Apakah Kamu Masih Takut Bertemu Konselor? Ini yang Sebenarnya Terjadi Saat Konseling
Takut bertemu konselor untuk pertama kali itu wajar, terutama kalau kamu belum pernah membicarakan hal pribadi dengan orang yang belum kamu kenal. Konseling bukan ujian, tetapi ruang untuk memahami apa yang sedang kamu alami dan membicarakan dukungan yang mungkin kamu butuhkan.
Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa, menekankan bahwa remaja membutuhkan ruang aman untuk berbicara ketika menghadapi hal yang terasa sulit. Menurutnya, stigma sering membuat seseorang merasa harus menunggu sampai masalahnya sangat berat sebelum mencari bantuan. Padahal, mengenali kebutuhan untuk didengar merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Mencari bantuan juga tidak berarti seseorang gagal menghadapi hidupnya.
Karena itu, meminta bantuan boleh menjadi langkah awal, bukan pilihan terakhir. Di artikel ini kamu akan tahu apa sih yang sebenarnya dilakukan dalam kegiatan konseling.
Daftar Isi
- Kenapa Kamu Bisa Takut Datang ke Konselor? >
- Apa yang Biasanya Terjadi pada Sesi Pertama? >
- Apakah Kamu Harus Langsung Cerita Semuanya? >
- Apa yang Boleh Kamu Tanyakan kepada Konselor? >
- Apakah Konseling Berarti Kamu Punya Gangguan Mental? >
- FAQ Seputar Konseling Pertama >
- Kesimpulan >
Kenapa Kamu Bisa Takut Datang ke Konselor?
Kamu bisa merasa takut karena belum tahu bagaimana proses konseling berlangsung dan khawatir akan dinilai. Stigma dapat menjadi penghalang remaja untuk mencari bantuan. WHO dan UNICEF mencatat bahwa stigma termasuk salah satu hambatan akses dukungan kesehatan mental.
Rasa takut tersebut tidak berarti kamu tidak membutuhkan bantuan. Kadang, kamu hanya belum tahu seperti apa pengalaman yang akan dijalani.
Catatan dari Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa: โTakut mencari bantuan adalah hal yang wajar. Yang penting, jangan biarkan rasa takut membuatmu merasa harus menghadapi semuanya sendirian.โ
Apa yang Biasanya Terjadi pada Sesi Pertama?
Pada sesi pertama, kamu biasanya mulai dengan membicarakan alasan ingin mendapatkan bantuan, apa yang sedang kamu rasakan, dan hal yang ingin kamu pahami atau ubah.
Kamu mungkin akan:
- membahas situasi yang sedang mengganggu pikiran atau keseharianmu;
- menjawab pertanyaan untuk membantu konselor memahami keadaanmu;
- membicarakan kebutuhan dan hal yang ingin kamu capai selama pendampingan.
Kamu tidak harus menceritakan seluruh hidupmu dalam satu pertemuan. NIMH menjelaskan bahwa evaluasi dapat membantu menentukan dukungan yang sesuai.
Apakah Kamu Harus Langsung Cerita Semuanya?
Tidak. Kamu boleh membuka cerita secara bertahap dan mengatakan ketika ada bagian yang belum siap kamu bicarakan.
Kalau bingung memulai, kamu bisa mengatakan, โAku sebenarnya nggak tahu harus cerita dari mana.โ NIMH menyarankan menyiapkan pertanyaan atau kekhawatiran sebelum bertemu tenaga kesehatan mental agar percakapan lebih terarah.
Kamu juga boleh memberi tahu konselor kalau ada hal tertentu yang membuatmu tidak nyaman. Dengan begitu, konselor bisa memahami batasanmu dan menyesuaikan percakapan.
Apa yang Boleh Kamu Tanyakan kepada Konselor?
Kamu berhak memahami proses yang akan kamu jalani. Kamu bisa bertanya:
- โSesi ini akan berlangsung seperti apa?โ
- โApa yang bisa aku ceritakan kalau aku masih bingung?โ
- โApa yang akan terjadi setelah sesi ini?โ
- โBagaimana privasi dan kerahasiaan ceritaku dijaga?โ
- โKalau aku merasa tidak cocok, apa yang bisa aku lakukan?โ
Rasa percaya dan kenyamanan dengan profesional juga penting dalam proses terapi.
Apakah Konseling Berarti Kamu Punya Gangguan Mental?
Tidak. Mencari konseling tidak otomatis berarti kamu memiliki gangguan mental. Kamu bisa mencari ruang untuk membicarakan tekanan, hubungan, emosi, atau hal yang sulit kamu pahami.
Peluk Diri hadir sebagai ruang aman pertama bagi remaja untuk bercerita dan didengarkan. Konselor sebaya Peluk Diri berperan dalam active listening, validasi emosi, psiko-edukasi, dan membantu mengurai masalah, tetapi tidak melakukan diagnosis atau terapi klinis. Jika ditemukan kebutuhan yang lebih berat, terdapat rujukan kepada psikolog profesional.
Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal sedang berada dalam kondisi darurat, segera hubungi Hotline 119 ekstensi 8 dari Kementerian Kesehatan, atau hubungi Indonesia Sehat Jiwa melalui form https://s.id/formkonselinghotline atau nomor emergency response di WA 08113788898 untuk mendampingi situasi krisis kapan pun dibutuhkan. Kamu juga bisa akses JakCare melalui aplikasi Jaki atau hubungi hotline 24 jam 0800-1500-119 untuk bantuan lainnya.
FAQ Seputar Konseling Pertama
Kesimpulan
Takut bertemu konselor untuk pertama kali bukan berarti kamu tidak membutuhkan bantuan. Kamu tidak harus membawa cerita yang sempurna atau mengetahui semua jawabannya. Mulailah dari hal yang paling mampu kamu ceritakan dan tanyakan apa pun yang ingin kamu pahami.
Lewat pilar SEEK HELP dalam gerakan #BeraniHadir, Peluk Diri mengajak kamu melihat mencari bantuan sebagai langkah yang wajar ketika kamu membutuhkannya. Kamu tidak harus menunggu semuanya terasa berat untuk mencari ruang yang aman dan lebih tenang.
Yuk, Cerita Bersama Peluk Diri
Kalau kamu atau orang di sekitarmu sedang berjuang, kamu tidak perlu menghadapinya sendirian. Kamu bisa unduh aplikasi konseling online Peluk Diri untuk bercerita dengan teman sebaya, atau mengakses layanan konseling online Peluk Diri untuk pendampingan yang lebih terarah.
Kunjungi juga Peluk Diri untuk informasi kesehatan mental remaja lainnya. Yuk, bercerita sekarang!
Tentang Peninjau

Artikel ini disusun berdasarkan riset dan referensi terpercaya Peluk Diri. Seluruh artikel telah ditinjau oleh Kodariyah Nurhayat, S.Psi., M.Si., salah satu tim pakar Peluk Diri dengan latar belakang bidang psikologi dan kesehatan mental remaja.
Tentang Peluk Diri

Peluk Diri adalah platform kesehatan mental remaja di bawah PT Kita Orang Biasa yang memiliki konselor sebaya dan para psikolog profesional. Peluk Diri berfokus menyediakan dukungan emosional, edukasi psikologis, dan ruang bercerita bagi remaja usia 13โ18 tahun.