Apa yang Sebaiknya dan Sebaiknya Tidak Dikatakan ke Orang yang Sedang Berjuang?

Kalimat yang kamu ucapkan kepada seseorang yang sedang berjuang bisa membuatnya merasa didengar, tetapi juga bisa terasa menyakitkan jika mengecilkan perasaannya. Cukup pilih kalimat yang menunjukkan bahwa kamu peduli dan bersedia mendengarkan.

Mungkin kamu pernah ingin membantu teman yang sedang sedih, tetapi bingung harus berkata apa. Takut salah bicara, akhirnya kamu memilih diam.

Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa, menekankan bahwa dukungan kepada remaja tidak selalu membutuhkan nasihat panjang. Mendengarkan tanpa menghakimi dapat menjadi dukungan yang berarti. Kita tidak harus memahami persis apa yang dirasakan orang lain untuk menunjukkan kepedulian. Yang penting adalah tidak mengecilkan perasaannya atau memaksakan solusi.

Lewat pilar LISTEN dalam #BeraniHadir, kamu bisa belajar bahwa hadir untuk seseorang kadang dimulai dari cara kamu memilih kata.

Daftar Isi

Kenapa Kata-Kata yang Kita Ucapkan Bisa Berpengaruh?

Kalimat seperti โ€œKamu harusnya bersyukurโ€ mungkin terdengar seperti nasihat biasa. Namun, bagi seseorang yang sedang berjuang, kalimat tersebut bisa membuat perasaannya terasa tidak valid. UNICEF menjelaskan bahwa mendengarkan secara aktif, tidak menghakimi, dan empatik dapat membantu remaja merasa didengar, dipahami, dan tidak sendirian.

Kalimat Apa yang Sebaiknya Tidak Kamu Katakan?

Hindari kalimat yang mengecilkan masalah, membandingkan pengalaman, atau membuat seseorang merasa harus mengatasi semuanya sendiri.

Sebaiknya tidak mengatakanCoba ganti dengan
โ€œKamu kurang bersyukur.โ€โ€œAku tahu ini terasa berat buat kamu.โ€
โ€œJangan dipikirin terus.โ€โ€œKalau kamu mau cerita, aku siap dengar.โ€
โ€œOrang lain lebih susah dari kamu.โ€โ€œAku mungkin tidak sepenuhnya memahami, tapi aku mau mendengarkan.โ€
โ€œKamu harus kuat.โ€โ€œKamu tidak harus menghadapi ini sendirian.โ€
โ€œSudah, jangan sedih.โ€โ€œTidak apa-apa kalau kamu sedang merasa sedih.โ€
โ€œKamu terlalu berlebihan.โ€โ€œPerasaanmu tetap penting untuk dibicarakan.โ€

Catatan dari Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa: โ€œJangan mengecilkan perasaan seseorang hanya karena kita tidak mengalami hal yang sama. Setiap orang punya kapasitas yang berbeda dalam menghadapi masalah.โ€

Lalu, Apa yang Sebaiknya Kamu Katakan?

Gunakan kalimat yang menunjukkan bahwa kamu hadir, tidak menghakimi, dan bersedia mendengarkan tanpa memaksa.

Contohnya:

  • โ€œAku ada kalau kamu mau cerita.โ€
  • โ€œMakasih sudah mau cerita ke aku.โ€
  • โ€œKedengarannya ini memang cukup berat buat kamu.โ€
  • โ€œKamu tidak harus menjelaskan semuanya sekarang.โ€
  • โ€œAku mungkin tidak punya semua jawabannya, tapi aku bisa menemanimu.โ€
  • โ€œKamu mau aku dengarkan saja atau kita cari bantuan bersama?โ€

Respons empatik dapat membantu percakapan tetap terbuka ketika seseorang membagikan perasaan yang sulit. UNICEF juga menyarankan untuk mendengarkan dengan penuh perhatian dan memberikan afirmasi ketika remaja berani mengungkapkan perasaannya.

Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa pernah menyampaikan, โ€œValidasi bukan berarti membenarkan semua hal. Validasi berarti mengakui bahwa perasaan mereka nyata dan layak didengarkan.โ€

Bagaimana Kalau Kamu Tidak Tahu Harus Menjawab Apa?

Kamu boleh jujur kalau tidak tahu harus berkata apa, selama tetap menunjukkan bahwa kamu bersedia mendengarkan.

Tidak semua cerita membutuhkan solusi langsung. Kamu bisa mengatakan, โ€œAku sebenarnya nggak tahu harus bilang apa, tapi aku mau dengerin kamu.โ€ Kalimat sederhana seperti ini bisa menjadi cara untuk tetap hadir dengan aman.

Apakah Kamu Harus Menyelesaikan Masalahnya?

Tidak. Peranmu bukan menyelesaikan semua masalah orang tersebut, tetapi menjadi seseorang yang membuatnya merasa tidak sendirian.

Kamu bisa mendengarkan atau membantu menghubungkannya dengan orang dewasa yang dipercaya, guru BK, konselor, maupun profesional kesehatan mental. WHO juga menyebut memiliki seseorang untuk diajak bicara ketika remaja menghadapi kekhawatiran atau masalah sebagai dukungan yang dapat berperan dalam kesehatan mental.

Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal sedang berada dalam kondisi darurat, segera hubungi Hotline 119 ekstensi 8 dari Kementerian Kesehatan, atau hubungi Indonesia Sehat Jiwa melalui form https://s.id/formkonselinghotline atau nomor emergency response di WA 08113788898 untuk mendampingi situasi krisis kapan pun dibutuhkan. Kamu juga bisa akses JakCare melalui aplikasi Jaki atau hubungi hotline 24 jam 0800-1500-119 untuk bantuan lainnya.

FAQ Seputar Kalimat untuk Orang yang Sedang Berjuang

  • Apakah memberi nasihat itu selalu salah?
    Tidak. Pastikan dulu apakah orang tersebut membutuhkan nasihat atau hanya ingin didengarkan.
  • Bagaimana kalau aku tidak sengaja mengatakan sesuatu yang salah?
    Kamu bisa mengakuinya, meminta maaf, lalu bertanya apa yang sebenarnya ia butuhkan.

Kesimpulan

Ketika seseorang sedang berjuang, kamu tidak membutuhkan kata-kata yang sempurna untuk bisa hadir. Hindari mengecilkan perasaannya, membandingkan masalahnya, atau memaksanya segera menjadi lebih baik. Sebaliknya, dengarkan, validasi, dan tunjukkan bahwa kamu bersedia menemani.

Lewat pilar LISTEN dalam gerakan #BeraniHadir, Peluk Diri mengajak kamu belajar mendengarkan tanpa menghakimi. Karena terkadang, kalimat sederhana seperti โ€œAku ada di sini kalau kamu mau ceritaโ€ sudah cukup untuk membuat seseorang merasa tidak sendirian.

Yuk, Cerita Bersama Peluk Diri
Kalau kamu atau orang di sekitarmu sedang berjuang, kamu tidak perlu menghadapinya sendirian. Kamu bisa unduh aplikasi konseling online Peluk Diri untuk bercerita dengan teman sebaya, atau mengakses layanan konseling online Peluk Diri untuk pendampingan yang lebih terarah.

Kunjungi juga Peluk Diri untuk informasi kesehatan mental remaja lainnya. Yuk, bercerita sekarang!


Tentang Peninjau


Tentang Peluk Diri