Tekanan Masuk PTN Buat Remaja Cemas, Psikolog Ungkap Pemicu Utamanya

Musim seleksi masuk perguruan tinggi negeri, mulai dari UTBK SNBT hingga jalur mandiri, kerap menjadi salah satu periode paling menekan dalam hidup seorang remaja. Ini sejalan dengan tekanan yang dialami remaja menjelang masuk PTN dan indikasi remaja punya masalah mental.

Peluk Diri melihat momen ini sebagai salah satu titik rawan yang butuh perhatian lebih, karena tekanan untuk lolos PTN impian sering membuat remaja memaksakan diri secara berlebihan, sampai lupa menjaga kesehatan fisik dan mentalnya sendiri. Penting bagi remaja untuk tahu bahwa cemas menjelang ujian besar itu wajar, asal tidak dibiarkan berubah jadi tekanan yang merusak.

Survei I-NAMHS mencatat bahwa 34,9 persen remaja Indonesia mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental, dan tekanan akademik termasuk persiapan menghadapi ujian seleksi menjadi salah satu pemicu yang sering disebut. Fenomena ini juga terlihat nyata pada peserta UTBK SNBT 2026, yang mengaku tetap merasa cemas meski sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari.

Baca juga: Perbedaan Stres Normal vs Mental Illness pada Remaja

Daftar Isi

Bagaimana Remaja Menceritakan Tekanan Menjelang UTBK?

Melkior Natanael, salah satu peserta UTBK di Universitas Brawijaya, mengaku sempat merasa optimis selama masa persiapan. Namun, rasa cemas datang menjelang hari ujian. “Setelah melihat hasil tryout, saya menjadi gelisah karena kurang puas dengan hasilnya. Hal ini membuat saya semakin memaksa diri untuk lebih rajin belajar,” ujarnya (Kompas.com, 2026).

Peserta lain, Fika, mengaku kecemasannya tidak berhenti bahkan setelah ujian selesai karena masih menaruh harapan besar untuk lolos di program studi pilihannya. Cerita keduanya menggambarkan bahwa tekanan menjelang seleksi PTN bukan sekadar rasa gugup biasa, melainkan bisa berlanjut jauh sebelum dan sesudah ujian berlangsung.

Apa Pemicu Utama Kecemasan Menjelang Seleksi PTN?

Dosen Psikologi FISIP Universitas Brawijaya, Dr. Sumi Lestari, menjelaskan bahwa stres yang dialami peserta UTBK adalah hal yang wajar karena sejalan dengan ambisi kuat untuk mencapai impian. “UTBK dipersepsikan sebagai gerbang utama menuju perguruan tinggi impian serta menjadi parameter kesuksesan. Maka dari itu, peserta akan memberi upaya maksimal yang cenderung berpotensi menjadi sumber tekanan,” ujarnya.

Sumi menjelaskan bahwa ada dua jenis stres dalam ilmu psikologi, yaitu eustress yang bersifat membangun dan distress yang bersifat merusak. Stres yang membangun justru mendorong remaja untuk mempersiapkan diri lebih matang. Namun, stres dan anxiety attack yang merusak dapat memicu kecenderungan merendahkan diri sendiri dan terus membandingkan diri dengan orang lain tanpa berpikir realistis.

Baca juga: Perfectionism Trap dalam Sistem Penilaian Sekolah

Apa Gejala Kecemasan dan Gangguan Tidur yang Perlu Diwaspadai?

Beberapa gejala yang sering muncul akibat tekanan akademik berlebihan menjelang ujian besar antara lain.

  • Sulit tidur atau pola tidur yang berantakan menjelang ujian.
  • Rasa gelisah yang muncul terus-menerus meski sudah belajar maksimal.
  • Lupa menjaga waktu makan dan istirahat karena terlalu fokus belajar.
  • Kecenderungan membandingkan diri dengan teman atau peserta lain.
  • Kecemasan yang tetap muncul bahkan setelah ujian selesai.

Menurut Sumi, ketika stres sudah bersifat kontraproduktif, seorang remaja bisa memforsir diri untuk belajar tapi justru melupakan kebutuhan dasar dirinya sendiri, seperti waktu makan dan istirahat yang cukup.

Bagaimana Cara Mengelola Tekanan Ujian Secara Sehat?

Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM mengingatkan bahwa setiap remaja memiliki cara berbeda dalam merespons tekanan, dan itu semua wajar. Psikolog Nurul Kusuma Hidayati dari CPMH UGM menekankan pentingnya memberi jeda sebelum bereaksi terhadap tekanan. “Di antara apa yang terjadi kepada kita dan bagaimana kita meresponsnya, ada sebuah jeda. Di dalam jeda itu, tersimpan kebebasan untuk memilih akan seperti apa respons kita,” ujarnya (CPMH UGM, 2026).

Dengan memberi jeda sebelum bereaksi, remaja bisa mengambil keputusan yang lebih bijaksana dan sehat secara emosional, alih-alih terus memaksakan diri belajar tanpa henti. Penting juga untuk diingat bahwa mencari bantuan, baik ke teman, keluarga, maupun konselor, adalah langkah yang wajar dan penting dalam menjaga kesehatan mental menjelang ujian besar.

Kesimpulan

Tekanan menjelang seleksi masuk PTN adalah hal yang wajar dialami banyak remaja, tapi bisa berubah merusak jika dibiarkan tanpa pengelolaan yang tepat. Mengenali jenis stres yang dialami, memberi jeda sebelum bereaksi, dan tidak ragu mencari dukungan adalah langkah penting supaya remaja tetap sehat secara mental sekaligus siap menghadapi ujian.

Coba layanan konseling online remaja dari Peluk Diri untuk bercerita dengan aman. Kunjungi juga Peluk Diri untuk kenalan lebih jauh dengan layanan kami, atau unduh aplikasi layanan konseling remaja Peluk Diri supaya lebih mudah bercerita kapan pun kamu butuh.

Referensi