamu Bisa Mulai Melawan Stigma dari Lingkungan Terdekat?

Melawan stigma kesehatan mental bisa dimulai dari cara kamu berbicara dan bersikap di lingkungan terdekat.

  • Ganti candaan yang meremehkan kondisi emosional orang lain.
  • Dengarkan cerita teman tanpa langsung menghakimi atau membandingkan.
  • Bagikan informasi kesehatan mental yang akurat kepada keluarga dan teman.
  • Tunjukkan bahwa mencari bantuan profesional adalah langkah yang wajar, bukan aib.
  • Berikan dukungan nyata, bukan sekadar nasihat, kepada teman yang sedang berjuang.

Catatan dari Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa: “Perubahan kecil dalam cara bicara sehari-hari bisa membuat orang di sekitarmu merasa lebih aman untuk terbuka tanpa rasa takut dihakimi.“

Apa yang Bisa Dilakukan Keluarga agar Remaja Berani Bercerita?

Keluarga berperan besar dalam mengurangi stigma dengan menciptakan suasana rumah yang terbuka.

  1. Hindari menyalahkan atau meremehkan saat anak mulai bercerita tentang perasaannya.
  2. Tunjukkan bahwa mencari bantuan profesional bukan tanda kegagalan keluarga.
  3. Luangkan waktu rutin untuk mengobrol santai tanpa menunggu anak terlihat bermasalah.

Keluarga yang terbuka membuat remaja lebih berani bicara sebelum masalah kecil berkembang menjadi beban yang jauh lebih berat untuk dihadapi sendirian.

Baca juga: Tekanan Masuk PTN Buat Remaja Cemas: Ini Pemicu Di Baliknya

Catatan dari Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa: “Rumah yang aman untuk bercerita adalah pondasi utama remaja berani mencari bantuan sejak dini, sebelum masalah menjadi terlalu berat.“

FAQ Stigma Kesehatan Mental

  • Apakah pergi ke psikolog berarti kondisiku sudah parah?
    Tidak. Konsultasi ke psikolog bisa dilakukan sejak masalah masih ringan, sama seperti memeriksakan kesehatan fisik.
  • Bagaimana jika keluargaku masih percaya stigma lama?
    Kamu bisa mulai berbagi informasi secara perlahan, tanpa memaksa mereka berubah pikiran secara instan, misalnya lewat artikel, cerita nyata, atau obrolan santai sehari-hari.

Kesimpulan

Stigma kesehatan mental di Indonesia masih kuat karena minimnya literasi dan kebiasaan meremehkan kondisi emosional yang dianggap tabu dibicarakan secara terbuka. Dengan mengubah cara bicara, mendengarkan tanpa menghakimi, dan berbagi informasi yang akurat, kamu bisa membantu melawan stigma ini mulai dari lingkungan terdekatmu sendiri.

Yuk, Cerita Bersama Peluk Diri
Kalau kamu merasa ragu bercerita karena takut dihakimi atau dianggap berlebihan, kamu tidak perlu menghadapinya sendirian. Melalui aplikasi layanan konseling Peluk Diri, kamu bisa bercerita dengan teman sebaya yang siap mendengarkan tanpa menghakimi.

Ingin ddapatkan informasi lainnya? Kunjungi layanan konseling online Peluk Diri dan laman resmi pelukdiri.com. Yuk, bercerita sekarang!


Tentang Peninjau


Tentang Peluk Diri