Disosiasi Emosi pada Remaja: Apa Itu dan Bagaimana Tanda-Tandanya?

Disosiasi emosi pada remaja adalah kondisi ketika kamu merasa terputus dari pikiran, perasaan, atau tubuhmu sendiri, seolah sedang menonton kehidupanmu dari luar. Kondisi ini merupakan cara alami tubuh melindungi diri saat menghadapi tekanan yang terasa terlalu berat.

Menurut Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa, kamu mungkin pernah merasa seperti sedang berada di dalam mimpi, atau tiba-tiba tidak ingat apa yang baru terjadi setelah percakapan yang berat. Kondisi ini bisa terasa membingungkan, tetapi bukan berarti ada yang salah denganmu.

Di artikel ini, kamu akan mempelajari apa itu disosiasi emosi, tanda-tandanya, serta cara menghadapinya dengan sehat.

Daftar Isi

Apa Itu Disosiasi Emosi dan Kenapa Bisa Terjadi?

Disosiasi emosi adalah cara otak menciptakan jarak dari perasaan atau pengalaman yang terasa terlalu berat untuk dihadapi secara langsung.

Menurut artikel di The Conversation yang ditulis berdasarkan wawancara dengan remaja yang mengalami disosiasi, kondisi ini adalah cara otak melindungi diri dari stres atau emosi berlebihan, seperti mengambil jarak sejenak dari sesuatu yang terasa terlalu menyakitkan.

Apa Saja Tanda Kamu Sedang Mengalami Disosiasi?

Tanda kamu sedang mengalami disosiasi antara lain merasa terpisah dari diri sendiri, merasa mati rasa, dan kesulitan mengingat kejadian setelah momen yang penuh emosi.

Menurut Mission Prep Healthcare, berikut ini tanda disosiasi yang umum dialami remaja.

  • Merasa terpisah dari diri sendiri, seperti sedang melihat dirimu dari luar.
  • Merasa mati rasa atau tidak merasakan apa pun, meski situasinya seharusnya memicu emosi tertentu.
  • Merasa terputus dari tubuh sendiri, seperti gerakan tubuhmu terasa tidak sepenuhnya milikmu.
  • Merasa sekitarmu atau dirimu sendiri terasa tidak nyata.
  • Kesulitan mengingat percakapan atau kejadian, terutama setelah momen yang penuh emosi.

Bagi sebagian remaja, tanda ini muncul sebentar lalu hilang. Namun, kalau terjadi berulang kali dan mulai mengganggu keseharian, sebaiknya kamu memberi perhatian lebih pada kondisi ini.

Apa yang Biasanya Memicu Disosiasi pada Remaja?

Disosiasi biasanya dipicu oleh situasi yang membuatmu merasa kewalahan secara emosional, meski intensitas pemicunya berbeda pada tiap orang.

Misalnya, ada situasi yang mengingatkanmu pada pengalaman sulit atau menyakitkan sebelumnya, ada tekanan atau stres yang menumpuk dalam waktu lama tanpa jeda untuk pulih, atau ada percakapan dan konflik yang terasa terlalu berat untuk dihadapi secara langsung. Ini semua bisa memicu disosiasi pada remaja.

Mengenali pemicu-pemicu ini bisa membantumu lebih siap menghadapi situasi serupa, atau setidaknya memahami kenapa reaksi ini muncul.

Bagaimana Cara Menghadapi Disosiasi Saat Sedang Terjadi?

Kamu bisa menghadapi disosiasi saat sedang terjadi dengan menyentuh benda di sekitarmu, menyebutkan benda yang terlihat, dan menarik napas perlahan.

  • Sentuh permukaan di sekitarmu dan perhatikan teksturnya secara perlahan.
  • Sebutkan dalam hati lima benda yang bisa kamu lihat di sekitarmu.
  • Tarik napas secara perlahan dan perhatikan sensasi napas yang masuk dan keluar.
  • Minta seseorang yang kamu percaya untuk menemanimu hingga perasaan ini berlalu.

Langkah-langkah ini membantu otakmu perlahan kembali terhubung dengan tubuh dan lingkungan sekitar, tanpa harus memaksakan diri merasa baik-baik saja secara instan.

Catatan dari Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa: “Kamu tidak perlu terburu-buru kembali normal. Beri dirimu waktu, karena disosiasi juga butuh proses untuk mereda.”

Bagaimana Cara Mendukung Teman yang Sedang Mengalami Disosiasi?

Kamu bisa mendukung teman yang sedang mengalami disosiasi dengan tetap tenang, menanyakan kebutuhannya dengan lembut, dan tidak menghakimi reaksinya.

  • Tetap tenang dan hindari memanggil namanya secara berulang dengan nada tergesa-gesa.
  • Tanyakan dengan lembut apakah dia membutuhkan waktu sendiri atau ditemani.
  • Hindari menghakimi atau menganggap reaksinya berlebihan.

Kehadiranmu yang tenang dan sabar bisa sangat berarti bagi temanmu, meski kamu tidak melakukan hal besar apa pun.

Kapan Sebaiknya Meminta Bantuan Orang Dewasa?

Kamu sebaiknya mencari bantuan orang dewasa di sekitar ketika disosiasi terjadi cukup sering dan mengganggu keseharianmu.

Contohnya ketika disosiasi terjadi berulang kali dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama, ketika disosiasi mengganggu sekolah, pertemanan, dan aktivitas sehari-hari, atau ketika kamu mengalami kehilangan ingatan yang cukup sering, terutama setelah momen emosional.

Kalau tandanya sudah seperti ini, sebaiknya bicarakan kondisi ini dengan orang tua, guru, atau konselor agar kamu bisa mendapat pendampingan yang tepat.

FAQ Disosiasi Emosi pada Remaja

  • Apakah wajar mengalami disosiasi sesekali?
    Wajar. Banyak orang mengalami disosiasi ringan saat stres atau lelah.
  • Apakah disosiasi berarti aku memiliki gangguan jiwa yang serius?
    Tidak selalu. Disosiasi ringan adalah cara alami tubuh menghadapi stres.

Kesimpulan

Disosiasi emosi adalah cara alami tubuhmu melindungi diri saat menghadapi tekanan yang terlalu berat. Dengan mengenali tanda dan pemicunya, kamu bisa menghadapi kondisi ini dengan lebih tenang.

Yuk, Cerita Bersama Peluk Diri
Kalau kamu sering mengalami disosiasi, kamu tidak perlu menghadapinya sendirian.

Kamu bisa unduh aplikasi konseling online Peluk Diri untuk bercerita dengan teman sebaya, atau mengakses layanan konseling online Peluk Diri untuk pendampingan yang lebih terarah.

Kunjungi juga Peluk Diri untuk informasi kesehatan mental remaja lainnya. Yuk, bercerita sekarang!


Tentang Peninjau


Tentang Peluk Diri