Apa Itu Cyberbullying dan Bagaimana Cara Menghadapinya?
Cyberbullying adalah tindakan menyakiti, mengintimidasi, atau mempermalukan seseorang lewat media digital, seperti media sosial, pesan singkat, atau platform daring lainnya. Kamu mungkin pernah menerima komentar jahat, pesan mengancam, atau menjadi bahan olok-olok di grup chat tanpa tahu harus berbuat apa. Jika terjadi seperti ini, kamu perlu meminta bantuan orang dewasa di sekitarmu.
Menurut Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa, cyberbullying bisa terasa lebih berat karena bisa terjadi kapan saja, bahkan saat kamu berada di rumah yang seharusnya aman. Ia menekankan bahwa cyberbullying tetap serius meski hanya terjadi lewat layar, bukan tatap muka langsung.
Di artikel ini, kamu akan mempelajari bentuk, dampak, serta cara menghadapi cyberbullying dengan tepat.
Baca juga: Kemenkes: Saka Bakti Husada Jadi Mitra Strategis Cegah Cyberbullying pada Remaja
Daftar Isi
- Apa Saja Bentuk Cyberbullying yang Sering Terjadi pada Remaja? >
- Mengapa Cyberbullying Bisa Terasa Lebih Berat dari Bullying Biasa? >
- Apa Dampak Cyberbullying yang Perlu Kamu Waspadai? >
- Bagaimana Cara Melindungi Diri dari Cyberbullying? >
- Apa Dasar Hukum yang Melindungi Korban Cyberbullying di Indonesia? >
- Bagaimana Jika Kamu Melihat Orang Lain Mengalami Cyberbullying? >
- FAQ Cyberbullying >
- Kesimpulan >
Apa Saja Bentuk Cyberbullying yang Sering Terjadi pada Remaja?
Cyberbullying bisa muncul dalam berbagai bentuk yang kadang sulit dikenali sebagai bentuk kekerasan.
Bentuk lain yang juga perlu diwaspadai adalah online harassment secara lebih luas, mulai dari pelecehan verbal sampai stalking digital. Pelajari lebih lanjut soal online harassment di sini.
Mengapa Cyberbullying Bisa Terasa Lebih Berat dari Bullying Biasa?
Cyberbullying bisa terasa lebih berat karena jangkauannya luas dan sulit dihindari, bahkan di ruang yang biasanya terasa aman.
Tinjauan dalam PMC menemukan bahwa cyberbullying berkaitan erat dengan meningkatnya risiko depresi, kecemasan, rasa kesepian, dan menurunnya rasa percaya diri pada remaja yang mengalaminya.
Berbeda dari bullying tatap muka, jejak digital juga membuat pesan atau komentar menyakitkan bisa terus dilihat berulang kali, bahkan lama setelah kejadian awal berlalu.
Pelaku cyberbullying juga sering merasa lebih berani karena tersembunyi di balik layar, sehingga komentar yang dilontarkan bisa jauh lebih kasar dibanding saat bertemu langsung.
Apa Dampak Cyberbullying yang Perlu Kamu Waspadai?
Dampak cyberbullying tidak hanya terasa saat kejadian berlangsung, tapi juga bisa memengaruhi keseharianmu dalam waktu lama.
Tinjauan sistematis di MDPI (2026) turut mencatat bahwa gejala depresi dan kecemasan banyak ditemukan pada remaja yang menjadi korban cyberbullying, dengan proporsi yang cukup signifikan.
Dampak ini bisa terasa lebih berat jika korban merasa tidak ada tempat aman untuk bercerita, sehingga penting untuk segera mencari dukungan dari orang terdekat.
Bagaimana Cara Melindungi Diri dari Cyberbullying?
Cara melindungi diri dari cyberbullying dimulai dari menjaga jejak digital dan tidak ragu bertindak saat mengalaminya secara langsung.
- Simpan bukti berupa tangkapan layar sebelum memblokir pelaku.
- Blokir dan laporkan akun yang menyerangmu lewat fitur pelaporan platform.
- Batasi privasi akun agar tidak mudah diakses orang yang tidak dikenal.
- Ceritakan kejadian ini kepada orang tua, guru, atau orang dewasa yang kamu percaya.
- Hindari membalas dengan komentar serupa yang justru bisa memperpanjang konflik.
| Platform | Cara Melaporkan | Cara Memblokir |
|---|---|---|
| Tap titik tiga di postingan/pesan โ Laporkan | Buka profil pelaku โ Blokir | |
| TikTok | Tap ikon share pada video/komentar โ Laporkan | Buka profil pelaku โ Blokir |
| Buka chat โ Menu โ Laporkan Kontak | Buka chat โ Menu โ Blokir Kontak | |
| Tap titik tiga di postingan/komentar โ Laporkan | Buka profil pelaku โ Blokir |
Menjaga privasi digital sejak awal juga membantu mengurangi risiko jadi sasaran. Simak tips melindungi data pribadimu di dunia online.
Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa pernah menyampaikan, “Menyimpan bukti sebelum memblokir sangat penting, karena bisa membantu proses pelaporan jika dibutuhkan nanti.“
Apa Dasar Hukum yang Melindungi Korban Cyberbullying di Indonesia?
Cyberbullying yang mengarah ke ancaman, pencemaran nama baik, atau penyebaran konten pribadi tanpa izin bisa masuk ranah hukum lewat UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik). Beberapa bentuk pelanggaran yang sering terkait antara lain penyebaran konten yang merendahkan martabat seseorang secara elektronik, ancaman kekerasan lewat pesan digital, dan penyebaran foto atau video pribadi tanpa persetujuan.
Kalau kamu atau temanmu mengalami kondisi seperti ini, langkah pertama tetap sama, simpan bukti berupa tangkapan layar sebelum melapor ke orang dewasa atau pihak berwajib. Laporan resmi bisa dibantu lewat sekolah, orang tua, atau langsung ke kepolisian setempat.
Catatan: aturan dan pasal terkait bisa berubah atau punya penafsiran berbeda tergantung kasus, jadi untuk kasus serius sebaiknya tetap dikonsultasikan ke pihak berwenang atau bantuan hukum resmi, bukan hanya berdasar artikel ini.
Bagaimana Jika Kamu Melihat Orang Lain Mengalami Cyberbullying?
Kamu bisa berperan penting membantu korban cyberbullying meski tidak terlibat langsung dalam kejadian tersebut, hanya lewat sikap sederhana.
Catatan dari Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa: “Diam saat melihat cyberbullying bisa terasa aman, tapi sedikit dukungan darimu bisa sangat berarti bagi korban yang sedang kesulitan.”
Lebih Lengkap, baca di artikel Peluk Diri tentang Cara Melaporkan Cyberbullying Secara Aman.
FAQ Cyberbullying
Kesimpulan
Cyberbullying adalah bentuk kekerasan nyata yang berdampak serius pada kesehatan mental remaja meski terjadi lewat layar, bukan tatap muka langsung. Dengan mengenali bentuknya, melindungi diri, dan berani melapor, kamu bisa menghadapi cyberbullying dengan lebih aman dan tidak sendirian.
Yuk, Cerita Bersama Peluk Diri
Kalau kamu sedang mengalami cyberbullying atau melihat temanmu mengalaminya dan butuh tempat bercerita, kamu tidak perlu menghadapinya sendirian. kamu tidak perlu menghadapinya sendirian. Kamu bisa unduh aplikasi konseling online Peluk Diri untuk bercerita dengan teman sebaya yang siap mendengarkan tanpa menghakimi.
Jika kamu butuh pendampingan lebih terarah menghadapi cyberbullying, kamu juga bisa mengakses layanan konseling online Peluk Diri untuk mendapat dukungan yang lebih sesuai kebutuhanmu. Kunjungi juga laman resmi Peluk Diri untuk informasi kesehatan mental remaja lainnya.
Yuk, bercerita sekarang!
Tentang Peninjau

Artikel ini disusun berdasarkan riset dan referensi terpercaya Peluk Diri. Seluruh artikel telah ditinjau oleh Kodariyah Nurhayat, S.Psi., M.Si., salah satu tim pakar Peluk Diri dengan latar belakang bidang psikologi dan kesehatan mental remaja.
Tentang Peluk Diri

Peluk Diri adalah platform kesehatan mental remaja di bawah PT Kita Orang Biasa yang memiliki konselor sebaya dan para psikolog profesional. Peluk Diri berfokus menyediakan dukungan emosional, edukasi psikologis, dan ruang bercerita bagi remaja usia 13โ18 tahun.