Larangan Medsos Australia: 3 Bulan Berjalan, Riset Ungkap Mayoritas Remaja Masih Pakai
Australia jadi negara pertama di dunia yang resmi melarang anak di bawah 16 tahun memakai media sosial, tapi tiga bulan berjalan, riset terbaru menunjukkan mayoritas remaja di sana ternyata masih memakai platform yang dilarang.
Peluk Diri melihat temuan ini sebagai pengingat penting bahwa melarang akses saja belum tentu cukup untuk benar-benar melindungi kesehatan mental remaja di dunia digital, apalagi kalau tidak dibarengi perubahan pada algoritma dan cara platform itu sendiri bekerja.
Larangan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun di Australia resmi berlaku sejak 10 Desember 2025, menjadikannya negara pertama di dunia yang menerapkan kebijakan seperti ini. Namun, laporan terbaru dari regulator internet Australia, eSafety Commission, menemukan bahwa lebih dari 8 dari 10 remaja di bawah 16 tahun ternyata masih memakai media sosial meski sudah dilarang (ABC News, 2026).
Daftar Isi
- Seberapa Besar Angka Remaja yang Masih Menggunakan Medsos? >
- Kenapa Larangan Ini Sulit Benar-Benar Efektif? >
- Apakah Larangan Ini Sudah Terbukti Mengubah Kesehatan Mental Remaja? >
- Apa Pelajaran yang Bisa Diambil Indonesia dari Kasus Ini? >
- Kesimpulan >
Seberapa Besar Angka Remaja yang Masih Menggunakan Medsos?
Sebelum larangan berlaku, sekitar 86 persen anak yang disurvei mengaku memakai setidaknya satu platform yang kena aturan usia. Tiga bulan setelah larangan resmi diberlakukan, angka itu hanya turun tipis menjadi sekitar 81 persen. Sekitar 58 persen remaja bahkan mengaku tetap mengakses media sosial setiap hari atau lebih sering, hampir tidak berbeda jauh dari sekitar 60 persen sebelum larangan diterapkan.
Data ini menunjukkan bahwa larangan berbasis usia semata belum berhasil menghentikan kebiasaan digital remaja secara signifikan, meski niat awal kebijakan ini adalah melindungi mereka dari risiko kesehatan mental dan fisik akibat penggunaan media sosial berlebihan.
Kenapa Larangan Ini Sulit Benar-Benar Efektif?
Beberapa faktor membuat penerapan larangan usia di Australia menghadapi tantangan besar di lapangan.
- Remaja yang cukup melek teknologi bisa memakai VPN, memanipulasi foto untuk verifikasi usia lewat pemindaian wajah, atau pindah ke platform yang belum masuk daftar larangan.
- Platform game online tidak termasuk dalam cakupan larangan, sehingga sebagian remaja mengalihkan aktivitas sosialnya ke sana.
- Penegakan aturan di lapangan masih sulit dilakukan secara konsisten menjelang dan sesudah larangan mulai berlaku.
Peneliti kesejahteraan digital, Joanna Orlando, menjelaskan bahwa remaja yang cukup paham teknologi punya banyak cara untuk tetap mengakses media sosial meski dilarang. Menurutnya, penegakan aturan di lapangan terbukti sulit dilakukan secara konsisten (Shamim, 2026).
Apakah Larangan Ini Sudah Terbukti Mengubah Kesehatan Mental Remaja?
Survei awal yang dilakukan tiga bulan setelah larangan berlaku menunjukkan bahwa pola tidur dan kondisi kesehatan mental remaja belum menunjukkan perubahan berarti. Bahkan, lebih dari 65 persen remaja yang disurvei mengaku larangan ini tidak berdampak apa pun terhadap kondisi kesehatan mental mereka.
Sebuah studi lain dari Universitas Adelaide yang melibatkan lebih dari 100 ribu siswa justru menemukan hasil yang lebih rumit dari sekadar ‘medsos itu buruk’. Peneliti utama studi tersebut, Ben Singh, menjelaskan bahwa penggunaan media sosial dalam kadar sedang justru berkaitan dengan kesejahteraan yang lebih baik, sementara remaja laki-laki yang sama sekali tidak memakai media sosial di usia remaja pertengahan justru berisiko mengalami kesejahteraan yang lebih buruk (EurekAlert!, 2026). Menurutnya, hubungan antara media sosial dan kesejahteraan remaja bersifat kompleks dan berbeda-beda tergantung usia serta jenis kelamin, sehingga tidak bisa dilihat secara hitam putih.
Apa Pelajaran yang Bisa Diambil Indonesia dari Kasus Ini?
Indonesia sendiri sudah mulai menerapkan kebijakan serupa lewat PP TUNAS, yang antara lain mewajibkan penonaktifan akun anak di bawah 16 tahun pada platform berisiko tinggi. Pengalaman Australia menunjukkan bahwa kebijakan pembatasan usia saja belum cukup tanpa disertai penguatan pada sisi lain.
- Penegakan teknis di level platform, seperti verifikasi usia yang lebih sulit dimanipulasi, perlu terus diperkuat seiring berjalannya kebijakan.
- Edukasi literasi digital bagi remaja dan keluarga tetap penting, karena larangan semata tidak otomatis mengubah kebiasaan digital anak.
- Perbaikan pada algoritma dan fitur platform yang memicu kecanduan sama pentingnya dengan pembatasan akses berdasarkan usia.
- Pemantauan dampak kebijakan secara berkelanjutan diperlukan untuk melihat apakah tujuan awal, yaitu melindungi kesehatan mental remaja, benar-benar tercapai.
Kesimpulan
Tiga bulan setelah diberlakukan, larangan media sosial untuk remaja di bawah 16 tahun di Australia menunjukkan bahwa kebijakan berbasis usia saja belum cukup mengubah kebiasaan digital remaja secara signifikan. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia yang tengah menerapkan kebijakan serupa, bahwa perlindungan remaja di ruang digital perlu pendekatan yang lebih menyeluruh, tidak hanya soal usia, tapi juga literasi digital, penegakan teknis, dan perbaikan pada platform itu sendiri.
Kalau kamu merasa butuh teman bicara soal apa pun yang kamu alami, kamu nggak perlu menghadapinya sendirian. Coba layanan konseling online remaja dari Peluk Diri untuk bercerita dengan aman. Kunjungi juga Peluk Diri untuk kenalan lebih jauh dengan layanan kami, atau unduh aplikasi layanan konseling remaja Peluk Diri supaya lebih mudah bercerita kapan pun kamu butuh.
Referensi
- ABC News. (2026, 8 September). Most teens still on social media three months after under-16 ban began, study finds. https://www.abc.net.au/news/2026-07-31/most-australian-teens-still-on-social-media-after-ban/106983414
- Shamim, S. (2026, 3 Agustus). Australia’s under-16 social media ban failing, study shows: What it means. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/news/2026/8/3/australias-under-16-social-media-ban-failing-study-shows-what-it-means
- EurekAlert!. (2026, 23 April). Social media ‘sweet spot’ for Aussie teens. https://www.eurekalert.org/news-releases/1125614
Tentang Peninjau

Artikel ini disusun berdasarkan riset dan referensi terpercaya Peluk Diri. Seluruh artikel telah ditinjau oleh Kodariyah Nurhayat, S.Psi., M.Si., salah satu tim pakar Peluk Diri dengan latar belakang bidang psikologi dan kesehatan mental remaja.
Tentang Peluk Diri

Peluk Diri adalah platform kesehatan mental remaja di bawah PT Kita Orang Biasa yang memiliki konselor sebaya dan para psikolog profesional. Peluk Diri berfokus menyediakan dukungan emosional, edukasi psikologis, dan ruang bercerita bagi remaja usia 13โ18 tahun.
