34,9% Remaja Indonesia Alami Masalah Kesehatan Mental, Ini Peran Orang Tua untuk Deteksi Sejak Dini
Persoalan kesehatan mental remaja tidak hanya membutuhkan perhatian dari individu yang mengalaminya, tetapi juga dukungan aktif dari keluarga, dan kemampuan orang tua mengenali tanda-tanda awal menjadi salah satu kunci agar penanganan bisa dilakukan sedini mungkin sebelum kondisinya bertambah berat.
Peluk Diri melihat data ini sebagai pengingat bahwa peran orang tua bukan sekadar mengawasi, melainkan menciptakan ruang aman agar remaja merasa nyaman bercerita sebelum masalahnya berkembang lebih jauh dan sulit ditangani.
Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat, menjelaskan bahwa perubahan emosi pada remaja memang bagian dari proses tumbuh kembang, namun orang tua tetap harus mampu membedakan gejolak emosi yang wajar dengan kondisi yang sudah mengarah pada gangguan kesehatan mental. “Orang tua yang tepat adalah memberikan ruang bagi anak untuk mengalami, tetapi juga menunjukkan bahwa anytime kalau diperlukan siap mendukung dan tidak menghakimi,” jelasnya (Faizin, 2026).
Daftar Isi
- Seberapa Besar Masalah Kesehatan Mental yang Dialami Remaja Indonesia? >
- Apa Peran Orang Tua dalam Mengenali Tanda-Tanda Awal Masalah Kesehatan Mental? >
- Bagaimana Cara Membangun Komunikasi yang Membuat Anak Nyaman Bercerita? >
- Kapan Orang Tua Perlu Melibatkan Bantuan Profesional? >
- Kesimpulan >
Seberapa Besar Masalah Kesehatan Mental yang Dialami Remaja Indonesia?
Data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 menunjukkan bahwa 34,9 persen remaja Indonesia pernah mengalami masalah kesehatan mental setidaknya sekali dalam hidupnya.
Angka ini merupakan lifetime prevalence, yang berarti remaja tersebut pernah mengalami masalah kesehatan mental pada suatu titik dalam hidupnya, bukan berarti seluruh remaja mengalaminya secara bersamaan pada saat ini. Meski begitu, besarnya angka ini menunjukkan bahwa kesehatan mental remaja bukan isu yang bisa dianggap remeh oleh keluarga maupun lingkungan sekitar, dan perlu direspons dengan kesiapan yang memadai.
Apa Peran Orang Tua dalam Mengenali Tanda-Tanda Awal Masalah Kesehatan Mental?
Peran orang tua dalam mengenali tanda-tanda awal masalah kesehatan mental adalah memperhatikan perubahan perilaku anak secara saksama, bukan menginterogasi perasaannya secara terus-menerus.
- Anak terus mengurung diri di kamar selama beberapa hari tanpa alasan yang jelas.
- Kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai.
- Menunjukkan perubahan sikap yang sangat drastis dibanding biasanya.
- Menarik diri dari interaksi dengan keluarga maupun teman dekat.
Rahmat menekankan bahwa yang jauh lebih penting adalah menunjukkan empati dan kesiapan mendampingi, bukan terus-menerus menanyakan perasaan anak secara memaksa. Kehadiran orang tua bisa diwujudkan lewat komunikasi yang hangat, sehingga anak merasa nyaman membuka diri saat menghadapi tekanan psikologis.
Bagaimana Cara Membangun Komunikasi yang Membuat Anak Nyaman Bercerita?
Membangun komunikasi yang membuat anak nyaman bercerita bisa dilakukan dengan memberi ruang tanpa menghakimi, bukan dengan membiarkan anak menghadapi persoalannya seorang diri tanpa pendampingan.
“Membiarkan berbeda dengan memberi kesempatan, memberi ruang, memberi space,” kata Rahmat. Ia menambahkan bahwa stres sebenarnya bukan masalah, selama tidak berlebihan dan berkepanjangan. “Stres itu tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah stres yang berlebihan dan berkepanjangan sehingga melewati daya tahan tubuh fisik kita maupun psikologis kita. Kalau tanpa stres, orang tidak akan pernah berkembang,” ujarnya.
Selain keluarga, dukungan dari teman sebaya, sekolah, maupun kampus juga memiliki peran penting membantu remaja melewati masa-masa sulit, karena lingkungan yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi dapat membantu mengurangi tekanan psikologis yang dirasakan remaja sehari-hari.
Kapan Orang Tua Perlu Melibatkan Bantuan Profesional?
Orang tua perlu melibatkan bantuan profesional ketika perubahan perilaku anak sudah berlangsung cukup lama dan tidak membaik meski sudah dibangun komunikasi yang baik di rumah.
- Perubahan perilaku seperti mengurung diri atau kehilangan minat berlangsung berhari-hari tanpa perbaikan.
- Anak tetap enggan bercerita meski orang tua sudah menunjukkan kesiapan mendengarkan tanpa menghakimi.
- Kondisi emosional anak mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti sekolah atau pertemanan.
- Anak menunjukkan tanda putus asa atau kehilangan harapan terhadap masa depannya.
Rahmat turut mengingatkan bahwa skrining kesehatan mental di sekolah maupun kampus penting, tetapi tidak akan efektif tanpa pendampingan setelahnya. Ia berharap layanan pendampingan yang mudah diakses bisa semakin diperluas, sehingga deteksi dini benar-benar diikuti penanganan yang memadai.
Kesimpulan
Data 34,9 persen remaja Indonesia yang pernah mengalami masalah kesehatan mental menunjukkan bahwa peran orang tua dalam mengenali tanda-tanda awal sangat penting. Dengan memberi ruang tanpa menghakimi, membangun komunikasi yang hangat, dan tidak ragu melibatkan bantuan profesional saat dibutuhkan, orang tua bisa menjadi garis pertama deteksi dini yang membantu remaja melewati masa-masa sulitnya dengan lebih tenang.
Kalau kamu sedang merasa berat sendirian dan butuh teman bicara, kamu tidak perlu menghadapinya sendirian. Coba layanan konseling online remaja dari Peluk Diri untuk bercerita dengan aman. Kunjungi juga Peluk Diri untuk kenalan lebih jauh dengan layanan kami, atau unduh aplikasi layanan konseling remaja Peluk Diri supaya lebih mudah bercerita kapan pun kamu butuh.
Referensi
- Faizin, M. (2026, 2 Agustus). 34,9 persen remaja Indonesia alami masalah kesehatan mental, ini peran orang tua untuk deteksi sejak dini. Ketik.com. https://ketik.com/yogyakarta/kesehatan/349-persen-remaja-indonesia-alami-masalah-kesehatan-mental-ini-peran-orang-tua-untuk-deteksi-sejak-dini
Tentang Peninjau

Artikel ini disusun berdasarkan riset dan referensi terpercaya Peluk Diri. Seluruh artikel telah ditinjau oleh Kodariyah Nurhayat, S.Psi., M.Si., salah satu tim pakar Peluk Diri dengan latar belakang bidang psikologi dan kesehatan mental remaja.
Tentang Peluk Diri

Peluk Diri adalah platform kesehatan mental remaja di bawah PT Kita Orang Biasa yang memiliki konselor sebaya dan para psikolog profesional. Peluk Diri berfokus menyediakan dukungan emosional, edukasi psikologis, dan ruang bercerita bagi remaja usia 13โ18 tahun.
