Bullying pada Remaja: Dampaknya bagi Kesehatan Mental dan Cara Mencegahnya di Lingkungan Sekolah
Ada situasi ketika seseorang sengaja dijauhkan dari pergaulan, diabaikan, atau dijadikan bahan lelucon di depan teman-teman lain. Hal seperti ini sering terlihat sepele bagi sebagian orang, padahal bagi yang mengalaminya, perasaan yang muncul bisa sangat berat.
Di banyak lingkungan sekolah, cerita tentang ejekan, intimidasi, atau perlakuan tidak menyenangkan masih sering terdengar. Kadang terjadi di kelas, di halaman sekolah, bahkan di dunia digital. Perilaku seperti ini dikenal sebagai bullying.
Bagi sebagian remaja, pengalaman tersebut bisa meninggalkan luka emosional yang cukup dalam. Ada yang merasa takut datang ke sekolah, ada yang mulai menarik diri dari pergaulan, dan ada juga yang merasa harga dirinya menurun. Ini menunjukkan bahwa dampak bullying terhadap mental tidak bisa dianggap remeh.
Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa, menjelaskan bahwa pengalaman bullying sering meninggalkan dampak emosional yang cukup lama bagi remaja. Banyak korban merasa sendirian karena tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Beberapa dari mereka bahkan menganggap bahwa perlakuan tersebut adalah kesalahan mereka sendiri. Padahal bullying merupakan perilaku yang merugikan dan tidak pernah bisa dibenarkan. Ketika lingkungan sekitar mampu memberikan dukungan yang aman, korban bullying akan lebih mudah memulihkan kepercayaan diri mereka. Dukungan dari teman, guru, dan keluarga memiliki peran besar dalam membantu remaja keluar dari pengalaman tersebut.
Artikel ini akan membahas lebih jauh tentang bullying adalah apa sebenarnya, pengertian bullying, macam-macam bullying yang sering terjadi di kalangan remaja, mengapa bullying bisa terjadi, serta seperti apa dampak bullying bagi korban. Kami juga akan membahas cara mencegah bullying, cara mengatasi bullying, dan bagaimana remaja, orang tua, serta sekolah bisa bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih aman.
Baca juga: Kemenkes Gandeng Saka Bakti Husada Jadi Mitra Strategis Cegah Cyberbullying pada Remaja
Daftar Isi
- Apa Itu Bullying pada Remaja >
- Macam-Macam Bullying yang Sering Terjadi >
- Mengapa Bullying Bisa Terjadi di Kalangan Remaja >
- Dampak Bullying terhadap Kesehatan Mental Remaja >
- Tanda-Tanda Remaja Mengalami Bullying >
- Dampak Jangka Panjang Bullying >
- Cara Mengatasi dan Mencegah Bullying di Lingkungan Remaja >
- Pengingat Penting: Bullying Selalu Memberikan Dampak Negatif >
- Penutup >
Apa Itu Bullying pada Remaja
Kalau dijelaskan secara sederhana, bullying adalah perilaku yang dilakukan seseorang atau kelompok untuk menyakiti orang lain secara sengaja dan berulang. Perilaku ini biasanya melibatkan ketidakseimbangan kekuatan. Pelaku merasa memiliki kekuasaan lebih, sementara korban merasa sulit untuk melawan.
Dalam dunia pendidikan, pengertian bullying mencakup berbagai tindakan seperti mengejek, mengintimidasi, mempermalukan, mengucilkan, hingga melakukan kekerasan fisik atau digital. Bullying bisa terjadi dalam berbagai situasi:
- Di sekolah
- Di lingkungan pertemanan
- Dalam kegiatan ekstrakurikuler
- Melalui media sosial
Hal yang sering membuat bullying sulit dikenali adalah bentuknya yang kadang terlihat seperti bercanda. Padahal jika seseorang merasa terus disakiti, dipermalukan, atau dijadikan target, kondisi tersebut sudah termasuk perilaku bullying.
Menurut artikel dari Universitas Medan Sumatera Utara, bullying pada remaja dapat terjadi karena adanya ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban. Bentuk bullying tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga ejekan verbal, pengucilan sosial, hingga intimidasi psikologis yang dilakukan secara berulang.
Baca juga: Pelecehan Seksual Terhadap Korban Laki-Laki Sering Diabaikan, Ini Dampaknya
Macam-Macam Bullying yang Sering Terjadi
Bullying tidak selalu berbentuk kekerasan fisik. Banyak bentuk lain yang justru lebih sering terjadi dalam kehidupan remaja. Berikut macam-macam bullying yang umum terjadi:
A) Verbal Bullying
Verbal bullying adalah tindakan menyakiti orang lain melalui kata-kata. Contohnya:
- Mengejek penampilan seseorang
- Memanggil dengan julukan yang merendahkan
- Memaki kondisi ekonomi, keluarga, atau kekurangan seseorang
- Mempermalukan seseorang di depan teman-teman
Meskipun terlihat seperti ucapan biasa, kata-kata yang terus diulang dapat memberikan luka emosional yang dalam.
Baca juga: Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga terhadap Kesehatan Mental Remaja
B) Bullying Non Verbal atau Sosial
Bullying non verbal sering terjadi dalam bentuk pengucilan sosial. Beberapa contoh perilakunya antara lain:
- Sengaja tidak mengajak seseorang dalam kegiatan kelompok
- Menyebarkan rumor tentang seseorang
- Membuat orang lain dijauhi oleh teman-temannya
Jenis bullying ini sering membuat korban merasa sendirian dalam lingkungan sosialnya.
C) Cyber Bullying
Selain terjadi secara langsung, bullying juga bisa terjadi di dunia digital. Bentuk ini dikenal sebagai cyber bullying. Contohnya seperti:
- Komentar menghina di media sosial
- Menyebarkan foto memalukan (Online Harassment)
- Membuat akun palsu untuk mempermalukan seseorang
Karena terjadi di internet, cyber bullying sering lebih sulit dihindari. Kids Helpline juga membahas bahwa cyber bullying dapat terjadi melalui pesan, komentar media sosial, penyebaran foto, atau aktivitas online lain yang bertujuan mempermalukan seseorang. Karena terjadi di ruang digital yang terus aktif, korban cyber bullying sering merasa sulit menghindari tekanan tersebut.
Baca juga: Diskriminasi dalam Keluarga dan Pengaruhnya terhadap Kondisi Psikologis Remaja
Mengapa Bullying Bisa Terjadi di Kalangan Remaja
Banyak orang bertanya, mengapa bullying bisa terjadi di lingkungan remaja. Jawabannya tidak selalu sederhana. Ada faktor-faktor yang sering memengaruhi perilaku tersebut.
- Keinginan untuk merasa lebih kuat
Sebagian pelaku bullying merasa lebih berkuasa ketika dapat mengendalikan atau menakuti orang lain. - Pengaruh lingkungan pergaulan
Jika seseorang berada dalam lingkungan yang menganggap ejekan sebagai hal biasa, perilaku tersebut bisa dianggap wajar. - Kurangnya empati
Beberapa remaja mungkin belum sepenuhnya memahami bagaimana perasaan orang lain ketika diperlakukan tidak baik. - Pengalaman pribadi
Ada juga kasus ketika seseorang melakukan bullying karena pernah mengalami perlakuan serupa sebelumnya.
Catatan dari Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa: “Banyak pelaku bullying sebenarnya juga membawa luka emosional mereka sendiri. Hal ini tidak membenarkan perilaku tersebut, tetapi menunjukkan pentingnya membangun lingkungan yang lebih sehat secara emosional.“
Baca juga: Sibling Bullying: Dampaknya pada Kesehatan Mental Remaja
Dampak Bullying terhadap Kesehatan Mental Remaja
Pengalaman bullying sering meninggalkan bekas yang jauh lebih dalam daripada yang terlihat dari luar. Kata-kata yang menyakitkan, ejekan di depan teman, pesan jahat di media sosial, atau perlakuan yang merendahkan bisa terus teringat dalam pikiran seseorang.
Banyak remaja yang mengalami bullying akhirnya mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Mereka bisa merasa tidak cukup baik, tidak berharga, atau merasa berbeda dari orang lain. Lama-kelamaan, kondisi ini bisa memengaruhi kesehatan mental, kepercayaan diri, bahkan cara seseorang memandang masa depannya.
Dampak tersebut kadang tidak muncul secara langsung dan terjadi secara perlahan. Awalnya hanya merasa tidak nyaman di sekolah, lalu berkembang menjadi kecemasan, penurunan motivasi, hingga kelelahan emosional. Beberapa dampak bullying terhadap mental remaja yang paling sering terjadi antara lain:
1. Menurunnya Rasa Percaya Diri
Korban bullying sering menerima komentar negatif secara berulang. Jika terus terjadi, remaja bisa mulai mempercayai kata-kata tersebut. Mereka mungkin merasa tidak cukup pintar, tidak menarik, atau tidak pantas diterima di lingkungan sosial.
Akibatnya: Remaja menjadi lebih pendiam dan menarik diri, takut menyampaikan pendapat di kelas, ragu mencoba hal baru, dan sulit percaya pada kemampuan diri sendiri. Rasa percaya diri yang menurun bisa membuat remaja semakin sulit berkembang, baik secara sosial maupun akademik.
2. Munculnya Kecemasan Sosial
Bullying juga bisa membuat seseorang merasa tidak aman di lingkungan sosial. Remaja mungkin mulai berpikir bahwa orang lain akan menertawakan, menilai, atau menyakitinya lagi. Pikiran seperti ini memicu kecemasan sosial yang membuat seseorang merasa tidak nyaman ketika berada di sekitar orang lain. Beberapa tanda yang sering muncul:
- Takut pergi ke sekolah
- Menghindari kegiatan kelompok
- Merasa sangat gugup saat harus berbicara di depan orang lain
- Takut bertemu orang tertentu yang pernah melakukan bullying
Jika kondisi ini terus berlangsung, remaja bisa kehilangan kesempatan untuk membangun hubungan sosial yang sehat.
Baca juga: Kenapa Remaja Sering Overthinking dan Cemas? Penyebab & Cara Mengatasinya
3. Perasaan Sedih yang Berkepanjangan
Korban bullying sering merasakan kesedihan yang mendalam. Perasaan ini bisa muncul setiap kali mengingat pengalaman yang menyakitkan. Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat berkembang menjadi perasaan putus asa, kehilangan minat terhadap aktivitas yang dulu disukai, mudah menangis, dan juga bisa merasa sendirian walaupun berada di tengah banyak orang. Ketika perasaan tersebut berlangsung lama, risiko gangguan seperti depresi pada remaja bisa meningkat.
4. Penurunan Motivasi Belajar
Lingkungan sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman untuk belajar dan berkembang. Namun bagi korban bullying, kasus bullying di sekolah bisa membuat sekolah terasa seperti tempat yang menakutkan. Hal ini sering menyebabkan:
- Penurunan motivasi belajar
- Sulit berkonsentrasi saat pelajaran
- Nilai akademik menurun
- Keinginan untuk bolos sekolah
Remaja yang terus merasa tertekan akan kesulitan fokus pada pelajaran karena pikirannya dipenuhi kekhawatiran.
5. Kelelahan Emosional dan Stres Berkepanjangan
Bullying yang terjadi berulang kali bisa membuat seseorang merasa lelah secara emosional. Bayangkan harus menghadapi ejekan atau perlakuan tidak menyenangkan hampir setiap hari. Situasi seperti ini dapat memicu stres kronis yang berdampak pada kesehatan mental dan fisik, seperti sulit tidur, sering sakit kepala, kehilangan energi, dan merasa cepat lelah secara mental.
6. Perasaan Terisolasi dan Kesepian
Banyak korban bullying akhirnya memilih menarik diri dari lingkungan sosial. Mereka mungkin merasa lebih aman jika tidak terlalu dekat dengan orang lain. Sayangnya, keputusan ini sering membuat remaja merasa semakin kesepian. Tanda-tandanya bisa terlihat seperti:
- Lebih sering menyendiri
- Jarang berinteraksi dengan teman
- Tidak tertarik mengikuti kegiatan sosial
- Merasa tidak memiliki tempat untuk bercerita
Padahal, dukungan dari teman atau orang dewasa yang dipercaya sangat penting untuk membantu seseorang pulih dari pengalaman bullying.
7. Risiko Gangguan Kesehatan Mental yang Lebih Serius
Dalam situasi yang berat dan berlangsung lama, dampak bullying bagi korban dapat berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius. Beberapa diantaranya bisa berupa gangguan kecemasan, depresi, trauma psikologis, sampai tindakan ekstrem seperti pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Lebih lengkap tentang ini dibahas di artikel Peluk Diri tentang Tanda Bahaya dan Krisis Psikologis Remaja.
Inilah alasan mengapa bullying harus ditangani dengan serius. Pengalaman yang terlihat sederhana bagi sebagian orang bisa menjadi luka yang sangat berat bagi orang lain. Jika kamu atau orang di sekitarmu mengalami ini, layanan konseling online bisa menjadi langkah awal yang tepat.
Catatan dari Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa: “Pengalaman bullying sering membuat remaja merasa sendirian menghadapi masalahnya. Banyak yang memilih diam karena takut dianggap lemah atau takut situasinya menjadi lebih buruk. Padahal, memendam perasaan terlalu lama justru dapat memperberat tekanan emosional yang dirasakan. Berbicara dengan orang yang dipercaya dapat menjadi langkah awal untuk memulihkan diri. Dukungan dari lingkungan yang aman membantu remaja kembali merasa dihargai. Setiap remaja berhak tumbuh di lingkungan yang membuatnya merasa diterima dan dihormati.“
Tanda-Tanda Remaja Mengalami Bullying
Tidak semua remaja yang mengalami bullying langsung bercerita tentang apa yang mereka alami. Karena itu penting untuk mengenali tanda-tanda remaja mengalami bullying.
Raising Children Network menjelaskan bahwa remaja yang mengalami bullying dapat menunjukkan perubahan perilaku seperti menarik diri dari pergaulan, kehilangan kepercayaan diri, atau enggan pergi ke sekolah. Bullying juga dapat berdampak pada kesehatan mental remaja, termasuk meningkatkan risiko kecemasan dan stres emosional.
Beberapa tanda yang cukup sering terlihat antara lain:
Selain itu, beberapa remaja juga mulai:
Jika perubahan ini terjadi dalam waktu yang cukup lama, penting bagi orang di sekitarnya untuk memberikan perhatian.
Dampak Jangka Panjang Bullying
Pengalaman bullying yang tidak ditangani dapat meninggalkan dampak yang bertahan cukup lama. Beberapa dampak bullying bagi korban yang dapat muncul dalam jangka panjang antara lain:
Bullying yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan emosional remaja dalam jangka panjang. Korban bullying lebih berisiko mengalami kecemasan, perasaan rendah diri, hingga kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat. Maka dari itu, penting untuk remaja tahu bagaimana cara mengatasi dan mencegah bullying di lingkungan sekitar (sumber: Deconstructing Stigma).
Cara Mengatasi dan Mencegah Bullying di Lingkungan Remaja
Mencegah bullying membutuhkan kerja sama dari banyak pihak. Remaja, orang tua, dan sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman.
Peran remaja
Beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan oleh remaja antara lain:
- Tidak ikut menyebarkan ejekan atau rumor
- Berani membela teman yang menjadi korban
- Melaporkan kasus bullying kepada guru
Mungkin ada beberapa kasus dimana remaja malah memilih diam dengan sengaja, karena mereka merasa sudah ada yang bertindak duluan dan pasti ada yang bertindak duluan, sehingga mereka memilih tidak acuh. Ini disebut ‘Bystander Effect’. Lebih lengkapnya tentang bystander effect dapat dibaca di artikel Peluk Diri. Klik di sini.
Peran orang tua
Orang tua dapat membantu dengan cara:
- Membangun komunikasi yang terbuka dengan anak
- Mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi
- Memberikan dukungan emosional ketika anak menghadapi masalah sosial
Peran sekolah
Sekolah juga memiliki tanggung jawab penting dalam menangani kasus bullying di sekolah. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Membuat kebijakan anti bullying yang jelas
- Memberikan edukasi tentang empati dan respek
- Menerapkan hukuman untuk pelaku bullying sesuai aturan sekolah
Dalam beberapa kasus yang lebih serius, tindakan bullying juga dapat berkaitan dengan pasal bullying dalam hukum yang berlaku. Lebih lengkap, baca artikel Peluk Diri tentang Kapan Harus Melibatkan Orang Dewasa untuk Teman yang Dibully.
Nenden Esty Nurhayati, Founder PT Kita Orang Biasa pernah menyampaikan, “Lingkungan yang aman secara emosional adalah tempat dimana remaja bisa tumbuh tanpa rasa takut untuk menjadi diri mereka sendiri.“
Pengingat Penting: Bullying Selalu Memberikan Dampak Negatif
Bullying sering dianggap sebagai bagian dari dinamika pergaulan remaja. Namun sebenarnya perilaku ini tidak pernah memberikan dampak positif.
Perilaku bullying selalu meninggalkan dampak negatif. Bagi korban, bullying dapat menimbulkan rasa sakit emosional yang cukup dalam. Bagi pelaku, kebiasaan menyakiti orang lain juga dapat memengaruhi cara mereka membangun hubungan sosial di masa depan.
Karena itu penting bagi setiap orang untuk memahami bahwa bullying bukanlah bentuk bercanda yang sehat. Lingkungan yang saling menghargai jauh lebih membantu remaja berkembang dengan percaya diri.
Penutup: Mari Menciptakan Lingkungan yang Aman bagi Remaja
Lingkungan pertemanan yang sehat membantu remaja tumbuh dengan lebih percaya diri dan merasa diterima. Sebaliknya, pengalaman bullying dapat meninggalkan luka emosional yang tidak selalu terlihat.
Memahami pengertian bullying, mengenali macam-macam bullying, serta mengetahui cara mencegah bullying merupakan langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman.
Jika kamu pernah mengalami bullying atau melihat teman yang sedang mengalaminya, kamu tidak perlu menghadapi situasi tersebut sendirian.
Kamu bisa bercerita dan mencari dukungan melalui aplikasi konseling online dari Peluk Diri. Berbicara dengan seseorang yang memahami perasaanmu dapat membantu meringankan beban yang kamu rasakan. Kadang langkah kecil seperti berbagi cerita bisa menjadi awal dari proses pemulihan yang lebih baik.
Kunjungi juga Layanan Konseling Online Peluk Diri dan laman resmi Peluk diri di pelukdiri.com. Yuk bercerita sekarang!
Tentang Peninjau

Artikel ini disusun berdasarkan riset dan referensi terpercaya Peluk Diri. Seluruh artikel telah ditinjau oleh Kodariyah Nurhayat, S.Psi., M.Si., salah satu tim pakar Peluk Diri dengan latar belakang bidang psikologi dan kesehatan mental remaja.
Tentang Peluk Diri

Peluk Diri adalah platform kesehatan mental remaja di bawah PT Kita Orang Biasa yang memiliki konselor sebaya dan para psikolog profesional. Peluk Diri berfokus menyediakan dukungan emosional, edukasi psikologis, dan ruang bercerita bagi remaja usia 13โ18 tahun.