Kenapa Persepsi Orang Tua dan Remaja soal Kesehatan Mental Bisa Berbeda Jauh, Menurut Riset Terbaru?

Grow Therapy, platform kesehatan mental yang menghubungkan pasien dengan terapis berlisensi dan bekerja sama dengan asuransi, merilis data terbaru sekaligus memperkenalkan Compass Parenting, kerangka baru yang mengubah peran orang tua dari penjaga gerbang menjadi pemandu bagi remaja dalam menghadapi tantangan emosional maupun dunia digital.

Peluk Diri melihat riset ini sebagai pengingat penting bahwa orang tua tidak bisa hanya menunggu anak bercerita lebih dulu, karena remaja yang paling membutuhkan dukungan justru sering kali yang paling jarang membuka diri kepada orang tuanya sendiri.

โ€œTujuan kita seharusnya membesarkan anak dengan cukup sumber daya emosional sehingga teknologi bukan menjadi tempat pelarian pertama dan satu-satunya,โ€ kata Jacinta Jimenez, Psy.D., penasihat klinis Grow Therapy. Ia menambahkan bahwa melindungi remaja dari setiap tantangan bukanlah hal yang realistis, sehingga membantu mereka menghadapinya lewat koneksi dan bimbingan menjadi strategi yang lebih berkelanjutan (Grow Therapy, 2026).

Daftar Isi

Apa Saja Temuan Utama dari Survei Grow Therapy dan Morning Consult Ini?

Temuan utama dari survei Grow Therapy dan Morning Consult menunjukkan kesenjangan yang cukup besar antara bagaimana orang tua menilai kondisi anaknya dan bagaimana remaja menilai kondisi dirinya sendiri.

  • Sebanyak 91% orang tua menilai kesehatan mental anaknya baik atau sangat baik, sementara hanya 54% remaja yang setuju dengan penilaian tersebut.
  • Sebanyak 59% remaja mengaku cenderung memendam kesulitan yang dialaminya seorang diri tanpa bercerita ke siapa pun.
  • Sebanyak 67% remaja memilih scrolling media sosial sebagai cara mengatasi tekanan, dibanding mencari dukungan profesional yang lebih tepat.

Survei ini melibatkan 500 orang tua dari anak usia 13-21 tahun dan 525 remaja usia 13-17 tahun, dilakukan secara daring pada 18-25 Juni 2026, dengan margin kesalahan sekitar 4 poin persentase (Grow Therapy, 2026).

Apa Itu Konsep Compass Parenting yang Diperkenalkan dalam Riset Ini?

Compass Parenting adalah kerangka yang mengubah peran orang tua dari penjaga gerbang yang mengendalikan setiap akses anak, menjadi pemandu yang membekali anak dengan regulasi emosi, kesadaran diri, dan akses pada dukungan profesional saat dibutuhkan, bukan sekadar membatasi screen time secara kaku.

Pendekatan ini muncul karena teknologi membuat kendali penuh orang tua atas apa yang dilihat dan dialami anak menjadi semakin terbatas, sehingga peran mengontrol secara ketat dinilai kurang efektif dibanding peran membimbing lewat koneksi dan pemahaman.

Apa Kesenjangan Antara Niat Remaja Mencari Bantuan dan Bantuan yang Benar-Benar Didapat?

Kesenjangan antara niat remaja mencari bantuan dan bantuan yang benar-benar didapat terlihat dari pola berbeda antara remaja dengan kesehatan mental baik dan yang sedang kesulitan menghadapi tekanan dalam hidupnya.

  • Remaja dengan kesehatan mental baik: hampir 50% bersedia bicara ke orang tua saat stres.
  • Remaja dengan kesehatan mental buruk: hanya 23% bersedia bicara ke orang tua, tapi 24% justru lebih memilih menemui terapis, dibanding 13% pada kelompok sebelumnya.

Menurut TipRanks (2026), hanya sekitar separuh remaja yang membutuhkan penanganan kesehatan mental yang benar-benar mengaksesnya, meski riset lain menunjukkan remaja yang bertahan mengikuti setidaknya tiga sesi terapi cenderung mengalami perbaikan gejala depresi dan kecemasan yang berarti.

Bagaimana Langkah Praktis Orang Tua Menerapkan Compass Parenting Ini?

Langkah praktis menerapkan Compass Parenting dirangkum Dr. Jimenez dalam tiga prinsip yang disebut GPS, sebagai panduan sederhana bagi orang tua membuka percakapan tanpa memaksa maupun terkesan menginterogasi anak.

  1. Get Curious: bertanya dengan rasa ingin tahu, alih-alih langsung berasumsi tentang kondisi anak sebelum diajak bicara.
  2. Partner, Not Police: membangun kerja sama dengan anak, bukan mengambil peran sebagai pengawas semata.
  3. Seek to Understand: berusaha memahami sudut pandang anak sebelum buru-buru memberi solusi atau penilaian.

Ketiga prinsip ini dirancang supaya orang tua bisa lebih dulu membuka pintu percakapan, karena remaja yang paling membutuhkan dukungan sering kali yang paling jarang memulainya sendiri tanpa didorong lebih dulu (Grow Therapy, 2026).

Kesimpulan

Riset Grow Therapy dan Morning Consult menunjukkan bahwa orang tua sering kali menilai kondisi mental anaknya lebih baik dari kenyataan yang dirasakan remaja itu sendiri. Lewat kerangka Compass Parenting dan prinsip GPS, orang tua didorong menjadi pemandu yang aktif membuka percakapan, alih-alih menunggu anak bercerita lebih dulu, terutama bagi remaja yang paling jarang berbicara namun paling membutuhkan dukungan dari orang terdekatnya.

Kalau kamu butuh teman bicara soal apa yang kamu rasakan, kamu tidak perlu menghadapinya sendirian. Coba aplikasi konseling online Peluk Diri untuk bercerita dengan aman, atau akses layanan konseling online Peluk Diri untuk pendampingan yang lebih terarah. Kunjungi juga Peluk Diri untuk informasi kesehatan mental remaja lainnya.

Referensi


Tentang Peninjau


Tentang Peluk Diri