‘Brain Rot’: Ketika Scroll Media Sosial Mengganggu Kesehatan Mental Remaja

Istilah ‘brain rot’ semakin ramai dipakai remaja untuk menggambarkan rasa otak lemot dan susah fokus setelah scroll media sosial berjam-jam tanpa sadar.

Peluk Diri melihat fenomena ini penting dibahas karena meski bukan diagnosis medis, keluhan di baliknya, seperti susah konsentrasi dan mudah bosan, nyata dirasakan banyak remaja. Kalau dibiarkan, kebiasaan ini bisa memengaruhi cara belajar, mood, dan hubungan sosial sehari-hari.

Pernah merasa membuka media sosial hanya lima menit, tapi tiba-tiba sudah satu jam berlalu? Menurut Sundari Mulyaningsih, dosen Universitas Alma Ata, fenomena ini sering dikaitkan dengan istilah brain rot, yaitu kondisi ketika seseorang terlalu banyak mengonsumsi konten digital yang cepat, berulang, dan minim nilai edukasi, sehingga memengaruhi kemampuan berkonsentrasi, berpikir kritis, dan mengelola waktu (Mulyaningsih, 2026).

Di artikel ini, kamu akan mempelajari apa itu brain rot, gejalanya, kaitannya dengan konsumsi video pendek, serta cara mengurangi kebiasaan scrolling tanpa henti.

Daftar Isi

Apa Itu Brain Rot dan Dari Mana Asalnya?

Brain rot bukan merupakan diagnosis medis, tapi istilah populer di media sosial yang menjadi simbol meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak penggunaan media digital secara berlebihan, terutama pada remaja. Istilah ini berkembang seiring maraknya fitur infinite scroll dan video berdurasi pendek yang dirancang untuk menarik perhatian pengguna selama mungkin.

Apa Gejala Brain Rot yang Sering Dirasakan Remaja?

Menurut dr. William Surya Atmadja, Sp.KJ dari RS EMC, istilah brain rot menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa lebih sulit berkonsentrasi, cepat bosan, dan kehilangan minat terhadap aktivitas yang memerlukan perhatian mendalam (Atmadja, 2026). Beberapa gejala yang umum dirasakan antara lain.

  • Perhatian menjadi terfragmentasi karena otak terlatih untuk selalu mencari hal baru.
  • Sulit memasuki kondisi fokus mendalam saat membaca, belajar, atau mengerjakan tugas besar.
  • Menurunnya toleransi terhadap kebosanan, sehingga aktivitas yang butuh kesabaran terasa kurang menarik.
  • Informasi yang dikonsumsi cepat dan dangkal jadi lebih mudah terlupakan.
  • Gangguan tidur akibat penggunaan layar hingga larut malam.

Bagaimana Kaitan Brain Rot dengan Konsumsi Video Berdurasi Pendek?

Video atau unggahan singkat memberikan imbalan yang cepat, baik berupa hiburan, informasi baru, maupun kejutan emosional, yang memicu pelepasan dopamin di otak. Pola ini membuat pengguna terdorong untuk terus menggulir dan mencari konten berikutnya. Ditambah lagi, algoritma platform digital dirancang mempelajari preferensi individu sehingga waktu penggunaan sering bertambah tanpa disadari.

Remaja yang terlalu lama menggunakan gawai juga cenderung mengalami berkurangnya aktivitas fisik, meningkatnya kecemasan akibat perbandingan sosial, hingga menurunnya kualitas interaksi dengan keluarga dan teman.

Bagaimana Cara Mengurangi Kebiasaan Scrolling Tanpa Henti?

Berikut beberapa langkah yang bisa dicoba untuk mencegah brain rot.

  1. Tetapkan batas waktu penggunaan media sosial lewat fitur Screen Time atau Digital Wellbeing.
  2. Berhenti sejenak setiap sekitar 20 menit scrolling untuk berdiri, berjalan, atau meregangkan tubuh.
  3. Seimbangkan hiburan dengan konten edukatif, seperti video pembelajaran atau podcast.
  4. Hindari penggunaan ponsel 30-60 menit sebelum tidur agar kualitas tidur tetap terjaga.
  5. Ganti sebagian waktu scrolling dengan aktivitas nyata, seperti olahraga, membaca, atau berkumpul bersama teman.

FAQ Brain Rot pada Remaja

  • Apakah brain rot termasuk diagnosis medis?
    Tidak. Brain rot bukan diagnosis medis, tapi istilah populer di media sosial yang menggambarkan dampak konsumsi konten digital berlebihan terhadap konsentrasi dan cara berpikir.
  • Apa yang menyebabkan seseorang terus scrolling tanpa sadar?
    Video atau unggahan singkat memberikan imbalan cepat berupa hiburan, informasi baru, atau kejutan emosional yang memicu pelepasan dopamin, ditambah algoritma platform yang mempelajari preferensi individu sehingga waktu penggunaan bertambah tanpa disadari.

Kesimpulan

Brain rot memang bukan diagnosis medis, tapi gejalanya, seperti susah fokus, mudah bosan, dan malas berpikir dalam, nyata dirasakan banyak remaja akibat kebiasaan scroll konten singkat tanpa henti. Teknologi bukanlah musuh, kuncinya ada pada bagaimana menggunakannya secara sadar dan seimbang, supaya kemampuan fokus dan kesehatan mental tetap terjaga.

Yuk, Cerita Bersama Peluk Diri
Kalau kamu merasa susah fokus, gampang bosan, atau kewalahan akibat kebiasaan scrolling yang sulit dihentikan, kamu nggak perlu menghadapinya sendirian. Coba layanan konseling online remaja dari Peluk Diri untuk bercerita dan mendapat dukungan yang tepat. Kunjungi juga Peluk Diri untuk kenalan lebih jauh dengan layanan kami, atau unduh aplikasi layanan konseling remaja Peluk Diri supaya lebih mudah bercerita kapan pun kamu butuh.

Referensi


Tentang Peninjau


Tentang Peluk Diri