Bagaimana Rasanya Bertahan Saat Merasa Ingin Menyerah dari Kehidupan Menurut Hanna?

Bertahan saat merasa ingin menyerah dari kehidupan dimulai dari keputusan kecil untuk tetap memegang kendali atas diri sendiri, meski di titik itu harapan terasa nyaris tidak ada, dan proses pulihnya berjalan pelan-pelan lewat dukungan orang terdekat serta keberanian mencari bantuan profesional.

Hanna (32), yang saat ini bekerja sebagai marketing strategik di sebuah startup kesehatan dan olahraga sekaligus menjalani co-parenting bersama mantan pasangannya, membagikan kisahnya sebagai bagian dari kampanye #BeraniHadir. Lima tahun lalu, ia melewati masa yang menurutnya menjadi titik terberat dalam hidupnya, ketika masalah keluarga besar datang bertubi-tubi di saat yang bersamaan ia dituntut untuk menjadi sosok dewasa yang stabil.

โ€œAku merasa kayak melalui sesuatu yang aku nggak pernah bayangkan sebelumnya. Tapi bertubi-tubi. Nggak satu kali datang aja, tapi kayak beruntutan datangnya,โ€ ujar Hanna.

Dari kisah ini, kamu akan mempelajari bagaimana Hanna memandang dirinya sekarang, seberapa dekat pikiran untuk mengakhiri hidup pernah menghampirinya, siapa yang berperan penting dalam proses pemulihannya, hingga saran yang ia bagikan agar kampanye kesehatan mental bisa terasa lebih dekat dengan remaja.

Daftar Isi

Bagaimana Hanna Melihat Dirinya Sekarang?

Hanna menggambarkan dirinya saat ini sebagai pribadi yang lebih utuh dibanding sebelumnya, meski ia menegaskan keutuhan itu bukan berarti sudah memiliki semua yang ia inginkan atau butuhkan.

โ€œAku sudah merasa menjadi pribadi yang komplit atau lebih utuh dari sebelumnya… karena di titik ini aku sudah punya keikhlasan, terus juga keberanian dan kecukupan secara batinnya yang kayaknya dulu aku nggak punya.โ€

Untuk sampai di titik ini, Hanna menyebut ada banyak perasaan, pemikiran, hingga keputusan besar yang harus ia lalui satu per satu, bukan dalam waktu singkat.

Apa yang Membuat Masa Lima Tahun Lalu Menjadi Titik Terberat bagi Hanna?

Masa terberat Hanna terjadi sekitar lima tahun lalu, saat ia menghadapi masalah keluarga besar sekaligus baru menjadi seorang ibu dari anaknya yang saat itu masih bayi. Ia menyebut periode itu sebagai waktu ketika ia dituntut memegang kendali penuh sebagai anak, sebagai pasangan, sekaligus sebagai ibu baru.

Tekanan itu datang bukan hanya sekali, melainkan beruntun dalam waktu yang berdekatan, di saat kondisi mental Hanna sendiri sedang berada di titik paling rentan.

โ€œSecara mental, menguras mental aku sih,โ€ katanya mengenang periode tersebut.

Apa yang Dirasakan dan Dipikirkan Hanna di Titik Paling Berat?

Hanna menggambarkan momen itu sebagai perasaan tidak yakin bisa melewati bahkan satu jam ke depan. Ia terus mempertanyakan kenapa hal seberat itu harus terjadi padanya, sesuatu yang menurutnya bahkan tidak pernah terlintas di pikirannya sebelumnya.

โ€œRasanya satu jam saja nggak mungkin gitu buat aku. Satu jam next dari masa itu kayaknya aku nggak bisa. Tapi ternyata bisa dihadapi.โ€

Ia juga sempat menceritakan bahwa kondisinya perlahan berkembang hingga memengaruhi kondisi fisiknya, yang kemudian membuatnya semakin menyadari bahwa apa yang ia rasakan bukan sekadar beban pikiran biasa yang akan hilang dengan sendirinya.

Sejauh Apa Pikiran untuk Mengakhiri Hidup Pernah Mendekat?

Hanna mengakui bahwa di titik paling puncak, pikiran untuk mengakhiri hidup memang sempat mendekat, meski awalnya ia enggan menamai perasaannya sendiri karena stigma yang melekat pada label tersebut.

โ€œAku dulu aku sebenarnya merasa nih, depresi, tapi memang awal-awal aku gak mau terlalu menamai diri aku sebagai orang yang suicidal… tapi padahal pas ada puncaknya itu memang ingin,โ€ ungkapnya jujur.

Ia menjelaskan bahwa keengganannya menamai perasaan itu muncul dari rasa tidak umum, seolah situasinya belum cukup berat untuk disebut sedemikian rupa, padahal pikiran tersebut nyata ia rasakan. Hanna menekankan bahwa banyak orang mengalami pergulatan serupa tanpa berani mengakui perasaannya secara terbuka, sebuah pola yang menurutnya perlu lebih banyak ruang untuk divalidasi tanpa dihakimi.

Apa yang Membuat Hanna Memilih untuk Tetap Bertahan?

Menurut Hanna, yang menariknya keluar dari titik itu justru kecintaannya pada kehidupan itu sendiri, meski di saat yang sama ia sempat merasa putus asa terhadap kehidupan itu sendiri.

โ€œYang narik aku dari kegagalan untuk hidup itu justru kehidupan itu sendiri. Jadi aku ingin sekali kasih makna dan cerita buat hidup aku.โ€

Orang tuanya turut berperan besar dengan mengajarkan Hanna untuk memandang ujian hidup bukan sebagai beban, melainkan sebagai proses yang membawanya menuju sesuatu yang lebih baik.

โ€œMereka melihatnya seperti, ya ini karena kita ingin naik ke atas… orang tuaku tuh udah kayak teamwork di hidup aku.โ€

Ia menambahkan bahwa mempertahankan kendali atas dirinya sendiri menjadi alasan ia tidak membiarkan hal-hal yang tidak terlihat perlahan menghancurkan dirinya.

Siapa yang Paling Hadir Mendukung Hanna Saat Itu?

Hanna menyebut mantan pasangannya dan orang tuanya sebagai sosok yang paling banyak membantu di masa itu, terutama karena mereka memvalidasi bahwa apa yang ia alami memang berat, tanpa menghakimi atau menyalahkannya.

โ€œMereka melihat ini adalah proses aku. Wajar kamu mengalami itu karena benang merahnya adalah hal-hal yang kamu lalui.โ€

Perasaan dimengerti dan divalidasi tanpa dihakimi inilah yang membuat Hanna merasa tidak sepenuhnya sendirian menghadapi kondisinya, meski proses pemulihannya sendiri tetap harus ia jalani perlahan.

Apa yang Akhirnya Membuat Hanna Mencari Bantuan Profesional?

Hanna memutuskan berkonsultasi dengan psikiater secara daring setelah menyadari kondisinya mulai menggerogoti dirinya secara fisik dan berdampak pada pekerjaan serta hubungan sosialnya.

โ€œAku gak mau hal-hal yang cuman ada di kepala aku itu berimpak ke hal-hal yang nyata di hidupku. Contohnya pekerjaan, terus relasi dan pertemanan, dan sosialisasi.โ€

Dari konsultasi tersebut, Hanna didiagnosis mengalami gangguan kecemasan. Ia bahkan sempat memantau siklus perasaannya sendiri, khususnya setelah memiliki anak, untuk mengenali pola yang mendekati gejala depresi pascamelahirkan.

โ€œAku jadi ngetrack aja sih tanggal-tanggalnya, itu kayaknya lebih aware aja.โ€

Mengetahui nama dari kondisi yang ia alami justru membuatnya merasa lebih lega karena bisa memahami dirinya dengan lebih jelas, alih-alih terus menebak-nebak apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri.

Apa Pelajaran Terbesar yang Hanna Bawa dari Pengalaman Ini?

Hanna menyadari bahwa omongan-omongan buruk tentang dirinya sendiri yang selama ini muncul di kepalanya sebenarnya tidak memiliki makna dan tidak benar.

โ€œAku selama ini selalu ada fase dimana aku sangat-sangat menyabotase diri aku dengan pikiran-pikiran yang gak benar.โ€

Ia belajar untuk melihat dirinya sebagai sosok yang cukup berani, cukup berharga, dan memaknai kehidupannya sendiri sebagai anugerah yang patut disyukuri, bukan sesuatu yang harus terus dipertanyakan keberadaannya.

Apa Saran Hanna agar Kampanye Kesehatan Mental Terasa Lebih Dekat dengan Remaja?

Hanna berpendapat bahwa banyak kampanye kesehatan mental saat ini langsung meloncat ke topik yang terasa berat seperti pencegahan bunuh diri, tanpa terlebih dahulu membangun ruang yang lebih ringan untuk mengenali perasaan sehari-hari.

โ€œKayaknya lebih pengen ada campaign yang lebih light, kamu gak harus namain itu langsung depresi, tapi kayak kita semua tau apa yang kamu rasain.โ€

Ia juga menyoroti bahwa masih sedikit pembahasan mengenai kondisi seperti gangguan disforik pramenstruasi (PMDD), yang menurutnya turut berkaitan dengan perubahan suasana hati dan peningkatan kecenderungan pikiran untuk mengakhiri hidup menjelang menstruasi, namun jarang dibahas sebagai bagian dari edukasi kesehatan mental remaja maupun dewasa muda.

Pesan Hanna untuk Kamu yang Sedang di Titik Serupa

Hanna berpesan bahwa meski di titik terberat rasanya seolah tidak ada cahaya sama sekali, melewati masa itu dengan lebih kuat justru bisa membawa seseorang melihat hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

โ€œKalau kamu hadapi itu, kamu lalui itu, kamu bahkan bisa ngeliat yang lebih beranugerah dibanding sebelumnya.โ€

Ia menutup kisahnya dengan sebuah pengakuan sederhana: โ€œSaya pernah mengalami masa sulit, dan sekarang saya justru lebih bersyukur pernah mengalaminya di hidup saya.โ€

Kalau kamu atau seseorang yang kamu kenal sedang berada dalam kondisi darurat, segera hubungi layanan Hotline 119 ekstensi 8 dari Kementerian Kesehatan, atau hubungi Indonesia Sehat Jiwa melalui form https://s.id/formkonselinghotline atau nomor emergency response di WA 08113788898 untuk mendampingi situasi krisis kapan pun dibutuhkan. Kamu juga bisa akses JakCare melalui aplikasi Jaki atau hubungi hotline 24 jam 0800-1500-119 untuk bantuan lainnya.

Yuk, Cerita Bersama Peluk Diri
Kalau kamu sedang melewati masa sulit dan butuh ruang untuk bercerita, kamu tidak perlu menghadapinya sendirian. Kamu bisa unduh aplikasi konseling online Peluk Diri untuk bercerita dengan konselor sebaya, atau mengakses layanan konseling online Peluk Diri untuk pendampingan yang lebih terarah.

Kunjungi juga Peluk Diri untuk informasi kesehatan mental remaja lainnya. Yuk, bercerita sekarang!

Referensi

  • Hanna. (2026, 4 September). Wawancara pribadi untuk kampanye #BeraniHadir [transkrip wawancara]. Peluk Diri.

Tentang Peninjau


Tentang Peluk Diri