Kenapa Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia Perlu Dibicarakan Secara Terbuka?
Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia perlu dibicarakan secara terbuka karena diamnya masyarakat soal topik ini justru membuat orang yang sedang berjuang merasa semakin sendirian, padahal keterbukaan dan kepedulian sederhana bisa jadi langkah awal yang menyelamatkan nyawa seseorang.
Menurut Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa, banyak orang masih ragu membicarakan topik ini karena takut dianggap tidak sopan atau malah memicu hal yang ditakutkan. Padahal, diam justru sering membuat orang yang membutuhkan bantuan merasa tidak ada tempat untuk bercerita. Ia menekankan bahwa keberanian untuk hadir dan mendengarkan adalah langkah kecil yang bisa berdampak besar.
Di artikel ini, kamu akan mempelajari tentang Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia, seberapa besar isu ini bagi remaja Indonesia, serta bagaimana kamu bisa ikut ambil bagian lewat kampanye #BeraniHadir.
Daftar Isi
- Apa Itu Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia dan Kapan Diperingati? >
- Seberapa Besar Isu Ini Terjadi pada Remaja Indonesia? >
- Kenapa Topik Ini Masih Sering Dianggap Tabu untuk Dibicarakan? >
- Apa Itu Kampanye #BeraniHadir dan Empat Pilar HADIR? >
- Kapan Sebaiknya Kamu atau Orang Sekitarmu Mencari Bantuan Segera? >
- Kesimpulan >
Apa Itu Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia dan Kapan Diperingati?
Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia adalah peringatan tahunan yang jatuh setiap 10 September, diinisiasi oleh International Association for Suicide Prevention bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk meningkatkan kesadaran global soal pencegahan bunuh diri.
Peringatan ini bukan tentang membicarakan kematian secara terbuka tanpa batas, melainkan tentang membangun kesadaran bahwa pencegahan itu mungkin dilakukan, terutama lewat kepedulian orang-orang terdekat yang mau memperhatikan, mendengarkan, dan hadir bagi yang membutuhkan dukungan.
Seberapa Besar Isu Ini Terjadi pada Remaja Indonesia?
Isu ini cukup besar terjadi pada remaja Indonesia, terlihat dari data yang menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, meski angka ini juga perlu dibaca sebagai potensi underreporting yang mulai lebih banyak terungkap seiring makin aktifnya skrining kesehatan mental.
- Persentase siswa usia 13-17 tahun yang pernah mencoba mengakhiri hidup meningkat dari 3,9% pada 2015 menjadi 10,7% pada 2023, menurut Global School-Based Student Health Survey.
- Skrining Cek Kesehatan Gratis Kemenkes 2025-2026 menemukan sekitar 363 ribu anak (4,8%) bergejala depresi dan 338 ribu anak (4,4%) bergejala cemas dari total 7 juta anak yang diperiksa.
Data GSHS ini dilaporkan oleh Kompas.id, yang juga mengingatkan bahwa peningkatan angka ini bukan berarti penyebabnya tunggal, melainkan hasil dari banyak faktor yang saling berkaitan, mulai dari tekanan akademik, hubungan sosial, hingga kondisi kesehatan mental yang tidak tertangani sejak awal.
Kenapa Topik Ini Masih Sering Dianggap Tabu untuk Dibicarakan?
Topik ini masih sering dianggap tabu karena banyak orang khawatir membicarakannya justru akan memicu pikiran tersebut pada orang lain, padahal penelitian menunjukkan hal sebaliknya.
Stigma ini justru membuat orang yang sedang berjuang merasa lebih terisolasi, karena mereka enggan bercerita akibat takut dihakimi atau dianggap berlebihan. Semakin topik ini dibungkam, semakin sulit pula orang di sekitarnya mengenali tanda-tanda bahaya sejak dini, sehingga kesempatan untuk membantu lebih awal pun ikut hilang.
Apa Itu Kampanye #BeraniHadir dan Empat Pilar HADIR?
Kampanye #BeraniHadir adalah gerakan dari Peluk Diri yang mengajak setiap orang untuk hadir bagi sesama tanpa harus punya semua jawaban, dibangun di atas empat pilar yang saling melengkapi.
- NOTICE: melatih kepekaan mengenali tanda-tanda seseorang sedang berjuang, termasuk yang terlihat baik-baik saja dari luar.
- LISTEN: membangun keberanian untuk bertanya dan mendengarkan tanpa menghakimi.
- STAY: menghadirkan diri secara konsisten bagi orang yang membutuhkan, meski tidak tahu harus berbuat apa.
- SEEK HELP: mendorong langkah mencari bantuan profesional saat dibutuhkan.
Sepanjang awal September ini, Peluk Diri akan menerbitkan rangkaian artikel yang membahas keempat pilar ini secara lebih dalam, mulai dari cara mengenali tanda bahaya, cara bertanya dengan aman, hingga cara mendukung tanpa merasa harus jadi ahli di bidang kesehatan mental.
Kapan Sebaiknya Kamu atau Orang Sekitarmu Mencari Bantuan Segera?
Kamu atau orang di sekitarmu sebaiknya segera mencari bantuan ketika muncul tanda putus asa yang mendalam, perubahan perilaku drastis, atau pernyataan langsung soal keinginan mengakhiri hidup, apa pun cara penyampaiannya.
Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal berada dalam kondisi darurat, segera hubungi layanan Hotline 119 ekstensi 8 dari Kementerian Kesehatan, atau hubungi Indonesia Sehat Jiwa melalui form https://s.id/formkonselinghotline atau nomor emergency response di WA 08113788898. untuk mendampingi situasi krisis kapan pun dibutuhkan.
Kesimpulan
Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia adalah pengingat bahwa keterbukaan dan kepedulian sederhana bisa menjadi langkah awal yang menyelamatkan, bukan sesuatu yang perlu terus dibungkam karena stigma. Lewat kampanye #BeraniHadir, Peluk Diri mengajak kamu untuk mulai belajar mengenali, mendengarkan, dan hadir bagi sesama, satu langkah kecil pada satu waktu.
Yuk, Cerita Bersama Peluk Diri
Kalau kamu atau orang di sekitarmu sedang berjuang, kamu tidak perlu menghadapinya sendirian. Kamu bisa unduh aplikasi konseling online Peluk Diri untuk bercerita dengan teman sebaya, atau mengakses layanan konseling online Peluk Diri untuk pendampingan yang lebih terarah.
Kunjungi juga Peluk Diri untuk informasi kesehatan mental remaja lainnya. Yuk, bercerita sekarang!
Tentang Peninjau

Artikel ini disusun berdasarkan riset dan referensi terpercaya Peluk Diri. Seluruh artikel telah ditinjau oleh Kodariyah Nurhayat, S.Psi., M.Si., salah satu tim pakar Peluk Diri dengan latar belakang bidang psikologi dan kesehatan mental remaja.
Tentang Peluk Diri

Peluk Diri adalah platform kesehatan mental remaja di bawah PT Kita Orang Biasa yang memiliki konselor sebaya dan para psikolog profesional. Peluk Diri berfokus menyediakan dukungan emosional, edukasi psikologis, dan ruang bercerita bagi remaja usia 13โ18 tahun.